Karhutla Gunung Arjuno-Welirang Kembali Membara: Upaya Water Bombing Gagal Padam!
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Api di Gunung Arjuno-Welirang kembali menyala setelah dinyatakan padam pada 21 Agustus.
- Tim gabungan mengerahkan helikopter PK-DAP untuk water bombing, menurunkan 8.000 liter air dalam delapan sortie.
- Cuaca tak menentu menghambat pemadaman, sementara 146,85 hektare hutan, terutama cemara gunung, terbakar.
Gunung Arjuno-Welirang kembali menjadi sorotan setelah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sempat dipadamkan pada 21 Agustus menyala kembali pada Selasa, 25 Agustus. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, memantau situasi dari helikopter dan mengonfirmasi bahwa dua titik api masih berkobar di lereng bawah puncak.
Menurut Gatot, perubahan cuaca di kawasan pegunungan menjadi penyebab utama kebakaran yang kembali hidup. "Pada tanggal 21 Agustus, api sempat padam. Tapi karena cuaca, api menyala lagi," ujarnya. Untuk menanggulangi hal ini, tim gabungan mengerahkan helikopter PK-DAP berkapasitas 1.000 liter untuk melakukan water bombing. Hingga pukul 12.00 WIB, helikopter tersebut telah melakukan delapan sortie, menurunkan total 8.000 liter air ke dua titik api yang paling sulit dijangkau oleh tim darat.
Di darat, sebanyak 30 personel dari Tahura Raden Soerjo, Manggala Agni, BPBD Pasuruan, TNI, Polri, dan relawan terus berjuang menyisir area kebakaran lewat dua jalur pendakian utama: jalur Sumber Brantas (Kota Batu) dan jalur Tretes (Pasuruan). Badan Penanggulangan Bencana mencatat kerusakan ekologis seluas 146,85 hektare, mayoritas vegetasi yang terbakar adalah cemara gunung, disertai alang‑alang dan semak belukar.
Penutupan jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang sejak 19 Agustus masih berlaku tanpa kepastian kapan dibuka kembali, mengingat ancaman kebakaran yang belum sepenuhnya teratasi.
Analisis Pakar
Situasi kebakaran di Gunung Arjuno-Welirang mengungkap kegagalan sistem mitigasi kebakaran hutan yang selama ini diandalkan. Meskipun operasi water bombing tampak agresif, ketergantungan pada cuaca yang tidak menentu membuat strategi ini rentan. Helikopter yang menurunkan 8.000 liter air dalam delapan sortie sebenarnya hanya menanggulangi gejala, bukan penyebab utama kebakaran, yaitu akumulasi bahan bakar alami dan kurangnya pemeliharaan hutan.
Lebih jauh, koordinasi antar lembaga masih menunjukkan celah. Penempatan personel darat yang terbatas pada dua jalur pendakian menandakan kurangnya pengetahuan topografi dan aksesibilitas. Padahal, daerah pegunungan memerlukan pendekatan berbasis komunitas, melibatkan pendaki, warga setempat, dan lembaga konservasi untuk deteksi dini serta pencegahan kebakaran.
Data yang dirilis oleh BPBD Jawa Timur menunjukkan kerusakan pada vegetasi cemara gunung, yang memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan tanah dan mengatur siklus air. Kehilangan vegetasi ini tidak hanya meningkatkan risiko longsor, tetapi juga mengurangi kapasitas penyerapan karbon, memperparah perubahan iklim lokal. Tanpa upaya reboisasi yang terencana, kebakaran berikutnya akan semakin mudah terjadi.
Terakhir, kebijakan penutupan jalur pendakian tanpa penjelasan waktu pembukaan menimbulkan ketidakpastian bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Pemerintah daerah harus menyusun rencana kontinjensi yang transparan, termasuk program edukasi bagi pendaki tentang bahaya kebakaran dan prosedur evakuasi. Tanpa langkah-langkah preventif yang komprehensif, siklus kebakaran akan terus berulang, menggerogoti ekosistem dan mata pencaharian masyarakat sekitar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa kebakaran di Gunung Arjuno-Welirang kembali menyala setelah dinyatakan padam?
A: Cuaca pegunungan yang berubah-ubah memicu titik api yang belum sepenuhnya terpadam, sehingga api dapat menyala kembali. - Q: Berapa banyak air yang telah dijatuhkan oleh helikopter dalam operasi water bombing?
A: Hingga pukul 12.00 WIB, helikopter PK-DAP menurunkan total 8.000 liter air dalam delapan sortie. - Q: Apa dampak ekologis dari kebakaran ini?
A: Sekitar 146,85 hektare hutan terbakar, terutama cemara gunung, yang mengancam kestabilan tanah, penyerapan air, dan penyimpanan karbon.


