Gempa M 4,9 Guncang Barat Ambon, Tak Ada Kerusakan Signifikan
- BMKG mencatat terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,9 pada Senin, 25 Agustus 2026 pukul 14.29 WIB.
- Hiposenter gempa berada 94 kilometer barat kota Ambon, Provinsi Maluku, dengan kedalaman yang belum dipublikasikan secara resmi.
- Menurut laporan awal, getaran terasa di beberapa wilayah di sekitar Ambon, termasuk di kota Ambon, Namlea, dan bagian timur Pulau Seram.
BMKG mencatat terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,9 pada Senin, 25 Agustus 2026 pukul 14.29 WIB. Hiposenter gempa berada 94 kilometer barat kota Ambon, Provinsi Maluku, dengan kedalaman yang belum dipublikasikan secara resmi.
Menurut laporan awal, getaran terasa di beberapa wilayah di sekitar Ambon, termasuk di kota Ambon, Namlea, dan bagian timur Pulau Seram. Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa, luka-luka, maupun kerusakan struktural yang signifikan. Tim tanggap darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku telah melakukan pemantauan lapangan dan menegaskan bahwa situasi tetap terkendali.
BMKG menegaskan bahwa gempa dengan magnitudo di bawah 5,0 umumnya tidak menimbulkan kerusakan serius, namun tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi gempa susulan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut secara intensif.
Wilayah Maluku terletak di zona konvergen antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, yang dibagi oleh sistem patahan kompleks di Selat Banda dan Selat Seram. Aktivitas tektonik ini menjadikan daerah tersebut rawan gempa bumi berulang, meskipun sebagian besar gempa berukuran sedang.
Analisis Pakar Geofisika
Wilayah barat Ambon berada di dekat zona patahan utama yang dikenal sebagai Sesar Ambon (Ambon Fault Zone). Sesar ini merupakan bagian dari jaringan patahan transform yang menghubungkan zona subduksi Lempeng Indo-Australia di selatan dengan Lempeng Eurasia di utara. Sejak catatan modern, zona ini telah menghasilkan lebih dari 30 gempa dengan magnitudo 4,0 ke atas dalam tiga dekade terakhir, termasuk gempa M 5,6 pada tahun 2019 yang menyebabkan kerusakan terbatas.
Secara historis, gempa di sekitar Ambon jarang memicu tsunami karena kedalaman hiposenter yang relatif dangkal dan orientasi patahan yang lebih dominan lateral. Namun, potensi tsunami tidak dapat sepenuhnya diabaikan mengingat kedekatan wilayah pesisir dengan zona subduksi aktif di Selat Banda. BMKG terus memperbaharui peringatan tsunami secara realβtime untuk mengantisipasi skenario terburuk.
Studi terbaru menunjukkan bahwa gempa susulan (aftershock) biasanya terjadi dalam rentang waktu 24β72 jam setelah gempa utama, dengan magnitudo berkisar 3,0β4,5. Masyarakat disarankan untuk tetap memperhatikan peringatan resmi dan menghindari penggunaan lift serta struktur bangunan yang belum diperiksa keamanannya. Pemantauan seismik berkelanjutan oleh jaringan seismometer nasional akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai evolusi aktivitas tektonik di wilayah ini.