⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Palembang Dilanda Kabut Asap Mematikan: PM2.5 Mencapai 69,5 µg/m³, Pemerintah Didorong Bertindak Cepat

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Palembang Dilanda Kabut Asap Mematikan: PM2.5 Mencapai 69,5 µg/m³, Pemerintah Didorong Bertindak Cepat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kualitas udara Palembang tetap berada di level tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 69,5 µg/m³.
  • Asap tebal masih menyelimuti jalan utama, meski sedikit berkurang dibandingkan hari sebelumnya.
  • Pemerintah daerah membagikan 16.000 masker gratis, sementara Prabowo Subianto memimpin rapat darurat penanganan kebakaran hutan.

Palembang masih terjepit kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Sumatera Selatan. Pantauan Detiksumbagsel pada Senin (24/8) menunjukkan asap tebal di sepanjang Jalan Soekarno‑Hatta, Jalan Merdeka, Jalan Kapten A. Rivai, serta Jalan Sumpah Pemuda‑Angkatan 45. Meski jarak pandang di atas Jembatan Ampera sudah sedikit membaik, partikel halus PM2.5 masih berada pada level “tidak sehat”.

Menurut BMKG, stasiun PM2.5 Musi 2 mencatat konsentrasi 69,5 mikrogram per meter kubik pada Minggu (23/8) hingga Senin pagi. Angka ini jauh di atas ambang batas WHO (10 µg/m³) dan menandakan risiko kesehatan serius, terutama bagi penderita asma, bronkitis, atau penyakit jantung.

Warga yang terpaksa tetap beraktivitas di luar, seperti pengendara muda bernama Iqbal (20), mengaku masih harus memakai masker meski asap tampak berkurang. “Kemarin asapnya sangat tebal, hari ini sudah agak berkurang, tapi tetap harus pakai masker,” ujarnya.

Menanggapi situasi, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengumumkan pembagian 16.000 masker secara gratis di titik‑titik lampu merah dan kantor kecamatan. Distribusi dilakukan secara berjenjang, menargetkan area dengan konsentrasi asap tertinggi.

Sementara itu, Kantor SAR Palembang memperingatkan para nakhoda kapal di Sungai Musi. Kepala SAR, Raymond Konstantin, menekankan bahwa kabut asap dapat menurunkan jarak pandang secara drastis, meningkatkan risiko tabrakan, terutama pada malam hari. Ia menginstruksikan pengurangan kecepatan, penggunaan lampu navigasi penuh, dan pemeriksaan peralatan keselamatan sebelum melanjutkan pelayaran.

Di tingkat nasional, Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang setelah menggelar pertemuan serupa di Pos Aju, Riau. Rapat dihadiri oleh pejabat tinggi seperti Kepala BPBD Sumsel M. Iqbal Alisyahbana, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, dan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak. Agenda utama: mempercepat pemadaman, meningkatkan koordinasi lintas lembaga, serta menyiapkan bantuan bagi warga terdampak.

Analisis Pakar

Situasi kabut asap di Palembang bukan sekadar masalah cuaca sementara; ia mengungkap kegagalan struktural dalam penanggulangan kebakaran hutan di Sumatera Selatan. Selama bertahun‑tahun, regulasi lahan yang lemah, penegakan hukum yang tidak konsisten, dan insentif ekonomi yang mendorong pembukaan lahan secara ilegal telah menciptakan kondisi rawan kebakaran. Ketika kebakaran melanda, respons pemerintah daerah tampak reaktif—seperti pembagian masker—bukan preventif.

Data BMKG yang menunjukkan PM2.5 mencapai 69,5 µg/m³ menandakan eksposur warga terhadap partikel halus yang dapat menembus alveoli paru, meningkatkan risiko penyakit kronis. Namun, kebijakan kesehatan publik masih terbatas pada distribusi masker gratis. Tanpa upaya jangka panjang—misalnya, program penghijauan, pengawasan satelit real‑time, dan penegakan sanksi terhadap pelaku pembakaran—kondisi ini akan berulang.

Rapat darurat yang dipimpin Prabowo Subianto memberi sinyal politis bahwa isu ini sudah naik ke agenda nasional. Namun, tanpa alokasi anggaran yang transparan dan mekanisme akuntabilitas yang jelas, pertemuan semacam ini berisiko menjadi sekadar “show‑off”. Pengawasan independen dari lembaga non‑pemerintah dan media investigatif diperlukan untuk memastikan komitmen pemerintah tidak hanya berhenti pada pernyataan.

Terakhir, peringatan SAR Palembang tentang bahaya navigasi di sungai menegaskan bahwa dampak kabut asap meluas ke sektor transportasi air, yang selama ini jarang mendapat sorotan. Ini menambah beban ekonomi pada pelaku usaha perikanan dan pariwisata, serta meningkatkan potensi kecelakaan fatal. Koordinasi lintas sektor—dari lingkungan, transportasi, hingga kesehatan—harus menjadi standar operasional prosedur dalam menghadapi krisis kabut asap.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu PM2.5 dan mengapa angka 69,5 µg/m³ dianggap berbahaya?
    A: PM2.5 adalah partikel halus berukuran ≤2,5 mikrometer yang dapat masuk ke dalam paru‑paru dan aliran darah, meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Konsentrasi di atas 35 µg/m³ sudah masuk kategori tidak sehat menurut standar Indonesia.
  • Q: Bagaimana cara melindungi diri saat kualitas udara tidak sehat?
    A: Gunakan masker N95 atau setara, hindari aktivitas berat di luar ruangan, tutup ventilasi rumah, dan perbanyak konsumsi air serta makanan kaya antioksidan.
  • Q: Apa langkah pemerintah daerah dalam menangani kabut asap ini?
    A: Pemerintah Palembang membagikan 16.000 masker gratis, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan, serta berkoordinasi dengan BPBD, SAR, dan pihak keamanan untuk pemadaman kebakaran dan pengamanan transportasi air.
Meow! Tanya Nesi!
😸