Molinas: Rahasia Motor Listrik Nasional yang Bikin Industri Indonesia Melejit!
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

Ringkasan Singkat
- Motor listrik dapat disebut Molinas hanya bila memenuhi empat kriteria ketat, termasuk TKDN >60% dan baterai nikel‑berbasis.
- Kementerian menargetkan penjualan 1,5 juta unit listrik pada 2028, jauh melampaui kapasitas produksi 100 ribu unit per tahun.
- Program ini diproyeksikan menghemat subsidi BBM Rp82,2 triliun, ciptakan nilai ekonomi Rp150 triliun, dan 215 ribu lapangan kerja.
Indonesia kini menyiapkan Motor Listrik Nasional (Molinas) sebagai tulang punggung mobilitas hijau. Namun, tidak semua skuter listrik yang diproduksi di tanah air otomatis mendapat label bergengsi itu. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menetapkan empat syarat mutlak yang harus dipenuhi sekaligus.
1. TKDN di atas 60 % – Persentase komponen dalam negeri harus mencakup powertrain, rangka (frame), serta semua plastik dan body panel. Ini menuntut rantai pasok lokal yang solid, mulai dari pembuatan motor listrik stator hingga cetakan aluminium.
2. Desain & rekayasa domestik – Semua proses CAD, simulasi dinamis, hingga validasi prototipe harus dilakukan di Indonesia. Artinya, tidak ada outsourcing desain ke luar negeri yang dapat mengurangi nilai tambah lokal.
3. Baterai berbasis nikel – Untuk menggerakkan Molinas dipilih kimia NMC atau NCA, bukan lithium‑ion standar. Pilihan ini mendukung hilirisasi nikel nasional dan menurunkan ketergantungan impor kobalt.
4. Harga kompetitif – Unit harus dapat bersaing di pasar domestik yang sensitif harga, sehingga tidak hanya menjadi barang mewah bagi segmen premium.
Fokus utama Molinas bukan sekadar menambah angka penjualan, melainkan membangun ekosistem desain‑engineering‑manufacturing‑technology‑supply chain yang mandiri. Dari sisi pasar, peluangnya masih menganga lebar. Dari total 145,25 juta motor konvensional, hanya 229 554 unit listrik yang terjual hingga Desember 2025. Presiden Prabowo Subianto menargetkan lonjakan tajam menjadi 1,5 juta unit pada 2028.
Hingga kini, dua pemain domestik – Alva dan Gesits – telah masuk dalam program Molinas. Kedua merek masih menyempurnakan skema pembiayaan untuk menurunkan harga jual sebelum peluncuran massal.
Jika skenario optimal tercapai, program ini diproyeksikan menghemat subsidi BBM hingga Rp82,2 triliun (2027‑2037) dan menambah nilai ekonomi nasional sebesar Rp150 triliun (2026‑2031). Lebih dari 215 ribu lapangan kerja akan tercipta di sektor manufaktur, komponen, baterai, serta infrastruktur pengisian daya. Substitusi impor minyak diperkirakan menyumbang surplus neraca perdagangan senilai Rp45 triliun.
Analisis Pakar
Sebagai seorang reviewer otomotif yang telah menelusuri ribuan motor, saya melihat Molinas bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan sebuah tantangan teknis yang menguji kesiapan industri otomotif Indonesia. Pertama, persyaratan TKDN >60 % menuntut peningkatan kualitas produksi komponen kritis seperti motor listrik stator, inverter, dan gearbox. Saat ini, sebagian besar komponen tersebut masih diimpor dari Jepang atau Korea, sehingga pabrikan harus berinvestasi besar‑besar dalam lini produksi presisi.
Kedua, adopsi baterai nikel‑berbasis (NMC/NCA) memang strategis untuk mengurangi ketergantungan pada kobalt, namun menuntut infrastruktur pengolahan nikel yang masih terbatas. Tanpa fasilitas pelapisan dan pengolahan yang memadai, biaya baterai akan tetap tinggi, menggerogoti target harga kompetitif. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan pabrik baterai berkapasitas gigawatt‑hour di dalam negeri.
Ketiga, desain dan rekayasa domestik bukan sekadar label. Dibutuhkan tim R&D yang mampu melakukan simulasi dinamis, analisis kelelahan rangka, serta optimasi aerodinamika pada kecepatan urban. Saya khawatir banyak OEM lokal masih mengandalkan tim kecil yang berpengalaman terbatas, sehingga risiko kegagalan produk di pasar akan meningkat.
Terakhir, target produksi 100 ribu unit per tahun masih jauh di bawah permintaan yang diproyeksikan. Untuk menutup kesenjangan, diperlukan kolaborasi lintas‑sektor: universitas teknik, lembaga riset, dan perusahaan otomotif harus bersinergi dalam program inkubator teknologi. Jika tidak, Molinas berpotensi menjadi inisiatif simbolik yang gagal menembus pasar massal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu TKDN dan mengapa penting untuk Molinas?
A: TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) mengukur persentase nilai komponen yang diproduksi di dalam negeri. Untuk Molinas, TKDN harus >60 % agar motor listrik dapat dikategorikan nasional dan mendukung industri lokal. - Q: Mengapa baterai berbasis nikel dipilih untuk Molinas?
A: Baterai NMC/NCA menawarkan densitas energi tinggi dan mengurangi ketergantungan pada kobalt impor, sekaligus memanfaatkan cadangan nikel Indonesia untuk hilirisasi. - Q: Kapan motor listrik Molinas akan tersedia secara massal?
A: Produksi massal diperkirakan dimulai setelah 2026, dengan target kapasitas 100 ribu unit per tahun, namun peluncuran komersial penuh diproyeksikan pada 2028 sejalan dengan target permintaan 1,5 juta unit.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Krisis Solar Subsidi: Perburuan Mobil Diesel Bekas Bergeser ke Ketersediaan Barcode

EICMA 2026 Dibanjiri Merek Motor China, CFMoto dan QJMotor Ungkap Inovasi Terkini

KPK Tetapkan Dedi Congor Tersangka Kasus Bea Cukai, Kekayaannya Terdata Rp8,2 Miliar
