⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ketegangan Suriah‑Israel Memuncak: Amerika Serikat Pimpin Negosiasi di Yordania

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ketegangan Suriah‑Israel Memuncak: Amerika Serikat Pimpin Negosiasi di Yordania
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Washington memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi antara Suriah dan Israel di Amman, Yordania, pada 23 Agustus 2024.
  • Negosiasi dipicu oleh serangan Israel ke pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah, serta kekhawatiran akan meluasnya konflik ke Turki.
  • Delegasi Suriah menuntut penarikan pasukan Israel ke posisi pra‑Desember 2024 dan penegakan penuh Perjanjian Gencatan Senjata 1974, sementara Amerika Serikat mengusulkan pembentukan zona operasi khusus di Yordania.

Ketegangan antara Suriah dan Israel kembali memuncak setelah serangan udara Israel menargetkan pangkalan militer Abu Al Duhur di wilayah barat daya Suriah. Menanggapi eskalasi tersebut, Amerika Serikat mengambil peran sebagai mediator dan mengundang delegasi tinggi kedua negara untuk bertemu di ibu kota Yordania pada Minggu (23/8).

Menurut laporan kantor berita resmi Suriah, SANA, pertemuan ini bertujuan meredakan ketegangan yang meningkat serta mencegah Suriah terjebak dalam perseteruan yang melibatkan Israel dan Turki. Delegasi Suriah dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Asaad Al‑Shaibani**, sedangkan pihak Israel mengirimkan perwakilan senior termasuk Kepala intelijen Mossad, Roman Gofman**. Diskusi mencakup usulan pembentukan “ruang operasi khusus” di Yordania, yang akan diawasi oleh Amerika Serikat untuk menahan potensi konfrontasi lebih luas.

Selama perbincangan, Suriah menegaskan kembali klaimnya atas Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah yang masih diduduki Israel, meski menilai bahwa pembahasan status akhir wilayah tersebut masih terlalu dini. Kedua belah pihak juga membahas dua prioritas utama Suriah: penarikan pasukan Israel ke garis sebelum 8 Desember 2024 dan pelaksanaan penuh Perjanjian Gencatan Senjata 1974 yang mengatur kehadiran militer di wilayah tersebut.

Analisis Pakar

Negosiasi yang difasilitasi oleh Amerika Serikat ini menandai upaya diplomatik yang relatif jarang terjadi di antara Suriah dan Israel sejak pecahnya perang saudara Suriah pada 2011. Keterlibatan Washington bukan sekadar upaya menengahi, melainkan juga mencerminkan kepentingan strategisnya untuk mencegah konflik meluas ke wilayah yang lebih luas, termasuk Turki dan negara-negara Teluk. Dengan menawarkan zona operasi khusus di Yordania, AS berusaha menciptakan buffer yang dapat mengisolasi aksi militer langsung antara kedua pihak, sekaligus menjaga jalur logistik dan intelijen yang penting bagi kepentingan geopolitik Barat.

Namun, keberhasilan mediasi ini sangat bergantung pada kesediaan Israel untuk mengakui dan menurunkan pasukannya ke posisi pra‑Desember 2024, sebuah permintaan yang secara historis sulit dipenuhi mengingat kebijakan keamanan Israel yang menekankan kontrol atas Dataran Tinggi Golan. Di sisi lain, Suriah masih berada dalam fase pemulihan pasca‑perang, dengan ekonomi yang rapuh dan dukungan internasional yang terfragmentasi. Tekanan domestik untuk menegaskan kedaulatan atas Golan dapat mempersempit ruang gerak diplomatik Damaskus.

Faktor eksternal lain yang patut diperhatikan adalah peran Turki, yang telah terlibat dalam operasi militer di Suriah dan memiliki hubungan yang tegang dengan Israel. Jika ketegangan antara Israel‑Suriah tidak diredam, ada risiko konflik meluas ke perbatasan Turki‑Suriah, memperburuk stabilitas regional. Oleh karena itu, usulan zona operasi khusus tidak hanya berfungsi sebagai penahan militer, tetapi juga sebagai sinyal politik bahwa pihak-pihak luar, termasuk AS, bersedia menanggung beban keamanan regional.

Secara keseluruhan, pertemuan ini dapat menjadi titik balik jika menghasilkan kesepakatan konkret tentang penarikan pasukan dan penegakan perjanjian 1974. Namun, kegagalan untuk mencapai konsensus dapat memperparah persepsi bahwa diplomasi internasional masih lemah dalam menahan dinamika konflik di Timur Tengah, yang pada gilirannya dapat memicu intervensi lebih luas atau meningkatkan ketergantungan pada aliansi militer regional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang memicu pertemuan diplomatik antara Suriah dan Israel di Yordania?
    A: Serangan Israel ke pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah pada Agustus 2024, yang meningkatkan ketegangan regional, mendorong Amerika Serikat memediasi pertemuan.
  • Q: Siapa saja yang mewakili Suriah dan Israel dalam pertemuan tersebut?
    A: Suriah diwakili oleh Menteri Luar Negeri Asaad Al‑Shaibani, sementara Israel mengirim Kepala Mossad Roman Gofman bersama delegasi senior lainnya.
  • Q: Apa saja tuntutan utama Suriah dalam negosiasi ini?
    A: Suriah menuntut penarikan pasukan Israel ke posisi sebelum 8 Desember 2024 dan pelaksanaan penuh Perjanjian Gencatan Senjata 1974 yang mengatur kehadiran militer di Dataran Tinggi Golan.
Meow! Tanya Nesi!
😸