Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kerugian RM2,5 Miliar Felda di Indonesia: Anwar Ibrahim Desak Prabowo Campur Tangan!

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kerugian RM2,5 Miliar Felda di Indonesia: Anwar Ibrahim Desak Prabowo Campur Tangan!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PM Anwar Ibrahim meminta Presiden Prabowo Subianto bantu selesaikan investasi Felda di Eagle High Plantations yang diprediksi rugi RM2,5 miliar.
  • Investasi US$505,4 juta (≈Rp8,9 triliun) pada 2016 dinilai overvalued; proses hukum di Indonesia diperkirakan hanya mengembalikan RM200 juta.
  • Masalah ini menambah beban pemulihan Felda, sekaligus menguji tata kelola, integritas, dan hubungan bilateral Indonesia‑Malaysia dalam sektor agribisnis.

Latar Belakang Investasi

Melalui anak perusahaan FIC Properties Sdn Bhd, Felda membeli saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) pada Desember 2016 senilai US$505,4 juta (sekitar Rp8,9 triliun). Harga pembelian jauh di atas nilai pasar saat itu, memicu kritik keras dari kalangan investor dan analis pasar modal.

Risiko Finansial

Menurut perhitungan pemerintah Malaysia, potensi kerugian Felda dapat mencapai RM2,5 miliar (≈Rp10,9 triliun). Sementara estimasi pengembalian yang realistis hanya sekitar RM200 juta, menandakan rasio kerugian‑ke‑gain hampir 12:1.

Langkah Diplomatik

Dalam pertemuan di Bangi, Anwar menegaskan bahwa kasus ini sedang diproses di pengadilan Indonesia. Ia telah menulis surat resmi kepada Presiden Prabowo, meminta intervensi pemerintah Indonesia untuk mempercepat penyelesaian dan meminimalisir kerugian lebih lanjut.

Implikasi Manajerial

PM Anwar menekankan bahwa manajer Felda saat ini tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi 2016, namun mereka tetap harus menanggung konsekuensinya. Ia menegaskan pentingnya tata kelola yang transparan, integritas, dan akuntabilitas dalam upaya pemulihan Felda.

Analisis Pakar

Kasus Felda‑Eagle High menyoroti dua dimensi penting: pertama, risiko overvaluasi dalam akuisisi lintas‑negara yang sering terjadi ketika lembaga publik berusaha diversifikasi aset tanpa mekanisme due‑diligence yang memadai. Kedua, dampak geopolitik yang muncul ketika investasi strategis berujung pada sengketa hukum di negara mitra. Bagi Indonesia, penanganan kasus ini menjadi ujian kemampuan sistem peradilan komersial dalam memberikan kepastian hukum bagi investor asing.

Dari perspektif makroekonomi, potensi kerugian Rp10,9 triliun bagi Felda dapat memengaruhi neraca pembayaran Malaysia, terutama bila kerugian tersebut harus ditutup melalui alokasi dana cadangan atau pinjaman eksternal. Hal ini dapat menambah tekanan pada nilai tukar Ringgit dan memperlambat agenda reformasi fiskal pemerintah Malaysia.

Strategi mitigasi yang realistis meliputi: (i) negosiasi penyelesaian damai di luar pengadilan untuk mengamankan kembali sebagian nilai investasi; (ii) restrukturisasi kepemilikan saham Eagle High dengan melibatkan investor institusional yang memiliki rekam jejak kuat di sektor agribisnis; serta (iii) peningkatan transparansi dan audit independen pada semua proyek investasi Felda ke depan, guna mengembalikan kepercayaan publik dan investor.

Terakhir, hubungan bilateral Indonesia‑Malaysia dalam sektor perkebunan kelapa sawit dapat menjadi peluang kolaboratif jika dikelola dengan baik. Kedua negara dapat memanfaatkan keahlian teknis Indonesia dalam agrikultur sambil memastikan bahwa investasi publik Malaysia diarahkan pada proyek yang menghasilkan nilai tambah ekonomi yang jelas, bukan sekadar spekulasi aset.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa investasi Felda di Eagle High dianggap overvalued?
    A: Harga beli US$505,4 juta jauh di atas nilai pasar saham pada 2016, sehingga selisihnya menimbulkan potensi kerugian besar bila nilai perusahaan tidak naik sesuai harapan.
  • Q: Apa peran Presiden Prabowo dalam penyelesaian kasus ini?
    A: Prabowo diminta oleh PM Anwar untuk menggunakan diplomasi bilateral dan, bila perlu, mengintervensi proses hukum Indonesia agar penyelesaian dapat dipercepat dan kerugian diminimalisir.
  • Q: Bagaimana kerugian ini dapat memengaruhi ekonomi Malaysia?
    A: Kerugian potensial Rp10,9 triliun dapat menambah beban pada cadangan devisa, memicu tekanan pada Ringgit, dan mengurangi ruang fiskal untuk program kesejahteraan Felda.
Meow! Tanya Nesi!
😸