MRT Jakarta Siapkan ‘Mall Bawah Tanah’ di Bundaran HI: Model Baru untuk Blok M & Senayan
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- PT MRTJakarta meluncurkan proyek extended concourse di Stasiun Bundaran HI sebagai prototipe konektivitas bawah tanah ke pusat perbelanjaan.
- Keberhasilan menghubungkan BlokM dengan MRT meningkatkan okupansi mall hingga 99,9%, memberi sinyal nilai tambah properti komersial.
- Rencana replikasi ke Senayan dan Jalan Asia Afrika masih menunggu kesiapan aset, regulasi, dan sinergi transportasi.
Jakarta, CNBC Indonesia – PT MRT Jakarta (Perseroda) kini menatap peluang ekspansi jaringan bawah tanah yang tidak hanya menghubungkan stasiun dengan BundaranHI, tetapi juga mengintegrasikan kawasan komersial seperti BlokM dan Senayan. Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Ferdiansyah Roestam, menegaskan bahwa proyek extended concourse di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) menjadi laboratorium pertama untuk skema serupa.
“Extended concourse ini belum pernah ada di Indonesia. Tantangannya adalah tidak ada referensi proyek sejenis,” ujar Ferdi dalam wawancara dengan CNN Indonesia, 23 Agustus 2026. Ia menambahkan, proses pengeboran mengungkap realitas utilitas bawah tanah yang sering berbeda jauh dari gambar teknik – sebuah pelajaran penting bagi para engineer.
Pengalaman menghubungkan mal BlokM dengan MRT melalui jembatan layang menjadi bukti konkret: setelah terhubung, tingkat okupansi naik menjadi 99,9%. Ferdi menilai, “Koneksi MRT yang simpel namun efektif dapat mengubah dinamika permintaan ruang ritel, memperluas basis konsumen dari radius yang lebih luas.”
Gubernur DKI, Pramono Anung, sebelumnya menyuarakan harapan agar satu atau dua mal di Jalan Asia Afrika terhubung secara langsung ke jaringan transportasi publik. Namun, Ferdi menekankan bahwa realisasi masih tergantung pada kesiapan pemilik aset, perencanaan bangunan, dan integrasi lintas moda.
Saat ini, fokus utama ITJ dan MRT Jakarta adalah menyelesaikan extended concourse Bundaran HI seluas 4.439 m², yang akan menampung 24 ruang multifungsi – mulai dari F&B, lifestyle, hingga layanan publik. Ruang ini dirancang terhubung dengan basement Plaza Indonesia dan Wisma Nusantara melalui sistem knock‑down panel, menciptakan ekosistem yang mendukung mobilitas dan meningkatkan ridership MRT.
Proyek ini ditargetkan selesai pada Mei 2027 dan diresmikan Juni 2027, sekaligus menjadi acuan bagi potensi pengembangan konektivitas bawah tanah di stasiun‑stasiun MRT lainnya.
Analisis Pakar
Secara makro, integrasi transportasi massal dengan properti komersial merupakan katalisator pertumbuhan ekonomi perkotaan yang berkelanjutan. Model transit‑oriented development (TOD) yang diusung MRT Jakarta tidak hanya meningkatkan nilai properti di sekitar stasiun, tetapi juga mengoptimalkan utilisasi aset publik yang selama ini terfragmentasi. Dengan menambahkan ruang ritel dan layanan di bawah tanah, pemerintah daerah dapat memperluas basis pajak tanpa harus mengorbankan lahan permukaan yang mahal.
Namun, tantangan utama terletak pada koordinasi lintas sektor. Utilitas bawah tanah yang tidak terdokumentasi dengan baik menimbulkan risiko biaya tak terduga, yang pada gilirannya dapat menggerus margin investasi. Oleh karena itu, penting bagi otoritas untuk memperkuat basis data geospasial dan mengadopsi standar BIM (Building Information Modeling) sejak fase perencanaan.
Dari perspektif investor, keberhasilan koneksi BlokM menjadi bukti empiris bahwa akses MRT dapat mengangkat tingkat hunian ritel hampir mendekati kapasitas penuh. Hal ini membuka peluang bagi REIT (Real Estate Investment Trust) dan developer untuk menargetkan proyek mixed‑use di sekitar stasiun, dengan proyeksi peningkatan NOI (Net Operating Income) yang signifikan. Namun, mereka harus menilai risiko regulasi, terutama terkait hak atas tanah dan perizinan konstruksi bawah tanah.
Terakhir, kebijakan pemprov DKI yang mendorong bangunan multifungsi harus diimbangi dengan mekanisme insentif fiskal, seperti pengurangan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) atau fasilitas pembiayaan khusus. Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, skala ambisi TOD dapat terhambat, mengurangi potensi multiplier effect pada sektor konstruksi, retail, dan layanan publik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan proyek extended concourse Bundaran HI selesai?
A: Proyek dijadwalkan rampung pada Mei 2027 dan akan diresmikan pada Juni 2027. - Q: Apakah konektivitas MRT ke mal di Blok M dan Senayan akan segera dibangun?
A: Belum ada keputusan final; pengembangan tergantung pada kesiapan aset, perizinan, dan integrasi transportasi. - Q: Bagaimana dampak koneksi MRT terhadap nilai properti komersial?
A: Akses MRT meningkatkan okupansi ritel, mengangkat nilai properti, dan memperluas basis pajak daerah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi Status Pajak Pembalut: Tetap Dikenakan PPN Efektif 11%

Ancaman Serangan dan Lonjakan Harga: Dampak Konflik Iran-AS-Israel pada Ekonomi Global

Pertamina Targetkan Transaksi Rp2,5 Miliar Lewat SMEXPO Bekasi: 50 UMKM Didorong Ekspansi Pasar
