Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ariana Grande Kembali ‘Menyemprot’ Trump: Lagu Popnya Dihapus dari TikTok!

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Ariana Grande Kembali ‘Menyemprot’ Trump: Lagu Popnya Dihapus dari TikTok!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ariana Grande kembali menegur Donald Trump karena pakai lagunya di TikTok.
  • Video tim Trump yang pakai “We Can't Be Friends (Wait For Your Love)” kini diblokir karena hak cipta.
  • Ini sudah kedua kalinya Grande menolak penggunaan musiknya oleh pemerintahan AS, setelah insiden dengan ICE.

Berita Utama

Setelah Ariana Grande menegur Donald Trump lewat komentar yang “hilang” di kolom komentar, video TikTok tim Trump yang menampilkan sang mantan presiden berjalan ke podium kini tak lagi dapat diputar. Platform menandai bahwa “the copyright owner hasn't made this sound available in your country”.

Latar musiknya adalah lagu We Can't Be Friends (Wait For Your Love), yang dipilih oleh tim kampanye Trump untuk menambah “vibe” pada klip yang di‑upload pada Kamis, 20 Agustus. Di dalam video, muncul teks provokatif tentang gender dan olahraga perempuan, yang jelas menimbulkan kegaduhan.

Balasan singkat Grande di kolom komentar: “Jangan pernah gunakan musikku lagi. Lagipula, kebenaranmu itu keliru.” Sayangnya, komentar itu seolah‑olah “menghilang” – sebuah trik yang sering dipakai platform untuk menenangkan pemilik hak cipta.

Insiden ini menandai kali kedua dalam dua bulan Grande menolak keras penggunaan lagunya oleh pihak pemerintah AS. Pada Juni 2026, Gedung Putih sempat mengunggah video TikTok dengan lagu “Bye” (rilisan 2024) sambil menampilkan agen ICE yang menangkap orang‑orang. Grande pun menulis, “Tolong jangan pernah gunakan musikku untuk hal‑hal barbar, tidak manusiawi, dan keji ini. Persetan dengan ICE.”

Tak hanya Grande, artis‑artis lain seperti Taylor Swift, Bad Bunny, dan penyanyi folk Noah Kahan juga sudah menuntut penghapusan lagu mereka dari unggahan resmi pemerintah.

Analisis Pakar

Menurut saya, fenomena ini bukan sekadar soal hak cipta semata, melainkan pertarungan budaya antara industri musik pop yang sangat mengglobal dengan agenda politik yang sering kali kontroversial. Ariana Grande, sebagai ikon generasi Z, memiliki basis penggemar yang sangat sensitif terhadap isu‑isu keadilan sosial. Ketika lagunya dipakai untuk menutupi atau “menggembirakan” narasi politik yang dipertanyakan, reaksi kerasnya menjadi wajar dan bahkan strategis.

Di sisi lain, tim kampanye Trump tampaknya masih mengandalkan taktik “soundtrack viral” untuk menarik perhatian di platform seperti TikTok. Padahal, algoritma platform kini semakin pintar dalam mendeteksi pelanggaran hak cipta, sehingga video‑video semacam ini cepat “mute” atau di‑take down. Ini memberi sinyal kuat bahwa penyalahgunaan musik komersial tidak lagi dapat lolos begitu saja.

Lebih jauh, kasus ini menyoroti dilema etika bagi artis: apakah mereka harus melindungi karya mereka dari penyalahgunaan politik, ataukah membiarkan musik mereka menjadi “alat” bagi semua pihak? Sejarah menunjukkan bahwa banyak musisi, mulai dari Bob Dylan hingga Beyoncé, telah mengambil sikap politik yang tegas. Ariana Grande kini menempatkan dirinya di antara mereka, menegaskan bahwa hak moral atas karya seni tidak boleh diperdagangkan tanpa persetujuan.

Terakhir, dampak jangka panjangnya mungkin memaksa lembaga‑lembaga pemerintah untuk lebih berhati‑hati dalam memilih musik latar. Jika tren ini berlanjut, kita bisa menyaksikan kebijakan internal baru yang mengharuskan verifikasi lisensi sebelum mengunggah konten resmi, sehingga “musical diplomacy” menjadi lebih terkontrol.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa video TikTok tim Trump tidak lagi dapat diputar?
    A: Karena pemilik hak cipta, dalam hal ini Ariana Grande, menolak penggunaan lagunya, sehingga platform memblokir audio untuk melindungi hak cipta.
  • Q: Apakah Ariana Grande pernah menolak penggunaan lagunya oleh pemerintah sebelumnya?
    A: Ya, pada Juni 2026 ia menolak penggunaan lagu “Bye” oleh Gedung Putih dalam video yang menampilkan agen ICE.
  • Q: Lagu apa yang dipakai tim Trump dalam video kontroversial itu?
    A: Lagu “We Can't Be Friends (Wait For Your Love)”.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸