Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Membakar 8.900 Ha: BNPB Gerakkan Ribuan Personel & 9 Helikopter

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Membakar 8.900 Ha: BNPB Gerakkan Ribuan Personel & 9 Helikopter
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • BNPB melaporkan sekitar 8.900 hektare lahan terbakar di Kalimantan Selatan sejak pertengahan Agustus.
  • Lebih dari 9.800 personel, 9 Helikopter, serta unit water‑bombing dikerahkan untuk memadamkan karhutla di enam provinsi.
  • Kondisi kabut asap yang melanda wilayah tersebut pada 19‑20 Agustus menambah tekanan pada BNPB dan satuan tugas udara‑darat.

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, mengonfirmasi bahwa hingga 22 Agustus, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan telah menghanguskan hampir 8.900 hektare. Dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, ia menegaskan bahwa upaya pemadaman masih berlangsung meski kondisi di lapangan mulai menunjukkan perbaikan.

Hotspot paling intens terdeteksi di zona Ring 1, berdekatan dengan Bandara Internasional Banjar, serta di Kota Banjar, Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut. Kabut asap yang meliputi wilayah tersebut pada 19‑20 Agustus memicu respons cepat dari Satgas Udara BNPB, yang mengerahkan sembilan unit helikopter serta enam unit water‑bombing untuk menurunkan suhu tanah dan memadamkan api.

Secara keseluruhan, lebih dari 9.800 personel gabungan—termasuk tim pemadam kebakaran, militer, serta relawan—telah dikerahkan di Kalimantan Selatan. Di samping itu, karhutla di Kalimantan Barat juga mendapat perhatian khusus dengan 11 helikopter, dua basis udara di Bandara Supadio dan Ketapang, serta unit water‑bombing yang dipindahkan ke daerah terdampak.

Di Kalimantan Tengah, intensitas titik panas meningkat, memaksa BNPB menyiapkan sepuluh unit helikopter (termasuk tiga Bell, satu Caravan, dan enam water‑bombing), dua basis operasi udara (Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, dan rencana di Kabupaten Sampit), serta perlengkapan darat seperti motor trail, mobil tangki air, dan pompa portable.

Analisis Pakar

Situasi kebakaran hutan di Pulau Kalimantan kini bukan sekadar bencana alam melainkan cerminan kegagalan kebijakan tata ruang dan penegakan hukum lingkungan. Meskipun BNPB menampilkan angka personel dan sarana yang mengesankan, data historis menunjukkan bahwa setiap musim kemarau, laju pembakaran kembali meningkat, menandakan bahwa penanganan reaktif belum cukup. Pemerintah daerah dan pusat harus beralih ke pendekatan preventif: penegakan tegas terhadap pembakaran lahan ilegal, revitalisasi program rehabilitasi hutan, serta pemberdayaan masyarakat lokal sebagai penjaga hutan.

Penggunaan helikopter dan water‑bombing memang dapat menurunkan laju penyebaran api dalam jangka pendek, namun biaya operasionalnya sangat tinggi dan tidak berkelanjutan. Investasi pada sistem deteksi dini berbasis satelit, serta integrasi data real‑time antara BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, dan lembaga kehutanan, akan memberikan respons yang lebih cepat dan terkoordinasi. Selain itu, keberadaan hotspot di zona Ring 1 yang dekat dengan infrastruktur kritis mengindikasikan adanya celah dalam perencanaan zona penyangga hutan.

Aspek sosial‑ekonomi juga tak boleh diabaikan. Banyak petani kecil dan perusahaan kelapa sawit masih mengandalkan pembakaran sebagai metode pembersihan lahan karena kurangnya alternatif yang terjangkau. Pemerintah harus menyediakan insentif bagi praktik pertanian berkelanjutan, serta memperkuat mekanisme kompensasi bagi korban asap, yang selama ini hanya menjadi statistik dalam laporan BNPB.

Terakhir, transparansi data menjadi kunci. BNPB perlu mempublikasikan peta hotspot secara terbuka, memfasilitasi pengawasan publik, dan melibatkan LSM serta akademisi dalam audit independen. Tanpa akuntabilitas yang jelas, upaya penanggulangan akan terus terhambat oleh kepentingan jangka pendek dan kurangnya tekanan publik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa luas area yang terbakar di Kalimantan Selatan?
    A: Sekitar 8.900 hektare menurut data BNPB per 22 Agustus 2024.
  • Q: Berapa banyak personel dan helikopter yang dikerahkan?
    A: Lebih dari 9.800 personel dan 9 helikopter untuk Kalimantan Selatan, serta tambahan unit untuk Kalimantan Barat dan Tengah.
  • Q: Apa penyebab utama kebakaran hutan di wilayah ini?
    A: Kebanyakan kebakaran dipicu oleh pembakaran lahan ilegal, seringkali untuk membuka lahan pertanian atau perkebunan, serta kondisi cuaca kering selama musim kemarau.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸