Geothermal Boom: PGE Target 1,8 GW by 2034, Buka Peluang Green Hydrogen & Industri Hijau
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- PGE menargetkan kapasitas panas bumi naik menjadi 1,8 GW pada 2034, mempercepat transisi energi Indonesia.
- Strategi baru mencakup rantai pasok hijau, termasuk proyek green hydrogen dan pengembangan industri kopi Canaya.
- Investasi di sektor geothermal diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah.
Dalam rangka IIGCE2026, konvensi dan pameran internasional energi panas bumi, Ahmad Yani, Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy (PGE), menegaskan peran krusial geothermal dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.
Indonesia menyimpan sekitar 40 % potensi geothermal dunia, setara dengan hampir 24.000 MW. Namun, baru 11 % saja yang telah dimanfaatkan. Untuk menutup kesenjangan tersebut, PGE menyiapkan roadmap agresif: menambah kapasitas terpasang menjadi 1,8 GW pada 2034 dan mengubah rantai nilai menjadi lebih feasible serta bankable.
Langkah strategis meliputi diversifikasi bisnis ke greenhydrogen, pengembangan kopi Canaya yang berbasis energi panas bumi, serta inisiatif industri hijau lainnya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan PGE, tetapi juga membuka peluang bagi kontraktor lokal, penyedia peralatan, dan startup teknologi bersih.
Selain target kapasitas, PGE menekankan dampak sosial‑ekonomi: penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat sekitar, dan penguatan infrastruktur daerah. Dengan mengintegrasikan proyek geothermal ke dalam ekosistem energi terbarukan, pemerintah berharap dapat mempercepat kemandirian energi sekaligus menurunkan emisi karbon.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam ambisi PGE. Pertama, skala investasi yang diperlukan untuk menambah 1,7 GW kapasitas dalam delapan tahun menuntut pembiayaan jangka panjang dengan struktur risiko yang jelas. Pemerintah harus menyediakan jaminan tarif (feed‑in‑tariff) yang kompetitif atau skema kontrak pasokan energi (PPA) yang stabil, agar investor swasta merasa aman.
Kedua, diversifikasi ke green hydrogen bukan sekadar gimmick. Hydrogen yang diproduksi dari panas bumi memiliki biaya levelized cost of hydrogen (LCOH) yang lebih rendah dibandingkan listrik terbarukan konvensional, terutama bila memanfaatkan panas sisa (waste heat). Ini membuka pasar ekspor hidrogen ke negara‑negara Asia‑Pasifik yang tengah mengintensifkan dekarbonisasi.
Namun, tantangan regulasi masih mengganjal. Proses perizinan lahan, hak atas sumber daya panas bumi, dan koordinasi antar‑minister masih terfragmentasi. Sinergi antara Kementerian Energi, BKPM, dan BUMN harus dioptimalkan lewat satu pintu digital yang mempercepat persetujuan proyek.
Terakhir, efek spillover pada ekonomi lokal tidak boleh diremehkan. Proyek geothermal biasanya memerlukan tenaga kerja terampil, sehingga program pelatihan vokasi di daerah potensial (misalnya Jawa Barat, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara) menjadi investasi strategis. Jika dikelola dengan baik, geothermal dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa target kapasitas geothermal Indonesia pada 2034?
A: Pemerintah menargetkan total kapasitas terpasang mencapai 1,8 GW, dengan kontribusi utama dari PGE. - Q: Apa keuntungan menghubungkan geothermal dengan produksi green hydrogen?
A: Geothermal menyediakan panas stabil dan murah, menurunkan biaya produksi hidrogen serta meningkatkan efisiensi energi. - Q: Bagaimana proyek geothermal dapat menciptakan lapangan kerja?
A: Dari fase eksplorasi, konstruksi, operasional, hingga rantai pasok lokal, proyek geothermal dapat menyerap ribuan tenaga kerja terampil dan tidak terampil di wilayah sekitar.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan

Rapat Koordinasi Kemenko Perekonomian Bahas Percepatan Implementasi Kredit Perempuan Prasejahtera dan Penurunan Bunga Pinjaman

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Pasar Diprediksi Stabil Tanpa Gejolak
