Karhutla Kembali Mengancam Gardu Induk PLN Lamandau, Ratusan Personel Dikerahkan

- Ringkasan Singkat Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Kujan , Lamandau kembali menyala dan mengancam Gardu Induk PLN serta permukiman warga.
- Lebih dari seratus personel gabungan, termasuk BPBD , TNI, Polri, Satpol PP, dan relawan, dikerahkan dengan helikopter serta pemotongan pagar gardu untuk mempercepat pemadaman.
- Situasi serupa terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat, di mana titik api juga mengancam permukiman, menambah beban penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah.
Ringkasan Singkat
- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Kujan, Lamandau kembali menyala dan mengancam Gardu Induk PLN serta permukiman warga.
- Lebih dari seratus personel gabungan, termasuk BPBD, TNI, Polri, Satpol PP, dan relawan, dikerahkan dengan helikopter serta pemotongan pagar gardu untuk mempercepat pemadaman.
- Situasi serupa terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat, di mana titik api juga mengancam permukiman, menambah beban penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melahap lahan bekas persawahan di Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau pada sore hari Kamis (20/8). Api yang sempat dipadamkan pada pagi harinya menyala kembali, melaju cepat hingga berada di ambang Gardu Induk PLN dan pemukiman warga.
Menurut Kepala BPBD Kabupaten Lamandau, Hendikel, kondisi lahan gambut yang kering menjadi katalis utama penyebaran api. "Prioritas kami saat ini mengamankan Gardu Induk PLN dan mencegah api merambat ke permukiman warga. Kami bersama seluruh tim terus melakukan pemadaman dan penyekatan," ujarnya pada Jumat (21/8).
Ratusan personel gabungan—BPBD, Satpol PP, Damkar, PDAM, TNI-Polri, serta warga setempat—dikerahkan. Armada pemadam dikerahkan ke titik-titik api di sekitar gardu, bahkan pagar gardu terpaksa dijebol untuk mempercepat akses selang air. Sebuah helikopter turut beroperasi, mengisap air dari Sungai Lamandau untuk penyemprotan udara.
Hingga pukul 19.00 WIB, beberapa titik api masih membesar. Petugas membangun parit pengaman untuk memperlambat laju api, sambil terus memantau pergerakan kobaran agar tidak mencapai objek vital maupun rumah warga. "Petugas gabungan masih bersiaga hingga dini hari, memastikan api tidak semakin mendekati Gardu Induk maupun permukiman," tambah Hendikel.
Di sebelah timur, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) juga dilanda ancaman serupa. Tim satgas karhutla Kobar memusatkan upaya di Karang Anyar dan Kumpai Batu Bawah, di mana api dilaporkan sudah mengincar permukiman. Kepala Bidang Operasi Satgas, Dwi Agus Suhartono, mengingatkan bahwa titik api baru juga muncul di kawasan Kubu, dekat area pemancingan.
Analisis Pakar
Situasi karhutla di Kalimantan Tengah bukan sekadar bencana alam; ia mencerminkan kegagalan kebijakan pengelolaan lahan gambut yang telah berlangsung puluhan tahun. Pemerintah daerah dan pusat masih mengandalkan pendekatan reaktif—pemadaman dan penyekatan—tanpa menyentuh akar penyebab: konversi lahan gambut menjadi lahan pertanian atau perkebunan tanpa mitigasi risiko kebakaran.
Ketergantungan pada armada darat dan helikopter menunjukkan keterbatasan infrastruktur pemadam kebakaran di wilayah ini. Helikopter yang mengisap air dari sungai hanyalah solusi sementara; tanpa jaringan pemadam permanen, setiap kebakaran akan kembali menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial yang signifikan.
Lebih mengkhawatirkan adalah pola alokasi sumber daya. Meskipun ratusan personel dikerahkan, koordinasi antar lembaga masih terfragmentasi. Contohnya, pemotongan pagar gardu yang dilakukan tanpa prosedur keamanan yang jelas menimbulkan potensi kerusakan infrastruktur kritis. Diperlukan satuan komando terpadu yang memiliki otoritas penuh atas semua elemen—militer, kepolisian, dan sipil—untuk mengoptimalkan respons.
Terakhir, perubahan iklim memperparah kondisi lahan gambut yang kering. Tanpa upaya restorasi ekosistem, termasuk reboisasi dan pengembalian fungsi lahan basah, wilayah ini akan terus menjadi zona rawan kebakaran. Pemerintah harus mengintegrasikan kebijakan mitigasi iklim dengan rencana tata ruang, serta memberikan insentif bagi petani yang beralih ke praktik pertanian berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama kebakaran di Lamandau?
A: Lahan gambut yang kering dan konversi lahan pertanian tanpa mitigasi menjadi faktor utama penyebaran api. - Q: Berapa banyak personel yang dikerahkan untuk memadamkan kebakaran?
A: Lebih dari seratus personel gabungan, termasuk BPBD, TNI, Polri, Satpol PP, damkar, PDAM, dan relawan masyarakat. - Q: Apa langkah jangka panjang yang diperlukan untuk mencegah karhutla di wilayah ini?
A: Restorasi lahan gambut, penegakan regulasi tata ruang, pembentukan satuan komando terpadu, serta investasi infrastruktur pemadam kebakaran yang permanen.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Pembebasan Sanksi Pajak Kendaraan di DKI Jakarta Resmi Berlaku 2 November 2026, Tanpa Perlu Ajukan Permohonan

Rano Karno Soroti Peran Gotong Royong dalam Solusi Ketahanan Kota di Depan Delegasi CityNet

Angelalign Luncurkan Bahan Aligner SuperElastic, Dorong Terobosan Ortodonti Global
