Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

PLTP Gunung Ungaran Siap Dibangun: Potensi 23 GW Geothermal Indonesia Masih 88% Tertunda

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

PLTP Gunung Ungaran Siap Dibangun: Potensi 23 GW Geothermal Indonesia Masih 88% Tertunda
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menlu Bahlil Lahadalia resmi beri izin PLN bangun PLTP di Gunung Ungaran.
  • 5 WKP dan 7 wilayah survei eksplorasi dijadwalkan 2026, termasuk proyek Pertamina Geothermal Energy.
  • Indonesia masih belum manfaatkan 88% potensi panas bumi (23.202 MW), peluang besar bagi energi bersih dan kompetisi dengan bahan bakar fosil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menandatangani Surat Keputusan (SK) yang memberi hak eksklusif kepada PT PLN untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran. Keputusan ini diumumkan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, pada acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, 19 Agustus 2024.

Selain PLTP Gunung Ungaran, SK juga mengalokasikan wilayah kerja panas bumi Telaga Ranu kepada PT Telaga Ranu Geothermal. Pemerintah menyiapkan penawaran lima WKP dan tujuh wilayah penugasan survei pendahuluan serta eksplorasi yang dijadwalkan pada tahun 2026. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mendapat mandat survei pendahuluan di Cugudang Panti, sementara PT Cakrawala Bituang Geothermal ditunjuk untuk wilayah Bituang.

Data Kementerian ESDM menunjukkan total potensi panas bumi nasional mencapai 23.202,77 MW, namun kapasitas terpasang baru mencapai 2.776,39 MW. Artinya, lebih dari 88% potensi masih belum tergarap. Eniya menegaskan bahwa percepatan pengembangan panas bumi dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengingat PLTP dapat beroperasi 24 jam tanpa fluktuasi.

Analisis Pakar

Pengumuman ini menandai titik balik strategis bagi sektor energi Indonesia. Dari perspektif bisnis, izin PLTP di Gunung Ungaran membuka peluang investasi jangka panjang yang stabil, mengingat biaya operasional panas bumi jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Investor dapat mengharapkan margin EBITDA yang lebih tinggi karena biaya bahan bakar hampir nol setelah fase konstruksi selesai.

Namun, tantangan regulasi masih mengintai. Revisi Peraturan Pemerintah No. 7 yang sedang dibahas—termasuk rencana lelang satu tahap—harus memastikan transparansi dan kepastian hukum bagi pelaku swasta. Tanpa kerangka lelang yang jelas, risiko proyek tertunda atau terhambat oleh proses perizinan yang berlapis dapat mengurangi minat investor asing.

Selanjutnya, integrasi PLTP ke dalam jaringan PLN harus dioptimalkan. Sistem transmisi yang masih terbatas di beberapa daerah dapat menimbulkan bottleneck, mengurangi nilai ekonomis proyek. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan serta mengadopsi mekanisme pasar energi yang memungkinkan penjualan listrik ke sektor industri dengan tarif premium.

Terakhir, potensi 88% yang belum tergarap menandakan ruang pertumbuhan yang luar biasa. Jika pemerintah berhasil menggelar lelang terstruktur dan menyediakan insentif fiskal—seperti tax holiday atau feed-in tariff yang kompetitif—Indonesia dapat menjadi pemimpin regional dalam energi panas bumi, sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan proyek PLTP Gunung Ungaran akan mulai dibangun?
    A: Berdasarkan SK yang baru diterbitkan, proses tender diperkirakan selesai akhir 2024, dengan konstruksi dimulai pada awal 2025.
  • Q: Berapa kapasitas listrik yang akan dihasilkan oleh PLTP ini?
    A: Proyek awal diperkirakan menghasilkan sekitar 500 MW, dengan potensi ekspansi hingga 1 GW tergantung hasil eksplorasi lanjutan.
  • Q: Apa manfaat ekonomi bagi daerah sekitar Gunung Ungaran?
    A: Pembangunan PLTP akan menciptakan ribuan lapangan kerja konstruksi, meningkatkan pendapatan daerah melalui pajak, dan menyediakan listrik yang stabil untuk industri lokal.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸