Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Napas Tersengal di Garis Depan: Potret Relawan Karhutla yang Tumbang Akibat Kelalaian Negara

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Napas Tersengal di Garis Depan: Potret Relawan Karhutla yang Tumbang Akibat Kelalaian Negara
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Seorang relawan karhutla di Kotawaringin Timur, Rizky Mubarrak, dilarikan ke IGD akibat sesak napas dan kelelahan ekstrem setelah berjam-jam memadamkan api tanpa alat pelindung yang memadai.
  • Krisis kebakaran hutan di wilayah Mentawa Baru Ketapang dilaporkan kian tidak terkendali, membentang dari Desa Bapanggang hingga Kelurahan Pasir Putih.
  • Camat setempat mengungkap minimnya bantuan dari pemerintah daerah, di mana relawan harus bekerja secara swadaya selama sebulan penuh dengan dukungan operasional yang sangat minim.

Tragedi kemanusiaan kembali mewarnai bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Kali ini, seorang relawan gigih bernama Rizky Mubarrak harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit setelah tumbang di garis depan pertempuran melawan api di Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Rizky, yang merupakan anggota aktif kelompok relawan kemanusiaan dari Masjid Jami, mengalami sesak napas akut dan kelelahan ekstrem. Ia terpapar kabut asap pekat saat berupaya melokalisasi titik api yang terus menjalar. Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengonfirmasi bahwa kondisi fisik Rizky menurun drastis setelah berjam-jam mengepung api dengan peralatan seadanya.

Kondisi di lapangan dilaporkan kian mencekam. Irpansyah menegaskan bahwa karhutla di wilayahnya kini telah berada di luar kendali, membentang luas dari Desa Bapanggang hingga Kelurahan Pasir Putih. Ironisnya, di tengah eskalasi bencana yang mengancam pemukiman warga, para relawan justru berjuang dalam kesendirian tanpa sokongan logistik yang memadai dari otoritas terkait.

Selama lebih dari satu bulan, aksi pemadaman dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan relawan lokal. Kendala klasik seperti kelangkaan air, ketiadaan armada pengangkut, hingga minimnya bahan bakar minyak (BBM) menjadi tembok tebal yang harus mereka hadapi. Bantuan dari pemerintah, dalam hal ini BPBD Kotawaringin Timur, dinilai sangat terlambat dan tidak signifikan—hanya berupa 30 liter BBM yang diserahkan baru-baru ini. Angka yang tentu saja menggelikan untuk memadamkan kebakaran skala masif.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal isu lingkungan selama puluhan tahun, saya melihat jatuhnya korban dari kalangan relawan ini bukan sekadar kecelakaan kerja biasa. Ini adalah potret nyata dari kelalaian sistemik negara dalam memitigasi bencana tahunan yang polanya sangat mudah ditebak. Sangat memprihatinkan melihat bagaimana para relawan sipil dipaksa bertaruh nyawa di garis depan, sementara lembaga negara yang memiliki anggaran dan mandat hukum justru terkesan lamban dan minim kehadiran di lapangan.

Fakta bahwa para relawan harus bergerak secara swadaya selama lebih dari sebulan dengan bantuan BBM yang hanya "30 liter" adalah sebuah tamparan keras bagi birokrasi penanggulangan bencana kita. Ini menunjukkan adanya disfungsi koordinasi dan ketidakpedulian anggaran (budgetary neglect) terhadap keselamatan publik. Pemerintah daerah tidak boleh terus-menerus berlindung di balik heroisme masyarakat sipil untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam menyediakan sarana prasarana pemadaman yang layak.

Lebih jauh lagi, pembiaran karhutla hingga mencapai status "tidak terkendali" di Kotawaringin Timur mengindikasikan lemahnya penegakan hukum dan pengawasan terhadap tata kelola lahan. Kebakaran hutan bukanlah fenomena alam murni; ia adalah akibat dari akumulasi keserakahan korporasi dan kelonggaran regulasi. Jika negara terus mengandalkan paru-paru para relawan untuk memadamkan api keserakahan ini tanpa memberikan jaminan keselamatan dan peralatan yang memadai, maka kita sedang melegalkan eksploitasi kemanusiaan atas nama penanggulangan bencana.

Sudah saatnya ada audit investigatif menyeluruh terhadap alokasi dana darurat bencana di Kalimantan Tengah. Kita perlu mempertanyakan ke mana perginya anggaran penanggulangan karhutla jika untuk urusan operasional mendasar seperti air dan BBM saja masyarakat harus memikulnya sendiri. Negara harus hadir secara utuh, bukan sekadar datang membawa bantuan simbolis saat media mulai menyoroti jatuhnya korban.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Siapa relawan karhutla yang dilarikan ke IGD di Kotawaringin Timur?
A: Relawan tersebut bernama Rizky Mubarrak, seorang anggota kelompok relawan aktif dari Masjid Jami, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Q: Apa penyebab relawan tersebut harus mendapatkan perawatan medis darurat?
A: Rizky mengalami sesak napas akut dan kelelahan ekstrem akibat terpapar asap tebal selama berjam-jam saat memadamkan api di Kecamatan Baamang.

Q: Bagaimana kondisi dukungan pemerintah terhadap pemadaman karhutla di wilayah tersebut?
A: Sangat minim. Selama lebih dari sebulan, pemadaman dilakukan secara swadaya oleh relawan dan warga. Bantuan dari BPBD setempat dilaporkan sangat terlambat dan tidak mencukupi kebutuhan operasional di lapangan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸