MRT Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Blok M & Senayan: Peluang Bisnis Besar di Tengah Kota
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) menguji model extended concourse pertama di Stasiun BundaranHI sebagai prototipe konektivitas bawah tanah.
- Jika berhasil, jalur serupa dapat dibangun di kawasan komersial strategis seperti BlokM dan Senayan, meningkatkan okupansi mall hingga 99,9%.
- Proyek seluas 4.439 m² dijadwalkan selesai Mei 2027, menyiapkan 24 ruang multifungsi dan integrasi dengan Plaza Indonesia serta Wisma Nusantara.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Ferdiansyah Roestam, menegaskan bahwa MRTJakarta kini memasuki fase eksperimen konektivitas bawah tanah setelah penyelesaian proyek di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI). "Extended concourse ini belum pernah ada di Indonesia. Kami harus memulai dari nol, mengatasi tantangan utilitas yang tidak sesuai gambar as‑built, dan tetap memastikan keamanan serta kenyamanan pejalan kaki," ujarnya dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026.
Selama proses pengeboran, tim menemukan kabel utilitas yang berada 30‑40 cm di luar perkiraan, memaksa mereka melakukan penyesuaian teknik secara cepat. "Kami harus berpikir seperti engineer sekaligus kuli proyek," kata Ferdi, menekankan pentingnya fleksibilitas dalam eksekusi.
Keberhasilan konektivitas di Blok M menjadi contoh konkret dampak ekonomi: sebuah mal berusia lebih dari 30 tahun yang semula hampir kosong kini mencapai tingkat okupansi 99,9 % dan bahkan kehabisan ruang sewa. "Koneksi MRT mengubah pola mobilitas, menarik konsumen dari radius yang jauh, dan pada akhirnya menaikkan nilai sewa," tambahnya.
Pengembangan mixed‑use di kawasan perkotaan juga mendapat dorongan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur Pramono Anung menginginkan integrasi antara moda transportasi publik dan fasilitas komersial, perkantoran, serta area olahraga. Ferdi menegaskan, "Bangunan tidak lagi berfungsi tunggal; mereka harus menjadi pusat aktivitas yang terhubung dengan jaringan transportasi."
Ruang bawah tanah di Bundaran HI dirancang seluas 4.439 m² dengan 24 zona multifungsi, mencakup retail, F&B, layanan, dan coworking. Selain itu, panel knock‑down akan menghubungkan langsung ke basement 1 Plaza Indonesia dan basement 1 Wisma Nusantara, menciptakan alur pejalan kaki yang mulus.
Proyeksi peningkatan penumpang di Stasiun Bundaran HI diperkirakan naik sekitar 6.000 rider setelah jaringan MRT diperpanjang ke Stasiun Thamrin, Monas, dan akhirnya Jakarta Kota. Penyelesaian proyek ditargetkan Mei 2027, dengan peresmian pada Juni 2027 bertepatan dengan peringatan lima abad Jakarta.
Analisis Pakar
Secara makro, proyek extended concourse ini menandai pergeseran paradigma infrastruktur transportasi di Jakarta. Selama dekade terakhir, kota ini bergumul dengan kemacetan dan keterbatasan lahan. Dengan mengoptimalkan ruang vertikal—khususnya ruang bawah tanah—MRT tidak hanya meningkatkan kapasitas penumpang, tetapi juga membuka nilai tambah properti yang signifikan. Setiap meter persegi ruang komersial yang terhubung langsung ke jaringan transportasi publik dapat menambah premium sewa sebesar 15‑20 % dibandingkan properti yang tidak terhubung.
Namun, tantangan teknis yang dihadapi—seperti ketidaksesuaian utilitas—menunjukkan perlunya koordinasi yang lebih ketat antara otoritas transportasi, utility provider, dan pengembang properti. Tanpa data as‑built yang akurat, biaya tak terduga dapat melonjak hingga 30 % dari estimasi awal, menggerus margin keuntungan. Oleh karena itu, pemerintah harus memperkuat basis data GIS kota dan mewajibkan standar penyampaian informasi utilitas sebelum proyek konstruksi dimulai.
Dari perspektif bisnis, kawasan BlokM dan Senayan memiliki potensi mixed‑use development yang sangat menguntungkan. Investor dapat memanfaatkan model Transit‑Oriented Development (TOD) dengan menggabungkan perkantoran kelas A, ruang ritel premium, dan fasilitas hiburan dalam satu kompleks yang terintegrasi dengan MRT. Hal ini tidak hanya meningkatkan nilai properti, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang berkelanjutan.
Terakhir, aspek inklusivitas yang diangkat Ferdi—seperti jalur pedestrian yang ramah perempuan dan penyandang disabilitas—harus menjadi standar desain, bukan opsi tambahan. Kota yang dapat menyediakan infrastruktur universal akan menarik tenaga kerja berkualitas tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas ekonomi regional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan proyek extended concourse di Bundaran HI akan selesai?
A: Target penyelesaian adalah Mei 2027, dengan peresmian pada Juni 2027. - Q: Apa manfaat utama bagi pemilik mall jika terhubung dengan MRT?
A: Koneksi MRT dapat meningkatkan okupansi hingga hampir 100 % dan menaikkan nilai sewa sekitar 15‑20 %. - Q: Apakah ada rencana serupa di Blok M dan Senayan?
A: Saat ini masih dalam studi kelayakan; keputusan akan bergantung pada kesiapan proyek, perencanaan kawasan, dan kesepakatan dengan pemilik aset.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi Status Pajak Pembalut: Tetap Dikenakan PPN Efektif 11%

Ancaman Serangan dan Lonjakan Harga: Dampak Konflik Iran-AS-Israel pada Ekonomi Global

Pertamina Targetkan Transaksi Rp2,5 Miliar Lewat SMEXPO Bekasi: 50 UMKM Didorong Ekspansi Pasar
