Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa Susulan M6,0 di Ruteng Bikin Warga Meninggal Akibat Serangan Jantung, BNPB Catat 72 Korban Jiwa

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa Susulan M6,0 di Ruteng Bikin Warga Meninggal Akibat Serangan Jantung, BNPB Catat 72 Korban Jiwa
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Gempa susulan magnitude 6,0 mengguncang Ruteng, NTT pada 20 Agustus pukul 09.46 WIB.
  • Satu korban, Servolus Jebarus , meninggal karena serangan jantung yang dipicu kepanikan.
  • BNPB melaporkan total korban meninggal naik menjadi 72 jiwa, dengan ribuan rumah rusak dan ribuan orang mengungsi.

Ringkasan Singkat

  • Gempa susulan magnitude 6,0 mengguncang Ruteng, NTT pada 20 Agustus pukul 09.46 WIB.
  • Satu korban, Servolus Jebarus, meninggal karena serangan jantung yang dipicu kepanikan.
  • BNPB melaporkan total korban meninggal naik menjadi 72 jiwa, dengan ribuan rumah rusak dan ribuan orang mengungsi.

Gempa susulan dengan magnitudo 6,0 mengguncang Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (20/8) pukul 09.46 WIB (10.46 WITA). Pusat gempa berada 43 km timur laut kota, dengan kedalaman 10 km di bawah permukaan. BMKG menegaskan tidak ada potensi tsunami, meski gempa ini merupakan aftershock dari gempa utama magnitude 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus.

Menurut laporan lapangan, satu warga bernama Servolus Jebarus, 56 tahun, meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung yang dipicu kepanikan saat aftershock pertama dirasakan. Hiro, saudara korban, menyampaikan bahwa suara teriakan warga dan kepanikan di dalam rumah membuat Servolus jatuh lemas. Meskipun segera dilarikan ke RSUD Ben Mboi Ruteng, tim medis tidak berhasil menyelamatkannya.

Korban meninggalkan istri dan lima anak, menambah beban psikologis bagi keluarga yang sudah terpuruk akibat bencana. Sementara itu, BNPB mencatat total korban meninggal naik menjadi 72 jiwa, 900 luka-luka, lebih dari 82.000 orang mengungsi, dan hampir 30.000 rumah rusak (11.699 berat, 6.542 sedang, 10.760 ringan). Infrastruktur publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, kantor pemerintahan, serta jaringan transportasi juga terdampak.

Letjen Suharyanto, Kepala BNPB, memperingatkan bahwa aftershock masih dapat terjadi selama 2‑3 minggu ke depan. Ia menegaskan bahwa gempa susulan cenderung berintensitas lebih kecil dan tidak menimbulkan tsunami, namun masyarakat harus tetap waspada dan menghindari kepanikan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Upaya penanggulangan meliputi distribusi bantuan, perbaikan infrastruktur darurat, dan penyuluhan kesehatan mental untuk mengurangi trauma pascabencana.

Analisis Pakar

Secara teknis, aftershock magnitude 6,0 masih berada dalam zona bahaya tinggi, mengingat kedalaman yang dangkal (10 km) dan kedekatannya dengan pusat pemukiman. Fenomena kematian karena serangan jantung bukanlah hal baru dalam konteks gempa, namun menyoroti kegagalan sistem peringatan dini psikologis. Pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana tampaknya masih belum mengintegrasikan pendekatan kesehatan mental dalam protokol evakuasi, meski data BMKG menunjukkan frekuensi aftershock yang sangat tinggi (lebih dari 3.400 per hari).

Selain itu, respons medis di RSUD Ben Mboi menunjukkan keterbatasan dalam penanganan kasus darurat kardiovaskular yang dipicu stres. Ketersediaan defibrillator, tenaga medis terlatih dalam penanganan serangan jantung, serta prosedur triase yang cepat menjadi faktor penentu yang belum optimal. Ini menuntut evaluasi ulang terhadap kesiapsiagaan rumah sakit di daerah rawan gempa.

Di sisi lain, komunikasi publik masih terfragmentasi. Meskipun BMKG dan BNPB secara rutin mengeluarkan pernyataan, penyampaian pesan kepada warga yang paling rentan—seperti lansia dan penderita penyakit kronis—kurang tepat sasaran. Penggunaan media lokal, jaringan RT/RW, serta pendekatan berbasis komunitas dapat meningkatkan efektivitas peringatan dan mengurangi kepanikan yang berujung fatal.

Terakhir, pencatatan kerusakan infrastruktur menunjukkan beban ekonomi yang signifikan bagi NTT. Dengan lebih dari 29.000 rumah rusak dan ribuan fasilitas publik terganggu, pemerintah pusat harus mempercepat alokasi dana bantuan, sekaligus memastikan transparansi dalam penyaluran. Tanpa koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, BNPB, dan lembaga kemanusiaan, proses rehabilitasi dapat terhambat, memperpanjang penderitaan korban.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah gempa susulan M6,0 di Ruteng berpotensi menimbulkan tsunami?
    A: Tidak. BMKG telah memastikan tidak ada potensi tsunami dari aftershock ini.
  • Q: Mengapa korban meninggal karena serangan jantung, bukan tertimpa bangunan?
    A: Kepanikan yang meluas saat gempa memicu stres ekstrem, memicu serangan jantung pada penderita dengan riwayat penyakit jantung.
  • Q: Apa langkah yang harus diambil warga dengan riwayat penyakit jantung saat gempa?
    A: Tetap tenang, cari tempat aman, hindari kepanikan, dan siapkan obat serta nomor darurat medis sebelum bencana terjadi.
Meow! Tanya Nesi!
😸