Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,3 Guncang Ruteng, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau BMKG

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M5,3 Guncang Ruteng, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau BMKG
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Gempa ini terdeteksi oleh jaringan seismometer nasional dan dilaporkan secara real‑time melalui aplikasi Gempa Indonesia.
  • Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, getaran terasa hingga wilayah Lombok, Sumbawa, dan sebagian kecil Bali, namun hingga saat ini belum ada laporan kerusakan struktural atau korban jiwa.
  • Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap waspada, menyiapkan perlengkapan darurat, dan menghindari penggunaan lift serta bangunan tinggi sampai aftershock berkurang.

BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitude 5,3 terjadi pada 20 Agustus 2026 pukul 12:30:52 WIB di kedalaman yang belum dipublikasikan, berpusat 48 km NNE (utara‑timur‑utara) kota Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur. Gempa ini terdeteksi oleh jaringan seismometer nasional dan dilaporkan secara real‑time melalui aplikasi Gempa Indonesia.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, getaran terasa hingga wilayah Lombok, Sumbawa, dan sebagian kecil Bali, namun hingga saat ini belum ada laporan kerusakan struktural atau korban jiwa. Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap waspada, menyiapkan perlengkapan darurat, dan menghindari penggunaan lift serta bangunan tinggi sampai aftershock berkurang.

Tim tanggap darurat BMKG bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas seismik di zona tersebut. Data awal menunjukkan tidak ada peringatan tsunami, namun peringatan dini tetap diaktifkan mengingat kedekatan wilayah dengan laut selatan Flores.

Wilayah Flores terletak di zona subduksi kompleks antara Lempeng Australia yang bergerak ke barat laut dan Lempeng Sunda yang relatif stabil. Tekanan tektonik ini melahirkan rangkaian patahan utama, termasuk Patahan Flores (Flores Thrust) dan sistem sesar transformasi yang menghubungkan zona subduksi dengan cekungan back‑arc. Sejarah gempa di daerah ini menunjukkan pola berulang gempa berkekuatan menengah hingga kuat, dengan kejadian signifikan pada tahun 1992 (M6,1), 2018 (M6,9), dan 2021 (M5,8).

Analisis Pakar Geofisika

Gempa M5,3 ini diperkirakan berhubungan dengan sesar aktif pada lapisan kerak yang berada di sepanjang zona subduksi Flores. Patahan Flores, yang merupakan bagian dari sistem thrust, menyalurkan energi tektonik dari Lempeng Australia ke Lempeng Sunda, menghasilkan deformasi vertikal dan horisontal. Karena kedalaman gempa belum dipublikasikan, estimasi awal menempatkannya pada kedalaman menengah (10‑30 km), yang biasanya menghasilkan getaran kuat di permukaan namun jarang memicu tsunami signifikan.

Sejarah kegempaan di wilayah ini menunjukkan bahwa gempa dengan magnitude di atas 6,0 berpotensi menimbulkan tsunami lokal, terutama bila terjadi di dasar laut dangkal. Namun, gempa M5,3 yang berpusat daratan dan pada kedalaman menengah memiliki potensi tsunami yang sangat rendah. Meskipun demikian, BMKG tetap mengaktifkan peringatan tsunami otomatis sebagai langkah preventif.

Potensi gempa susulan (aftershock) tinggi mengingat zona subduksi masih dalam proses relaksasi pasca‑gempa utama. Aftershock biasanya berkurang secara eksponensial dalam beberapa hari pertama, namun gempa susulan dengan magnitude 4,0‑5,0 masih mungkin terjadi. Masyarakat disarankan untuk mengikuti instruksi evakuasi, memeriksa kondisi bangunan secara berkala, dan tetap terhubung dengan kanal resmi informasi bencana.

Meow! Tanya Nesi!
😸