Gempa M 4,5 Guncang Selatan Singaparna, Pakar Soroti Aktivitas Subduksi Lempeng Selatan Jawa
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
- Masyarakat di wilayah pesisir selatan Jawa Barat dikejutkan oleh guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,5 pada Kamis sore, 20 Agustus 2026, pukul 17:31:33 WIB.
- Guncangan dilaporkan dirasakan di beberapa wilayah sekitar Tasikmalaya, Pangandaran, hingga Garut dengan skala intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity).
- Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk berat yang sedang berlalu.
Masyarakat di wilayah pesisir selatan Jawa Barat dikejutkan oleh guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,5 pada Kamis sore, 20 Agustus 2026, pukul 17:31:33 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di laut, tepatnya pada koordinat yang berjarak sekitar 85 kilometer arah barat daya (SSW) dari Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Guncangan dilaporkan dirasakan di beberapa wilayah sekitar Tasikmalaya, Pangandaran, hingga Garut dengan skala intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk berat yang sedang berlalu. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa tektonik tersebut. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengimbau warga untuk tetap tenang dan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.
Analisis Pakar Geofisika
Secara tektonik, wilayah selatan Jawa Barat merupakan salah satu kawasan dengan tingkat aktivitas seismik paling aktif di Indonesia. Gempa bumi berkekuatan M 4,5 yang berpusat di selatan Singaparna ini terjadi di zona transisi subduksi, di mana Lempeng Samudra Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Benua Eurasia (Sunda Megathrust) dengan laju pergerakan sekitar 6 hingga 7 sentimeter per tahun. Berdasarkan lokasi episentrumnya, gempa ini dipicu oleh aktivitas deformasi batuan di zona penunjaman tersebut, baik pada bidang kontak antar-lempeng (interplate) maupun di dalam lempeng yang menyusup (intraslab).
Sejarah kegempaan menunjukkan bahwa kawasan selatan Jawa memiliki rekam jejak seismik yang sangat aktif dan destruktif. Beberapa peristiwa besar di masa lalu, seperti Gempa Tasikmalaya 2009 (M 7,3) dan Gempa Tsunami Pangandaran 2006 (M 7,7), menjadi pengingat bahwa akumulasi energi tektonik di zona subduksi ini terus berlangsung. Namun, untuk gempa dengan magnitudo 4,5, energi yang dilepaskan tidak cukup kuat untuk memicu deformasi dasar laut secara vertikal yang dapat memindahkan volume air secara masif. Oleh karena itu, gempa ini dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Meskipun tidak memicu tsunami, potensi terjadinya gempa susulan (aftershocks) tetap ada sebagai proses alamiah pelepasan sisa tegangan (stress) pada batuan di sekitar pusat gempa. Karakteristik gempa susulan ini umumnya akan terus menurun, baik dari segi frekuensi maupun kekuatannya, seiring berjalannya waktu hingga kondisi tektonik kembali stabil. Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi dari sumber resmi BMKG dan terus meningkatkan kesiapsiagaan mitigasi bencana mandiri.