Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Bukan Cuma Tambang, RI Kini Punya IBMA: Langkah Raksasa Menuju Pusat Bank Emas Asia Tenggara

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Bukan Cuma Tambang, RI Kini Punya IBMA: Langkah Raksasa Menuju Pusat Bank Emas Asia Tenggara
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Fondasi Kuat: Setahun sejak diluncurkan, Bank Emas (bullion bank) nasional kini mengelola 177 ton emas, didominasi oleh Pegadaian (153 ton) dan BSI (24 ton).
  • Era Baru IBMA: Pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) pada 18 Agustus 2026 menjadi tonggak sejarah integrasi pelaku industri emas dari hulu ke hilir.
  • Target Makro: Langkah strategis ini merupakan bagian dari visi Astacita untuk mendorong hilirisasi emas demi menyokong target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Ringkasan Singkat

  • Fondasi Kuat: Setahun sejak diluncurkan, Bank Emas (bullion bank) nasional kini mengelola 177 ton emas, didominasi oleh Pegadaian (153 ton) dan BSI (24 ton).
  • Era Baru IBMA: Pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) pada 18 Agustus 2026 menjadi tonggak sejarah integrasi pelaku industri emas dari hulu ke hilir.
  • Target Makro: Langkah strategis ini merupakan bagian dari visi Astacita untuk mendorong hilirisasi emas demi menyokong target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Satu tahun pasca-peluncuran oleh Presiden Prabowo Subianto, peta jalan industri emas Indonesia mencatatkan lompatan kuantum. Tidak lagi sekadar menjadi eksportir bahan mentah, Indonesia kini resmi menancapkan taringnya di kancah finansial global melalui pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) pada 18 Agustus 2026. Langkah ini menjadi katalis penting dalam mempercepat pendalaman pasar keuangan berbasis emas (bullion) di tanah air.

Hingga saat ini, kapasitas pengelolaan emas nasional telah mencapai angka fantastis, yakni sekitar 177 ton. Angka ini ditopang kuat oleh Pegadaian dengan porsi jumbo sebesar 153 ton, disusul oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar 24 ton. Pencapaian luar biasa ini bahkan mendapat apresiasi langsung dari Presiden dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menegaskan bahwa keberadaan Bank Emas adalah instrumen strategis untuk mengamankan aset negara sekaligus mengerek nilai tambah komoditas lokal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kehadiran IBMA menandai babak baru. Fokus pemerintah kini bergeser dari sekadar membangun fondasi regulasi menuju penciptaan pasar yang likuid, efisien, dan transparan. "Tantangan kita bukan lagi soal seberapa banyak emas yang bisa kita gali, melainkan bagaimana emas tersebut berputar di dalam negeri untuk menciptakan multiplier effect bagi ekonomi nasional," tegas Airlangga.

IBMA sendiri dihuni oleh raksasa lintas sektor. Mulai dari emiten tambang seperti Amman Mineral, manufaktur perhiasan seperti Hartadinata Abadi dan Central Mega Kencana (CMK), hingga platform digital seperti Laku Emas. Di bawah kepemimpinan Selfie Dewiyanti sebagai Ketua Umum dan Anton Sukarna sebagai Sekretaris Jenderal, IBMA diproyeksikan menjadi jembatan yang menghubungkan ekosistem hulu-hilir demi mewujudkan Indonesia sebagai bullion hub utama di Asia Tenggara.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat pembentukan IBMA bukan sekadar seremonial korporasi biasa, melainkan sebuah reformasi struktural yang sudah sangat lama dinantikan. Selama berdekade-dekade, Indonesia terjebak dalam fenomena financial shallowingโ€”di mana pasar keuangan domestik kita terlalu dangkal untuk menyerap potensi likuiditas besar, sehingga memicu pelarian modal (capital flight) ke luar negeri. Dengan mengintegrasikan ekosistem emas, kita sedang menciptakan instrumen finansialisasi baru yang mengubah emas dari sekadar "aset mati" di brankas menjadi aset produktif yang sangat likuid.

Dari sudut pandang geopolitik dan moneter, langkah ini adalah strategi defensif sekaligus ofensif yang brilian. Di tengah tren dedolarisasi global dan ketidakpastian geopolitik, bank sentral di seluruh dunia berlomba-lomba menimbun emas. Indonesia, yang menurut data World Gold Council menempati peringkat ke-10 produsen emas dunia dengan produksi 104 ton pada 2025, selama ini mengalami ironi ekonomi: kita mengekspor emas mentah, lalu membelinya kembali dalam bentuk produk jadi atau instrumen keuangan dari Singapura atau London. Dengan adanya IBMA dan sistem bullion bank yang matang, kita memotong rantai tersebut dan menjaga nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

Namun, mari kita bersikap realistis dan kritis. Untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi ambisius sebesar 8 persen pada tahun 2029 di bawah visi Astacita, IBMA tidak boleh hanya menjadi "macan kertas" atau klub eksklusif para konglomerat. Pemerintah harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah terbesar: harmonisasi regulasi dan insentif fiskal. Kita membutuhkan kejelasan aturan pajak (seperti pembebasan PPN untuk emas batangan standar investasi) serta sinkronisasi yang mulus antara Bank Indonesia (BI), OJK, dan Bappebti. Tanpa ekosistem regulasi yang ramah bisnis, pasar bullion kita akan kalah bersaing dengan Singapura yang sudah jauh lebih mapan dan ramah pajak.

Terakhir, potensi ritel di Indonesia sangatlah masif mengingat masyarakat kita memiliki kedekatan kultural yang kuat dengan emas sebagai alat lindung nilai (hedging). Integrasi layanan bullion dengan sektor keuangan syariah melalui BSI dan jaringan luas Pegadaian adalah langkah cerdas. Jika IBMA mampu membangun platform perdagangan yang transparan, aman, dan berstandar internasional, kita akan melihat pergeseran masif dari investasi emas fisik informal ke sistem keuangan formal. Ini adalah kunci utama untuk memperdalam pasar keuangan nasional dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik dari guncangan eksternal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu Indonesia Bullion Market Association (IBMA) dan apa tujuannya?
A: IBMA adalah asosiasi yang mewadahi para pelaku industri emas dari hulu hingga hilir di Indonesia. Tujuannya adalah membangun ekosistem pasar emas (bullion) yang kredibel, transparan, efisien, dan berdaya saing global, serta memposisikan Indonesia sebagai pusat perdagangan emas di Asia Tenggara.

Q: Berapa banyak emas yang saat ini dikelola oleh bullion bank di Indonesia?
A: Saat ini, bullion bank di Indonesia mengelola sekitar 177 ton emas. Mayoritas dikelola oleh PT Pegadaian sebesar 153 ton, dan sisanya sebanyak 24 ton dikelola oleh Bank Syariah Indonesia (BSI).

Q: Mengapa pembentukan pasar bullion penting bagi perekonomian Indonesia?
A: Pasar bullion yang kuat membantu mengamankan aset nasional, mengurangi ketergantungan pada pasar keuangan luar negeri, meningkatkan likuiditas domestik, dan mendukung program hilirisasi emas untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ