Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Badai di Menara Gading FIFA! Infantino Kehilangan Sekutu Kunci, PSSI Tetap Setia Satu Komando!

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Badai di Menara Gading FIFA! Infantino Kehilangan Sekutu Kunci, PSSI Tetap Setia Satu Komando!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Posisi Gianni Infantino goyah setelah mundurnya COO FIFA Kevin Lamour akibat kontroversi rencana penjualan saham Piala Dunia.
  • Tokoh penting FIFA seperti Sandor Csanyi dan legenda Montenegro Dejan Savicevic melayangkan kritik keras terkait transparansi organisasi.
  • PSSI di bawah Erick Thohir memilih tetap setia berada di barisan pendukung Infantino menjelang Kongres FIFA 2027 di Maroko.

Halo pecinta sepak bola tanah air! Bung Dimas di sini, dan hari ini kita disuguhkan drama politik sepak bola tingkat tinggi yang benar-benar memanaskan suhu di markas besar FIFA! Kursi kepemimpinan sang presiden, Gianni Infantino, yang selama ini tampak kokoh bagai karang, kini mulai digoyang badai hebat jelang Pemilu Presiden FIFA mendatang. Isu sensitif mengenai penjualan saham Piala Dunia dan turnamen besar lainnya menjadi pemicu utama rontoknya dukungan dari para petinggi sepak bola dunia!

Situasi memanas setelah Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour, memutuskan hengkang dari badan sepak bola dunia tersebut. Kepergian Lamour bukanlah pengunduran diri biasa; ini adalah bentuk protes keras terhadap rencana komersialisasi radikal yang diusung Infantino. Langkah berani Lamour langsung memicu efek domino. Sandor Csanyi, Wakil Presiden FIFA asal Hungaria, langsung angkat bicara dan menyebut pemecatan atau mundurnya Lamour sebagai alarm bahaya bagi standar etik dan transparansi di tubuh FIFA.

Tak berhenti di situ, legenda AC Milan yang kini menjabat anggota Dewan FIFA, Dejan Savicevic, juga melayangkan kritik pedas. Savicevic menyebut pola komunikasi internal FIFA di bawah Infantino sangat mengkhawatirkan dan merusak fondasi organisasi. Namun, di tengah badai kritik dari Eropa, kesetiaan luar biasa justru datang dari Indonesia! Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tetap berada dalam satu komando mendukung Infantino untuk melanjutkan kepemimpinannya pada Kongres FIFA di Rabat, Maroko, 17 Maret 2027 mendatang.

Analisis Pakar

Melihat konstelasi politik FIFA saat ini, saya melihat adanya pergeseran tektonik yang sangat menarik untuk dianalisis. Mundurnya Kevin Lamour bukan sekadar mundurnya seorang profesional, melainkan sebuah 'retakan besar' di dalam sistem internal yang dibangun Infantino. Ketika seorang COO—yang mengendalikan operasional harian dan memahami seluruh dapur keuangan organisasi—memilih hengkang karena mengkritik komersialisasi Piala Dunia, ini adalah sinyal kuat bahwa ada ketidakberesan dalam tata kelola (governance) yang sedang dipaksakan.

Kritik dari Sandor Csanyi dan Dejan Savicevic menunjukkan bahwa blok Eropa (UEFA) mulai gerah dengan gaya kepemimpinan Infantino yang dinilai terlalu sentralistik dan kurang transparan. Menjual saham Piala Dunia, turnamen yang merupakan 'mahkota suci' sepak bola global, dinilai banyak pihak sebagai langkah yang terlalu kapitalistik dan berisiko menggadaikan masa depan sepak bola demi keuntungan jangka pendek. Ini adalah benturan ideologi yang nyata antara komersialisasi ekstrem versus pelestarian nilai-nilai murni olahraga.

Lalu, bagaimana kita membaca sikap PSSI? Keputusan Erick Thohir untuk tetap 'satu komando' mendukung Infantino adalah langkah geopolitik yang sangat taktis, meski penuh risiko. Kita harus realistis, Indonesia di bawah kepemimpinan Erick Thohir telah menerima banyak 'kebaikan' dari Infantino, mulai dari bantuan pasca-tragedi Kanjuruhan, penunjukan tuan rumah Piala Dunia U-17, hingga pendirian kantor FIFA di Jakarta. Bagi PSSI, menjaga hubungan baik dengan petahana adalah jaminan stabilitas dan kelangsungan program pembangunan sepak bola nasional yang sedang gencar-gencarnya kita lakukan saat ini.

Namun, politik sepak bola global sangat dinamis. Dengan waktu yang masih tersisa hingga Maret 2027, peta kekuatan bisa berubah drastis. Jika Infantino gagal meredam gejolak di Eropa dan nama-nama besar seperti Aleksander Ceferin atau Lise Klaveness mulai bermanuver secara agresif, PSSI harus siap dengan 'Plan B'. Setia itu bagus, tetapi dalam diplomasi olahraga internasional, keluwesan taktis adalah kunci agar kita tidak ikut tenggelam jika sang kapten kapal akhirnya karam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa dukungan terhadap Gianni Infantino mulai berkurang di FIFA?
A: Dukungan berkurang akibat kontroversi rencana penjualan saham Piala Dunia serta mundurnya COO FIFA, Kevin Lamour, yang mengkritik transparansi kepemimpinan Infantino.

Q: Bagaimana sikap PSSI terhadap situasi politik di FIFA saat ini?
A: PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir menegaskan sikap satu komando untuk tetap mendukung Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA.

Q: Kapan dan di mana pemilihan Presiden FIFA berikutnya akan dilaksanakan?
A: Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada tanggal 17 Maret 2027.

Meow! Tanya Nesi!
😸