Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Ironi Bencana NTT: Saat Bantuan Pemerintah Lambat, Pengungsi Bertahan Hidup dari Puing Besi Tua

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ironi Bencana NTT: Saat Bantuan Pemerintah Lambat, Pengungsi Bertahan Hidup dari Puing Besi Tua
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Keterlambatan bantuan logistik memaksa pengungsi gempa di Kota Borong, Manggarai Timur, NTT, mencari alternatif bertahan hidup yang ekstrem.
  • Warga yang mayoritas buruh tani beralih profesi menjadi pengumpul besi tua dari puing-puing bangunan runtuh untuk membiayai dapur umum mandiri.
  • Minimnya respons cepat dari pemerintah daerah memicu kritik tajam terkait manajemen mitigasi dan distribusi bantuan pascabencana.

Bencana alam gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan potret pilu sekaligus tamparan keras bagi birokrasi penanganan bencana kita. Di tengah guncangan gempa susulan yang masih terus mengintai, warga di Kota Borong terpaksa memutar otak secara ekstrem demi menyambung hidup. Absennya bantuan darurat dari pemerintah memaksa para pengungsi beralih profesi menjadi pencari besi tua di antara puing-puing reruntuhan bangunan.

Mayoritas korban terdampak yang berprofesi sebagai buruh tani kini didera trauma mendalam. Ketakutan akan potensi tsunami dan gempa susulan membuat mereka enggan kembali menggarap lahan pertanian. Dalam kondisi terjepit tanpa kepastian logistik, tumpukan puing bangunan yang hancur kini beralih fungsi menjadi ladang baru untuk bertahan hidup. Hasil penjualan besi bekas tersebut langsung dialokasikan untuk menyokong kebutuhan dapur umum pengungsian yang dikelola secara swadaya oleh warga.

Salah seorang warga setempat, Dionisius Parera, membeberkan realitas pahit ini pada Rabu (19/8). Ia menegaskan bahwa lambatnya distribusi bantuan memaksa warga mengambil langkah apa saja demi perut yang lapar. "Bantuan tak kunjung tiba. Sementara warga mayoritas buruh tani belum berani bekerja karena takut sewaktu-waktu terjadi gempa dan air laut naik. Akhirnya warga melakukan pekerjaan apa saja untuk dapat penghasilan, terutama untuk membiayai dapur umum selama mereka tinggal bersama di pengungsian," ungkap Dionisius dengan nada getir.

Di sudut lain, Aris Lodo (44), warga Bea Borong, mengamini situasi darurat ini. Baginya, puing-puing beton yang hancur adalah "penyelamat" sementara di tengah kelalaian sistemik pemerintah. Dalam sehari, Aris mampu mengumpulkan hingga 15 kilogram besi tua untuk dijual kepada pengepul lokal di Manggarai Timur. Meski demikian, ia sangat berharap agar bantuan bencana segera disalurkan secara merata agar warga bisa kembali menata kehidupan mereka dengan layak tanpa harus mengais reruntuhan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun meliput berbagai zona bencana di tanah air, saya melihat fenomena di Kota Borong ini bukan sekadar cerita tentang ketangguhan sosial (social resilience), melainkan sebuah manifestasi nyata dari kegagalan sistemik negara dalam melindungi warganya. Sangat memprihatinkan melihat para korban bencana harus mempertaruhkan keselamatan fisik mereka di antara puing-puing tajam demi mengais rupiah untuk sekadar makan. Di mana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial saat rakyatnya kelaparan?

Keterlambatan penyaluran bantuan dengan alasan birokrasi atau kendala geografis klasik sudah tidak bisa lagi ditoleransi di era modern ini. Mitigasi bencana seharusnya tidak berhenti pada simulasi di atas kertas, melainkan pada kesiapan logistik darurat yang dapat diakses dalam hitungan jam pasca-bencana. Ketika warga harus mendirikan dapur umum swadaya dan mendanainya dari hasil menjual besi tua, ini adalah sinyal merah bahwa rantai komando penanganan darurat di NTT sedang mengalami kelumpuhan fungsional.

Kita juga harus menyoroti dampak psikologis jangka panjang. Para buruh tani ini mengalami trauma ganda: kehilangan tempat tinggal dan kehilangan mata pencaharian akibat ketakutan akan gempa susulan. Tanpa adanya trauma healing dan jaminan keamanan dari otoritas terkait, pemulihan ekonomi daerah pascabencana akan berjalan sangat lambat. Pemerintah tidak boleh membiarkan warga berjuang sendiri dalam ketidakpastian yang berlarut-larut.

Oleh karena itu, saya mendesak Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk segera menghentikan retorika dan langsung turun ke lapangan. Audit menyeluruh terhadap alokasi anggaran dana siap pakai (DSP) penanggulangan bencana harus segera dilakukan. Rakyat tidak butuh janji manis di media massa; mereka butuh beras, obat-obatan, dan kepastian bahwa negara hadir di saat-saat paling gelap dalam hidup mereka.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa pengungsi gempa di Kota Borong mencari besi tua di puing bangunan?
A: Pengungsi terpaksa mencari besi tua karena bantuan logistik dari pemerintah terlambat datang, sementara mereka tidak bisa bekerja di ladang akibat trauma gempa susulan.

Q: Digunakan untuk apa hasil penjualan besi tua tersebut?
A: Sebagian besar hasil penjualan besi tua diserahkan kepada pengurus dapur umum mandiri di pengungsian untuk membeli bahan makanan bagi para korban.

Q: Apa tuntutan utama warga terdampak gempa di Manggarai Timur saat ini?
A: Warga menuntut pemerintah segera menyalurkan bantuan logistik dan pangan secara merata agar mereka tidak perlu lagi mengais puing-puing berbahaya untuk bertahan hidup.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ