Gempa Susulan NTT Diprediksi Bertahan Hingga 30 Hari: BMKG Warnai Risiko, BNPB Siapkan Bantuan Besar

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa Susulan NTT Diprediksi Bertahan Hingga 30 Hari: BMKG Warnai Risiko, BNPB Siapkan Bantuan Besar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • BMKG memproyeksikan gempa susulan di NTT akan terus terjadi selama 21‑30 hari ke depan, meski intensitasnya menurun.
  • Sejak gempa utama magnitude 7,7 pada 15 Agustus 2026, tercatat lebih dari 3.000 gempa susulan, termasuk 25 kejadian magnitude ≄5, serta 86 gempa yang dirasakan masyarakat.
  • BNPB menyiapkan skema bantuan rumah rusak ringan hingga berat, termasuk dana hunian sementara (DTH) dan program hunian tetap (huntap).

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengonfirmasi bahwa aktivitas gempa susulan di Nusa Tenggara Timur masih berada pada fase penurunan, namun tidak akan hilang dalam kurun waktu 21‑30 hari ke depan. "Grafik menunjukkan tren menurun, meski ada fluktuasi sesekali," ujarnya pada Rabu (19/8) melalui Antara.

Secara spasial, gempa susulan terkonsentrasi di wilayah Flores bagian tengah hingga barat, bertepatan dengan zona tektonik yang masih aktif. BMKG menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan untuk memperbaiki model prediksi dan memberi peringatan dini kepada otoritas setempat.

Hingga pukul 14.00 WIB, 19 Agustus, tercatat 3.002 gempa susulan dengan magnitudo 1,1‑6,2. Dari jumlah itu, 86 gempa dirasakan oleh penduduk, dan 25 di antaranya mencapai magnitudo 5 atau lebih. Nelly menambahkan, "Frekuensi tinggi ini merupakan proses penyesuaian kerak bumi setelah pelepasan energi besar pada gempa utama."

Sementara itu, BNPB telah menyiapkan skema bantuan berbasis tingkat kerusakan rumah. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menjelaskan bahwa rumah rusak ringan akan menerima bantuan Rp15 juta, rumah rusak sedang Rp30 juta, dan bagi yang mengalami kerusakan berat akan diberikan solusi hunian tetap (huntap). Sebelum huntap dapat dibangun, warga akan menerima bantuan hunian sementara (huntara) melalui Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa prediksi BMKG masih terkesan konservatif. Data yang dipublikasikan tidak menyertakan margin kesalahan atau skenario terburuk, padahal informasi tersebut krusial bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyiapkan mitigasi yang tepat. Transparansi dalam penyajian data seharusnya menjadi standar, terutama ketika ribuan gempa susulan dapat memicu kepanikan atau, sebaliknya, menimbulkan rasa aman palsu.

Selanjutnya, koordinasi antara BMKG dan BNPB tampak masih dalam tahap reaktif. Meskipun BNPB sudah mengumumkan skema bantuan, belum ada kejelasan tentang mekanisme verifikasi kerusakan yang cepat dan akurat. Di wilayah terpencil Flores, akses ke tim verifikasi masih terbatas, sehingga proses pendataan dapat memakan waktu berbulan‑bulan, memperlambat pencairan bantuan.

Aspek lain yang perlu digarisbawahi adalah kesiapan infrastruktur penanggulangan bencana di NTT. Sejak gempa 7,7 magnitude, banyak rumah tradisional yang tidak memenuhi standar tahan gempa. Pemerintah pusat harus mempercepat program retrofitting dan edukasi masyarakat tentang teknik bangunan yang lebih aman, bukan sekadar menunggu gempa susulan mereda.

Terakhir, peran media dalam menyebarkan informasi harus lebih kritis. Banyak outlet masih mengulang pernyataan resmi tanpa menambahkan konteks ilmiah atau menelusuri data historis gempa susulan di wilayah serupa. Jurnalisme investigatif harus menuntut data mentah, menguji model prediksi, dan mengawasi akuntabilitas lembaga‑lembaga terkait.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa lama gempa susulan diperkirakan akan terus terjadi di NTT?
    A: BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan akan berlanjut selama 21‑30 hari ke depan, dengan tren penurunan intensitas.
  • Q: Apa saja bantuan yang disiapkan BNPB untuk korban rumah rusak?
    A: Rumah rusak ringan mendapat Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rumah rusak berat akan diberikan hunian sementara (DTH Rp600 ribu) serta rencana pembangunan hunian tetap (huntap).
  • Q: Bagaimana cara masyarakat melaporkan kerusakan rumah akibat gempa?
    A: Masyarakat dapat melaporkan melalui aplikasi Siaga Bencana BNPB, call center 191, atau menghubungi kantor desa setempat untuk verifikasi dan pencatatan kerusakan.
Meow! Tanya Nesi!
😸