Bundaran HI Jadi ‘MRT Mall’: Bawah Tanah Terhubung Bisnis, Mirip Singapura
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Extended Concourse di Bundaran HI akan menggabungkan stasiun MRT Jakarta dengan ruang komersial, meniru model kota‑kota dunia seperti Singapura.
- Proyek ini dipimpin Ferdiansyah Roestam dan diharapkan mengurangi konflik pejalan kaki‑kendaraan serta meningkatkan nilai properti sekitar.
- Rencana jangka panjang mencakup konektivitas lintas kuadran (utara‑selatan) dan potensi integrasi dengan pusat perbelanjaan besar seperti Grand Indonesia.
Jakarta, CNBC Indonesia – Kawasan ikonik Bundaran HI akan segera berubah menjadi hub transportasi‑komersial berkelas dunia. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) dan MRT Jakarta menyiapkan Extended Concourse yang menghubungkan stasiun MRT Jakarta secara langsung ke jaringan ruang publik, restoran, butik, dan bahkan area pameran seni.
Direktur Utama ITJ, Ferdiansyah Roestam, menegaskan bahwa konsep ini bukan sekadar “ide Indonesia”, melainkan standar internasional untuk mengurangi perlintasan pejalan kaki‑kendaraan di permukaan. “Kita ingin menciptakan lapisan (layering) yang memisahkan alur manusia dan kendaraan, sehingga kota menjadi lebih aman dan nyaman,” ujarnya di Wisma Nusantara, 19 Agustus 2026.
Model yang diadopsi mengacu pada contoh sukses Singapura, di mana stasiun MRT terintegrasi dengan pusat perbelanjaan seperti Raffles City dan ION Orchard melalui terowongan bawah tanah. Di Jakarta, Extended Concourse tidak hanya berfungsi sebagai jalur keluar‑masuk penumpang, melainkan juga sebagai ruang komersial premium yang menampung F&B, specialty store, UMKM, serta venue untuk pameran seni dan pertunjukan.
Rencana jangka panjang meliputi penyambungan kuadran barat‑timur hingga utara‑selatan, menjadikan Bundaran HI sebagai simpul transportasi terintegrasi. Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai terowongan langsung ke Grand Indonesia atau Plaza Indonesia, konsep Transit‑Oriented Development (TOD) tetap menjadi landasan kebijakan.
Pengembang properti pun sudah menyesuaikan strategi. Salah satu developer bersedia memundurkan setback hingga 80 cm untuk menciptakan jalur pejalan kaki yang lebih leluasa di sekitar concourse. “Para pengembang top‑tier kini berlomba‑lomba menonjolkan kontribusi publik‑service, karena kenyamanan pengguna akan berimbas pada nilai properti mereka,” tambah Ferdiansyah.
Ricky Agung Kresna Putra, Department Head Commercial PT MRT Jakarta, menambahkan bahwa ruang komersial akan difokuskan pada brand activation, co‑branding, serta dukungan bagi UMKM. “Kami ingin menjadikan concourse bukan sekadar koridor transit, melainkan destinasi yang mengundang orang untuk berhenti, bersosialisasi, atau sekadar menikmati seni,” ujarnya.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, proyek Extended Concourse merupakan contoh konkret dari upaya pemerintah kota untuk meningkatkan productivity spillover melalui integrasi transportasi dan komersial. Dengan menurunkan waktu tempuh “first‑mile/last‑mile” dan mengurangi externalities negatif seperti kemacetan dan kecelakaan, nilai ekonomi total (VOT) dari jaringan transportasi akan naik signifikan. Studi OECD menunjukkan bahwa setiap 1 % penurunan waktu perjalanan dapat menambah PDB kota sebesar 0,2‑0,3 % dalam jangka menengah.
Namun, keberhasilan tidak otomatis. Kunci utama terletak pada land‑use coordination yang konsisten antara otoritas transportasi, perencanaan kota, dan pengembang swasta. Jika zona komersial di atas concourse tidak dikelola dengan standar kualitas tinggi, risiko “dead‑mall” akan muncul, menggerogoti potensi peningkatan nilai properti di sekitarnya. Oleh karena itu, regulasi zoning yang ketat dan insentif fiskal bagi tenant premium menjadi penting.
Di sisi permintaan, konsumen Jakarta kini semakin mengutamakan pengalaman “seamless”. Generasi milenial dan Gen‑Z menuntut akses cepat ke layanan, hiburan, dan belanja tanpa harus berpindah moda transportasi. Integrasi ini akan memperkuat daya tarik kawasan Bundaran HI sebagai live‑work‑play hub, yang pada gilirannya dapat menarik investasi asing, khususnya REIT dan fund properti yang mencari aset dengan cash flow stabil.
Terakhir, proyek ini membuka peluang baru bagi UMKM lokal. Dengan alokasi ruang khusus untuk brand activation dan pameran seni, ekosistem kreatif dapat tumbuh, meningkatkan kontribusi sektor informal terhadap PDB. Pemerintah harus memastikan mekanisme seleksi tenant yang transparan agar tidak terdominasikan oleh pemain multinasional, melainkan memberi ruang bagi pemain lokal yang inovatif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Apakah MRT Jakarta akan terhubung langsung ke Grand Indonesia? Saat ini belum ada konfirmasi resmi, namun integrasi ke pusat perbelanjaan besar termasuk Grand Indonesia merupakan bagian dari rencana jangka panjang Transit‑Oriented Development.
- Bagaimana proyek ini mempengaruhi nilai properti di sekitar Bundaran HI? Dengan meningkatkan aksesibilitas dan menambah ruang komersial premium, nilai properti diproyeksikan naik 10‑15 % dalam 5‑7 tahun ke depan, menurut proyeksi pasar properti lokal.
- Apakah ada ruang khusus untuk UMKM di Extended Concourse? Ya, MRT Jakarta menyiapkan area khusus untuk UMKM, brand activation, dan pameran seni, yang diharapkan menjadi platform bagi pelaku usaha kecil menengah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Iran Waspadai Eskalasi Lama, Ancam Perluas Jangkauan Konflik Jika AS Teruskan Serangan

OJK Genjot Efisiensi Industri BPR: Merger Empat Bank Lokal Ini Efektif Mulai Agustus

Kolaborasi No Na dan Shopee Raih Antusiasme Tinggi Lewat Iklan 11.11 Big Sale
