Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Asap Karhutla Kalsel Menebal, Polisi Gelar Salat Istisqa dan Pemerintah Gagal Kendalikan Krisis Udara

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Asap Karhutla Kalsel Menebal, Polisi Gelar Salat Istisqa dan Pemerintah Gagal Kendalikan Krisis Udara
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Asap karhutla kembali menutupi Banjarbaru, Banjarmasin, dan sekitarnya, menurunkan jarak pandang dan memicu gangguan pernapasan.
  • Polisi Polresta Banjarmasin menggelar salat Istisqa sebagai upaya spiritual sekaligus edukasi masyarakat.
  • BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 µg/m³, masuk kategori “Berbahaya”, sementara upaya pembasahan hutan oleh Kalimantan Selatan masih belum cukup.

Ringkasan Singkat

  • Asap karhutla kembali menutupi Banjarbaru, Banjarmasin, dan sekitarnya, menurunkan jarak pandang dan memicu gangguan pernapasan.
  • Polisi Polresta Banjarmasin menggelar salat Istisqa sebagai upaya spiritual sekaligus edukasi masyarakat.
  • BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 µg/m³, masuk kategori “Berbahaya”, sementara upaya pembasahan hutan oleh Kalimantan Selatan masih belum cukup.

Banjarbaru – Banjarmasin, 19 Agustus 2026 – Kabut asap pekat yang dihasilkan oleh karhutla kembali melanda wilayah Kalimantan Selatan pada pagi hari. Asap tebal mengaburkan pandangan pengendara, menimbulkan iritasi tenggorokan, dan memicu alarm kesehatan publik.

Menanggapi keadaan darurat ini, Polresta Banjarmasin menggelar salat Istisqa di lapangan terbuka Brimob Banjarbaru. Kapolresta Kombes Riza Muttaqin menegaskan, “Kami memohon pertolongan Allah agar hujan turun, menghentikan kebakaran, dan menyelamatkan warga.” Ia menambahkan bahwa upaya spiritual ini disertai program edukasi karhutla dan distribusi air bersih ke daerah terdampak.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan mengoperasikan empat unit pompa 24 jam untuk membasahi hutan lindung di Jalan Makmur, Banjarbaru. Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku, Herry Ade Permana, menjelaskan bahwa jaringan irigasi mengalirkan air ke kawasan rawan kebakaran sejak Mei 2026 melalui pintu pengatur di BRK 9 Cinde Alus, dengan debit 0,47 m³/detik.

Namun, upaya teknis tersebut belum mampu menurunkan indeks kualitas udara yang kini berada pada level kritis. BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB, melampaui ambang batas “Berbahaya” (250,5 µg/m³). Klaus Johannes Apoh Damanik, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kalsel, memperingatkan risiko kesehatan serius bagi masyarakat, terutama yang bekerja di luar ruangan.

Ketegangan antara upaya pemerintah daerah, respons kepolisian, dan realitas lapangan menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah strategi pembasahan hutan dan ritual keagamaan cukup untuk menghentikan gelombang kebakaran yang kini menjadi pola tahunan? Sementara itu, warga tetap terpaksa menahan napas di tengah kabut asap yang tak kunjung surut.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa respons yang ditampilkan oleh otoritas Kalsel masih bersifat reaktif dan terfragmentasi. Salat Istisqa, meski memiliki nilai simbolis, tidak dapat menggantikan kebijakan mitigasi berbasis ilmiah. Pemerintah provinsi tampaknya mengandalkan “pembasahan” sebagai solusi jangka pendek, padahal data historis menunjukkan bahwa teknik ini hanya menunda, bukan menghentikan, penyebaran api ketika curah hujan tetap rendah.

Lebih jauh, koordinasi antar‑instansi masih lemah. Dinas PUPR mengalirkan air ke hutan lindung, namun tidak ada mekanisme monitoring real‑time untuk memastikan kelembapan tanah tetap pada level aman. Sementara BMKG melaporkan kualitas udara “Berbahaya”, tidak ada kebijakan darurat yang mengatur penutupan sekolah, pembatasan aktivitas luar ruangan, atau distribusi masker N95 secara massal. Kegagalan ini mencerminkan kurangnya kepemimpinan terpusat dalam penanggulangan bencana kebakaran hutan.

Di sisi lain, akar penyebab karhutla di Kalsel tidak hanya soal cuaca kering. Praktik pembukaan lahan secara ilegal, penebangan liar, dan kurangnya penegakan hukum terhadap pelaku menjadi faktor pendorong utama. Tanpa penegakan yang tegas, upaya teknis seperti pompa air akan selalu menjadi “plaster” pada luka yang lebih dalam.

Rekomendasi yang mendesak meliputi: (1) pembentukan satuan tugas lintas sektoral yang berwenang mengeluarkan perintah darurat; (2) peningkatan anggaran dan kapasitas satelit pemantauan kebakaran; (3) penegakan hukum yang konsisten terhadap pelaku pembakaran; serta (4) program rehabilitasi lahan pasca‑kebakaran yang melibatkan masyarakat lokal. Tanpa langkah-langkah tersebut, Kalsel akan terus berada dalam siklus asap, hujan, dan kebakaran yang tak berkesudahan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa kualitas udara di Banjarbaru masuk kategori “Berbahaya”?
  • A: Karena konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 µg/m³, jauh di atas ambang batas 250,5 µg/m³ yang ditetapkan BMKG untuk kategori “Berbahaya”.
  • Q: Apa itu salat Istisqa dan mengapa polisi menggelarnya?
  • A: Salat Istisqa adalah doa khusus dalam Islam untuk memohon hujan. Polisi menggelarnya sebagai bentuk solidaritas spiritual dan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis kebakaran.
  • Q: Upaya apa yang telah dilakukan pemerintah provinsi untuk mencegah karhutla?
  • A: Pemerintah mengoperasikan pompa air 24 jam untuk membasahi hutan lindung, membuka pintu pengatur air di jaringan irigasi, serta melakukan edukasi masyarakat tentang bahaya karhutla.
Meow! Tanya Nesi!
😸