Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa 7,7 di Flores: BMKG Prediksi Aftershock Terus Hingga 4 Minggu, Warga Dihimbau Siaga!

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa 7,7 di Flores: BMKG Prediksi Aftershock Terus Hingga 4 Minggu, Warga Dihimbau Siaga!
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat BMKG memperkirakan lebih dari 2.100 aftershock akan terus mengguncang Nusa Tenggara Timur selama 3‑4 minggu ke depan.
  • Gempa utama magnitude 7,7 pada 15 Agustus memicu tsunami hingga 1,6 meter di beberapa titik, menewaskan 68 orang dan melukai 213 lainnya.
  • Data BMKG mencatat 24 gempa susulan di atas magnitude 5, sementara tsunami tercatat di 16 lokasi lintas provinsi.

Ringkasan Singkat

  • BMKG memperkirakan lebih dari 2.100 aftershock akan terus mengguncang Nusa Tenggara Timur selama 3‑4 minggu ke depan.
  • Gempa utama magnitude 7,7 pada 15 Agustus memicu tsunami hingga 1,6 meter di beberapa titik, menewaskan 68 orang dan melukai 213 lainnya.
  • Data BMKG mencatat 24 gempa susulan di atas magnitude 5, sementara tsunami tercatat di 16 lokasi lintas provinsi.

Setelah gempa utama magnitude 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8) pagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 2.119 gempa susulan hingga Selasa (18/8). Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa rangkaian aftershock ini diperkirakan akan berakhir dalam rentang tiga sampai empat minggu ke depan.

Dari ribuan gempa susulan, sebanyak 24 di antaranya memiliki magnitude di atas 5,0, dan 70 kejadian dirasakan oleh penduduk. Gempa utama yang terjadi di zona dangkal Flores Back‑Arc dipicu oleh pergerakan naik (thrust fault), sebuah mekanisme tektonik yang dikenal dapat menghasilkan energi seismik tinggi serta memicu tsunami.

Hanya dua menit setelah gempa utama, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan status SIAGA (ketinggian gelombang 0,5‑3 meter) dan Waspada. Observasi stasiun pasang surut mengonfirmasi terjadinya tsunami di 16 lokasi meliputi NTT, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Titik tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 1,605 meter.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (17/8), gempa ini menewaskan 68 orang dan melukai 213 orang. Kerusakan infrastruktur tersebar di wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka dan Maumere, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga berat.

Analisis Pakar

Secara teknis, pola aftershock yang masih intens selama tiga hingga empat minggu bukanlah fenomena yang luar biasa bagi zona subduksi seperti Flores Back‑Arc. Namun, apa yang menjadi sorotan utama adalah kesiapan aparat daerah dan masyarakat dalam menghadapi rangkaian gempa berulang ini. Selama dekade terakhir, respons penanggulangan bencana di NTT masih terhambat oleh infrastruktur yang rapuh, keterbatasan jaringan komunikasi, serta kurangnya pelatihan mitigasi di tingkat desa.

BMKG telah melakukan tugasnya dengan cepat mengeluarkan peringatan tsunami, namun koordinasi antara BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah tampak masih terfragmentasi. Contohnya, peringatan SIAGA tidak selalu diikuti dengan evakuasi terorganisir di lapangan, terutama di wilayah terpencil yang akses jalannya rusak akibat gempa. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas sistem peringatan dini (Early Warning System) yang selama ini dijanjikan pemerintah.

Lebih jauh, data menunjukkan bahwa sebanyak 24 aftershock magnitude >5 terjadi dalam tiga hari pertama. Jika tren ini berlanjut, potensi kerusakan tambahan pada bangunan yang belum sepenuhnya diperbaiki sangat tinggi. Pemerintah harus segera mengaktifkan skema bantuan darurat yang mencakup perbaikan struktural sementara, penyediaan tempat penampungan yang aman, serta distribusi bantuan logistik yang terkoordinasi.

Terakhir, kebijakan jangka panjang harus menitikberatkan pada pembangunan tahan gempa. Investasi pada standar konstruksi yang lebih ketat, penataan ruang wilayah yang menghindari zona rawan, serta edukasi publik tentang prosedur “Drop, Cover, and Hold On” perlu dipercepat. Tanpa langkah-langkah ini, NTT akan terus berada dalam siklus kerentanan yang berulang setiap kali tektonik lepas memicu gempa baru.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa lama aftershock diperkirakan akan terus terjadi setelah gempa 7,7 di Flores?
    A: BMKG memperkirakan aftershock akan berlanjut selama 3‑4 minggu ke depan.
  • Q: Berapa tinggi gelombang tsunami yang tercatat di NTT?
    A: Gelombang tertinggi tercatat 1,605 meter di Pota, Manggarai Timur.
  • Q: Berapa jumlah korban jiwa dan luka-luka akibat gempa tersebut?
    A: BNPB melaporkan 68 orang tewas dan 213 orang luka-luka.
Meow! Tanya Nesi!
😸