Sejarah Bertemu: Pameran Foto Kemerdekaan RI‑Korea Buka Peluang Bisnis Kreatif di Jakarta
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Ringkasan Singkat Pameran foto “My Wish, Our Wish: Road to Freedom” menggabungkan arsip kemerdekaan Indonesia dan Korea Selatan di ANTARA Heritage Center .
- Acara dibuka oleh Fadli Zon dan didukung oleh Korean Cultural Center , menandai 81 tahun kemerdekaan kedua negara.
- Penekanan pada kolaborasi budaya dipandang sebagai katalis bagi industri kreatif dan perdagangan bilateral antara RI dan Korea Selatan.
Ringkasan Singkat
- Pameran foto “My Wish, Our Wish: Road to Freedom” menggabungkan arsip kemerdekaan Indonesia dan Korea Selatan di ANTARA Heritage Center.
- Acara dibuka oleh Fadli Zon dan didukung oleh Korean Cultural Center, menandai 81 tahun kemerdekaan kedua negara.
- Penekanan pada kolaborasi budaya dipandang sebagai katalis bagi industri kreatif dan perdagangan bilateral antara RI dan Korea Selatan.
Jakarta, 12 Agustus 2026 – Dua negara yang merayakan kemerdekaan pada bulan Agustus, Indonesia dan Korea Selatan, kini menyatukan narasi sejarahnya dalam satu ruang pameran. “My Wish, Our Wish: Road to Freedom” menampilkan foto-foto, dokumen, dan manuskrip yang melacak perjuangan Kim Koo di Korea serta proklamasi Gwangbokjeol pada 15 Agustus.
Pameran dibuka oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA. Selama 19 hari, pengunjung dapat menelusuri arsip proklamasi Indonesia, foto-foto perjuangan Kim Koo, serta materi yang masuk dalam program Memory of the World UNESCO.
Wakil Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Chung Hae‑Kwan, menekankan bahwa meski tradisi budaya berbeda, kedua bangsa memiliki titik temu penting: pergerakan menuju kemerdekaan. Ia menambahkan, pemilihan Gedung ANTARA sebagai venue bukan kebetulan, karena gedung tersebut menjadi saksi penyebaran berita proklamasi pada 1945.
Fadli Zon menegaskan pentingnya arsip sebagai “bukti” sejarah yang menahan arus revisionisme. Ia juga mengusulkan agar ANTARA Heritage Center dijadikan cagar budaya nasional, langkah yang dapat membuka peluang pendanaan publik‑swasta untuk pelestarian dan komersialisasi konten sejarah.
Analisis Pakar
Kolaborasi budaya semacam ini bukan sekadar simbolik; ia menciptakan ekosistem nilai tambah bagi industri kreatif kedua negara. Arsip visual yang dipublikasikan secara digital dapat di‑licensing ke platform streaming, museum virtual, atau produk merchandise. Bagi investor, ini membuka alur pendapatan baru—royalty, lisensi, hingga tur virtual berbayar.
Lebih jauh, sinergi Indonesia‑Korea Selatan di bidang kebudayaan berpotensi memperkuat hubungan perdagangan. Korea Selatan adalah salah satu investor terbesar di sektor elektronik dan otomotif Indonesia. Dengan menumbuhkan rasa kebersamaan melalui warisan bersama, pemerintah dapat menegosiasikan insentif fiskal bagi perusahaan kreatif yang ingin berkolaborasi lintas‑negara, misalnya co‑production film dokumenter atau game edukatif tentang kemerdekaan.
Dari perspektif makroekonomi, peningkatan kunjungan wisata budaya ke ANTARA Heritage Center dapat menambah PDB sektor pariwisata kreatif. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa wisata budaya menyumbang 12% dari total kunjungan internasional pada 2025; pameran ini berpotensi menambah pangsa pasar tersebut, terutama dari wisatawan Korea yang tertarik pada narasi kemerdekaan.
Namun, tantangan utama tetap pada monetisasi konten arsip yang sensitif. Pemerintah harus menyeimbangkan antara pelestarian sejarah dan komersialisasi, memastikan hak cipta serta etika penggunaan tetap terjaga. Kebijakan insentif pajak untuk perusahaan yang mengembangkan produk berbasis arsip dapat menjadi solusi win‑win.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan pameran “My Wish, Our Wish: Road to Freedom” dibuka untuk umum?
A: Pameran dibuka 13 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. - Q: Siapa saja pihak yang menyelenggarakan pameran ini?
A: Pameran diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bekerja sama dengan LKBN ANTARA dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI. - Q: Apa manfaat ekonomi yang diharapkan dari pameran ini?
A: Pameran diharapkan meningkatkan pendapatan sektor pariwisata budaya, membuka peluang lisensi konten arsip, serta memperkuat kerja sama industri kreatif antara Indonesia dan Korea Selatan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
