Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Warga Selayar Pulang Usai Gempa 7,7 SR NTT, Namun Beberapa Tetap Bertahan di Puncak Gunung

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Warga Selayar Pulang Usai Gempa 7,7 SR NTT, Namun Beberapa Tetap Bertahan di Puncak Gunung
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Setelah gempa bumi magnitude 7,7 mengguncang KepulauanSelayar, sebagian warga kembali ke rumah masing‑masing.
  • Air laut sempat surut lalu kembali naik, menggenangi 16 rumah di DesaBonea dengan ketinggian sekitar 50 cm.
  • Meski situasi dinyatakan kondusif, sejumlah warga masih menahan diri di atas gunung, menunggu kepastian keamanan.

Gempa bumi berkekuatan GempaNTT yang terjadi pada Sabtu (15/8) mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan magnitude 7,7. Dampaknya tidak hanya terasa di daratan, melainkan juga memicu tsunami kecil yang menyebabkan air laut surut tiba‑tiba, kemudian kembali naik dan menggenangi sebagian permukiman di Desa Bonea, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Menurut BPBD Selayar, Kepala BPBD Kabupaten Selayar, Ahmad Aliefyanto, menyatakan bahwa sebagian besar warga telah kembali ke rumah masing‑masing setelah tim penanggulangan memastikan tidak ada korban jiwa atau luka-luka. Namun, ia menegaskan bahwa masih ada warga yang memilih bertahan di atas gunung, mengantisipasi kemungkinan gelombang pasang kembali.

Kapolsek Pasimarannu, Iptu Yudi Wibowo, melaporkan bahwa air pasang sempat menenggelamkan 16 rumah warga setinggi sekitar 50 cm. “Air sempat menggenangi rumah warga dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter. Saat dilakukan peninjauan, kondisi air sudah berangsur surut,” ujarnya. Tidak ada laporan korban jiwa atau luka‑luka hingga kini.

Desa Bonea memang dilengkapi dengan tanggul pemecah ombak, namun masih terdapat bagian dusun yang belum terjangkau fasilitas tersebut. “Kami bersama pemerintah kecamatan memastikan kondisi warga tetap aman dan terus memantau situasi di wilayah pesisir untuk mengantisipasi dampak lanjutan,” tegas Aliefyanto.

Analisis Pakar

Secara struktural, respons cepat BPBD Selayar menunjukkan adanya peningkatan kapasitas penanggulangan bencana pasca‑TSUNAMI 2004. Namun, fakta bahwa sebagian warga masih mengungsi ke ketinggian gunung menandakan ketidakpastian yang masih menggelayuti komunitas pesisir. Keberadaan tanggul yang tidak merata menimbulkan pertanyaan tentang perencanaan infrastruktur mitigasi yang masih bersifat reaktif, bukan proaktif.

Selain itu, data lapangan mengindikasikan bahwa fenomena surut‑naik air yang terjadi dalam hitungan menit merupakan manifestasi klasik dari tsunami lokal yang dipicu gempa bawah laut. Pemerintah daerah tampaknya belum memiliki sistem peringatan dini (Early Warning System) yang terintegrasi dengan sensor seismik, sehingga warga harus mengandalkan intuisi dan pengalaman lokal untuk menghindari bahaya.

Dalam konteks kebijakan, alokasi anggaran untuk pembangunan tanggul dan penataan zona aman masih jauh dari standar internasional. Pemerintah pusat perlu meninjau kembali prioritas anggaran mitigasi bencana, mengingat Indonesia berada di zona rawan gempa terbesar di dunia. Tanpa investasi yang memadai, skenario serupa dapat berulang dengan konsekuensi yang lebih fatal.

Terakhir, peran media lokal dan nasional sangat krusial dalam menyebarkan informasi yang akurat dan cepat. Penyebaran rumor atau informasi yang tidak terverifikasi dapat memperparah kepanikan. Oleh karena itu, jurnalisme investigatif harus terus mengawal transparansi pemerintah dalam penanganan bencana, termasuk audit penggunaan dana bantuan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa magnitude gempa yang melanda NTT pada 15 Agustus 2024?
    A: Gempa tersebut memiliki magnitude 7,7 pada skala Richter.
  • Q: Mengapa air laut surut kemudian kembali naik setelah gempa?
    A: Fenomena tersebut merupakan tanda awal tsunami lokal yang dipicu oleh pergeseran dasar laut akibat gempa.
  • Q: Apa yang dilakukan pemerintah daerah untuk mencegah kejadian serupa?
    A: Pemerintah daerah memperkuat tanggul, melakukan evakuasi, dan terus memantau kondisi pesisir, namun masih diperlukan sistem peringatan dini yang lebih canggih.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸