Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Turis Norwegia Selamat dari Runtuhnya Hotel Jayakarta: Mengungkap Kegagalan Penanganan Gempa 7,7 di NTT

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Turis Norwegia Selamat dari Runtuhnya Hotel Jayakarta: Mengungkap Kegagalan Penanganan Gempa 7,7 di NTT
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Gempa magnitude 7,7 mengguncang Flores, NTT, menewaskan setidaknya 14 orang dan melukai puluhan lainnya.
  • Hotel Jayakarta di Labuan Bajo roboh sebagian, memaksa tamu berlarian ke tangga darurat.
  • Kesaksian Torhstaeen , turis Norwegia, mengungkap kepanikan, kebingungan, dan kurangnya prosedur evakuasi yang memadai.

Ringkasan Singkat

  • Gempa magnitude 7,7 mengguncang Flores, NTT, menewaskan setidaknya 14 orang dan melukai puluhan lainnya.
  • Hotel Jayakarta di Labuan Bajo roboh sebagian, memaksa tamu berlarian ke tangga darurat.
  • Kesaksian Torhstaeen, turis Norwegia, mengungkap kepanikan, kebingungan, dan kurangnya prosedur evakuasi yang memadai.

Labuan Bajo, NTT – Pada Sabtu pagi (15/8), gempa NTT dengan kekuatan magnitude 7,7 mengguncang wilayah Flores, menimbulkan kerusakan masif dan menewaskan minimal 14 orang. Di tengah kegentingan itu, Hotel Jayakarta yang terletak di kawasan wisata Labuan Bajo menjadi saksi bisu runtuhnya dinding struktural, memaksa tamu‑tamu yang menginap di lantai lima berjuang melawan waktu.

Torhstaeen (28), seorang turis asal Norwegia yang baru semalam menginap, mengisahkan detik‑detik menegangkan ketika ia terbangun oleh guncangan keras. “Saya berada di kamar lantai lima, melihat ke luar jendela, staf hotel berlarian melewati kolam renang. Saya langsung mengenakan pakaian dan menuju koridor,” ujarnya kepada BNPB di lobi hotel setelah gempa berhenti. Ketika ia mencoba menggunakan lift, satu keluarga yang sudah berada di dekat lift melarangnya turun, mengingat dinding hotel sudah mulai roboh. “Mereka menyarankan saya tetap di dekat lift sampai gempa berhenti, lalu kami mencari jalan keluar lewat tangga darurat,” tambahnya.

Kesaksian serupa datang dari Kadek dan Jessie, dua tamu asal Surabaya yang juga berada di lantai lima. Mereka menggambarkan suara keras yang menyerupai pukulan, diikuti oleh gemuruh bangunan yang mengoyak rasa aman. “Tembok‑tembok mulai runtuh, suara gemuruh makin kencang. Kami tidak sempat mengambil HP atau sandal, langsung lari turun pelan‑pelan bersama tamu lain yang dibantu staf hotel,” kata Jessie. Kedua tamu tersebut melaporkan bahwa puing‑puing menutup jalur di lantai empat, memaksa mereka menunggu hingga getaran mereda sebelum melanjutkan evakuasi.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berpusat sekitar 30 km timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman yang cukup dangkal sehingga menimbulkan getaran kuat di wilayah sekitarnya. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan, namun kemudian dicabut setelah tidak ada gelombang signifikan. Sementara itu, BNPB mencatat 14 korban jiwa, dua luka berat, dan sebelas luka ringan, meski angka tersebut masih dalam proses verifikasi.

Lebih dari 2.000 warga dipaksa mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri setelah gempa, menambah beban logistik dan penanganan bencana di daerah yang sudah terisolasi. Kegagalan struktur Hotel Jayakarta menimbulkan pertanyaan serius tentang standar bangunan, inspeksi, dan kesiapsiagaan hotel‑hotel yang melayani wisatawan internasional di NTT.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa tragedi ini bukan sekadar bencana alam yang tak terelakkan, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam penegakan regulasi bangunan di wilayah rawan gempa. Pemerintah daerah dan pusat telah mengeluarkan standar tahan gempa, namun implementasinya masih lemah. Hotel Jayakarta, yang mengklaim memiliki izin operasional, ternyata tidak mampu menahan guncangan magnitude 7,7. Ini menandakan adanya celah dalam proses audit struktural, baik pada tahap perizinan maupun inspeksi berkala.

Selanjutnya, respons darurat di lapangan menunjukkan kurangnya koordinasi antara pihak hotel, otoritas lokal, dan tim penyelamat. Tamunya harus mengandalkan inisiatif pribadi untuk mencari jalan keluar, sementara prosedur evakuasi yang seharusnya terintegrasi dengan BNPB tampak tidak ada. Kegagalan menyediakan jalur evakuasi yang jelas, serta tidak adanya sistem peringatan internal di dalam bangunan, memperparah risiko korban jiwa.

Di sisi lain, peringatan tsunami yang dikeluarkan BMKG dan kemudian dicabut menimbulkan kebingungan di kalangan penduduk dan wisatawan. Komunikasi krisis yang tidak konsisten dapat memicu kepanikan atau, sebaliknya, menurunkan kewaspadaan. Pemerintah harus memperkuat protokol penyampaian informasi, memastikan bahwa peringatan dini diikuti oleh instruksi evakuasi yang konkret dan terlatih.

Terakhir, dampak ekonomi jangka panjang bagi Labuan Bajo tidak dapat diabaikan. Pariwisata merupakan tulang punggung daerah ini; kerusakan pada infrastruktur akomodasi akan menurunkan kepercayaan wisatawan internasional. Pemerintah pusat dan daerah perlu mengalokasikan dana khusus untuk rehabilitasi bangunan publik dan komersial, serta mengadakan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi pelaku industri pariwisata.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa magnitude gempa yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026?
    A: Gempa tersebut memiliki magnitude 7,7.
  • Q: Apakah Hotel Jayakarta sudah memenuhi standar bangunan tahan gempa?
    A: Berdasarkan kerusakan yang terjadi, hotel tersebut tampaknya tidak memenuhi standar tahan gempa yang berlaku.
  • Q: Berapa jumlah korban jiwa dan luka akibat gempa ini?
    A: Sampai saat ini tercatat 14 korban jiwa, 2 luka berat, dan 11 luka ringan, namun angka tersebut masih dalam proses verifikasi.
Meow! Tanya Nesi!
😸