Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Rico Bayu Gelar Gotong Royong Massal di 21 Kecamatan Medan, Tapi Aspirasi Warga Masih Tertunda

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Rico Bayu Gelar Gotong Royong Massal di 21 Kecamatan Medan, Tapi Aspirasi Warga Masih Tertunda
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Pemkot Medan menggelar gotong‑royong serentak di 21 kecamatan demi menyambut HUT ke‑81 RI.
  • Walikota Rico Tri Putra Bayu Waas memantau langsung dan mengadakan sesi Sapa Warga untuk mengumpulkan keluhan.
  • Keluhan warga tentang banjir, narkoba, dan layanan kependudukan belum dibuktikan ada tindak lanjut yang konkret.

Ringkasan Singkat

  • Pemkot Medan menggelar gotong‑royong serentak di 21 kecamatan demi menyambut HUT ke‑81 RI.
  • Walikota Rico Tri Putra Bayu Waas memantau langsung dan mengadakan sesi Sapa Warga untuk mengumpulkan keluhan.
  • Keluhan warga tentang banjir, narkoba, dan layanan kependudukan belum dibuktikan ada tindak lanjut yang konkret.

MEDAN – Pada Sabtu (15/8) sekaligus menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke‑81, Pemerintah Kota Medan meluncurkan aksi gotong‑royong massal di 21 kecamatan. Kegiatan yang dibungkus dalam program Indonesia Asri sekaligus penanaman pohon itu dipimpin secara simbolis oleh Walikota Rico Tri Putra Bayu Waas, yang turun langsung ke Jalan Keramat Indah, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai, serta memantau aksi di lokasi lain lewat layar monitor.

"Ini dilakukan dalam rangka menyambut 17 Agustus sekaligus menggerakkan masyarakat untuk membersihkan lingkungannya masing‑masing," ujar Rico dalam pernyataan tertulisnya. Namun, di balik aksi bersih‑bersih yang tampak heroik, muncul pertanyaan kritis: apakah kegiatan ini sekadar simbol politik menjelang hari besar, atau memang menandai perubahan struktural dalam pelayanan publik?

Saat memantau gotong‑royong, Walikota sekaligus memprakarsai sesi Sapa Warga. Warga menyuarakan keluhan mulai dari banjir, drainase tersumbat, sampah menumpuk, penerangan jalan yang kurang, hingga masalah air bersih. Keluhan paling menonjol datang dari warga Jermal 12, Megawati Harahap (76), yang menuntut penindakan tegas terhadap peredaran narkoba di kawasan Jermal 15 Ujung.

Rico menanggapi dengan menegaskan bahwa narkoba adalah "musuh bersama" dan berjanji akan terus berkoordinasi dengan TNI serta Polri. Janji koordinasi lintas lembaga ini terdengar menjanjikan, namun belum ada data publik yang menunjukkan hasil penindakan nyata setelah pertemuan tersebut.

Isu layanan administrasi kependudukan juga menjadi sorotan. Walikota menekankan bahwa warga yang sudah mendapatkan nomor antrean harus dilayani tanpa kecuali, sekaligus meminta Disdukcapil mengevaluasi layanan di tingkat kecamatan dan menyediakan layanan secara gratis. Sementara itu, fakta lapangan menunjukkan antrean yang masih lama dan biaya tersembunyi yang menghambat akses warga, terutama di wilayah marginal.

Rico menutup kegiatan dengan mengajak warga mengibarkan bendera Merah‑Putih dan menjaga kebersamaan demi kemajuan ekonomi serta pembangunan kota. Namun, tantangan struktural—seperti penataan drainase, penegakan hukum narkoba, dan reformasi birokrasi—masih memerlukan langkah yang lebih dari sekadar simbolik.

Analisis Pakar

Secara kritis, aksi gotong‑royong massal yang diorganisir oleh Pemkot Medan tampak lebih seperti panggung politik menjelang perayaan nasional. Pemerintah daerah memang memiliki kewajiban mengedukasi warga tentang pentingnya kebersihan, namun tanpa dukungan kebijakan jangka panjang, aksi satu hari ini akan mudah dilupakan.

Koordinasi lintas lembaga yang dijanjikan untuk memerangi narkoba di Jermal 15 Ujung memerlukan data konkret: berapa kasus yang berhasil diungkap, berapa penyita, dan berapa rehabilitasi yang disediakan. Tanpa transparansi, janji tersebut berisiko menjadi retorika kosong yang hanya menambah kepercayaan publik pada pemerintah.

Masalah layanan kependudukan menyoroti kegagalan struktural yang lebih dalam. Permintaan agar layanan diberikan secara gratis dan tanpa antrean menuntut reformasi sistemik, termasuk digitalisasi yang terintegrasi, peningkatan sumber daya manusia, serta pengawasan independen. Hanya mengandalkan evaluasi internal Dinas tidak cukup; diperlukan audit eksternal agar akuntabilitas terjaga.

Terakhir, hubungan antara aksi simbolis dan dampak ekonomi harus diukur secara empiris. Jika tujuan akhir adalah meningkatkan investasi dan kesejahteraan, maka pemerintah harus mengalihkan sebagian sumber daya yang dialokasikan untuk acara seremonial ke program infrastruktur nyata—misalnya perbaikan jaringan drainase yang menjadi penyebab banjir kronis. Tanpa alokasi anggaran yang jelas, janji‑janji kebersamaan akan tetap menjadi wacana kosong.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja kegiatan yang dilakukan dalam aksi gotong‑royong di Medan?
    A: Kegiatan meliputi pembersihan sampah, penanaman pohon, perbaikan kecil pada fasilitas umum, serta sesi mendengarkan aspirasi warga (Sapa Warga).
  • Q: Bagaimana pemerintah kota menanggapi keluhan tentang narkoba di Jermal 15 Ujung?
    A: Walikota berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan TNI dan Polri, namun hingga kini belum ada laporan resmi tentang penindakan yang berhasil.
  • Q: Apakah layanan administrasi kependudukan di Medan akan menjadi gratis?
    A: Pemerintah mengusulkan layanan gratis dan tanpa antrean, namun implementasinya masih dalam tahap evaluasi oleh Disdukcapil.
Meow! Tanya Nesi!
😸