Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,3 di 49 km Timur Laut Labuan Bajo, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M5,3 di 49 km Timur Laut Labuan Bajo, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitude 5.3 terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 01:53 WIB di kedalaman 10 km, berlokasi 49 km timur laut Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat.
  • Guncangan dirasakan di sebagian besar wilayah Flores, Sumba, dan sebagian kecil di Pulau Timor, namun tidak ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa hingga saat ini.
  • Menurut data seismik, pusat gempa berada pada zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia yang menukik ke bawah Lempeng Eurasia.

BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitude 5.3 terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 01:53 WIB di kedalaman 10 km, berlokasi 49 km timur laut Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat. Guncangan dirasakan di sebagian besar wilayah Flores, Sumba, dan sebagian kecil di Pulau Timor, namun tidak ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa hingga saat ini.

Menurut data seismik, pusat gempa berada pada zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia yang menukik ke bawah Lempeng Eurasia. Gerakan tektonik ini memicu patahan aktif pada sistem sesar Flores Back‑Arc, yang dikenal menghasilkan gempa dengan intensitas sedang hingga kuat secara periodik.

Tim penanggulangan bencana (TPB) setempat telah mengaktifkan prosedur evakuasi darurat di daerah pesisir yang berpotensi terkena tsunami. Meskipun kedalaman gempa relatif dangkal, analisis awal menunjukkan amplitudo gelombang laut tidak mencapai ambang peringatan tsunami nasional. Namun, masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti instruksi otoritas setempat.

BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut selama 24 jam ke depan. Jika terjadi gempa susulan dengan magnitude lebih besar, potensi kerusakan dapat meningkat, terutama pada bangunan tidak tahan gempa di daerah pedesaan.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Flores berada di sepanjang zona subduksi yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik, di mana Lempeng Indo‑Australia menukik ke bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 70 mm/tahun. Sesar utama yang mengontrol kegempaan di daerah ini adalah sesar Flores Back‑Arc, yang memanjang dari Pulau Sumbawa hingga Pulau Timor. Sejarah seismik mencatat beberapa gempa kuat, antara lain gempa M7,0 di Lombok (2018) dan gempa M6,5 di Alor (2021), yang keduanya menimbulkan kerusakan signifikan dan tsunami lokal.

Gempa M5,3 kali ini terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, sehingga energi yang dilepaskan lebih terfokus pada permukaan. Meskipun magnitude belum cukup untuk memicu tsunami besar, potensi gelombang laut masih ada bila terjadi pergeseran vertikal pada dasar laut. Oleh karena itu, BMKG menyiapkan peringatan tsunami dengan kriteria tinggi‑rendah berdasarkan model numerik.

Gempa susulan (aftershock) biasanya muncul dalam rentang waktu beberapa hari hingga minggu setelah gempa utama, dengan magnitude yang menurun secara logaritmik. Berdasarkan hukum Omori, diperkirakan akan terjadi sekitar 10‑15 aftershock dengan magnitude 3,0–4,5 dalam 48 jam ke depan. Masyarakat di daerah rawan longsor, terutama di lereng vulkanik Flores, disarankan untuk memantau peringatan dini dan menghindari aktivitas di zona berisiko tinggi.

Meow! Tanya Nesi!
😸