Bupati Blora Dorong Revolusi Pertanian Organik: Janji Jadi Lumbung Pangan Utama Jawa Tengah
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Blora menargetkan produksi gabah 530.818 ton pada 2025, naik 25% dari tahun sebelumnya.
- Bupati Arief Rohman menekankan pertanian organik sebagai solusi kesehatan tanah dan konsumen, sambil mengusulkan 1 hektar lahan organik per desa.
- Kerjasama dengan LPPNU, PCNU, dan BUMN seperti Pertamina diharapkan menjadikan Blora contoh percontohan organik di Jawa Tengah.
Semarang, 10 Agustus 2026 – Dalam sambutan di Muktamar Petani Nahdliyyin yang digelar di Pesantren Al‑Itqon, Desa Tlogosari Wetan, Blora menegaskan posisinya sebagai lumbung pangan ke‑6 se‑Jawa Tengah. Bupati Arief Rohman memaparkan data produksi gabah kering giling (GKG) yang diproyeksikan mencapai 530.818 ton pada 2025 – lonjakan 106.407 ton atau 25,07% dibandingkan 2024.
Produktivitas lahan pun naik menjadi 50,98 kuintal per hektare, meningkat 0,96 kuintal (1,92%) dari tahun sebelumnya. Dampaknya, produksi beras diperkirakan melambung ke 305.252 ton, naik 61.190 ton (25,07%). Angka-angka ini, kata Arief, tak lepas dari dorongan pertanian organik yang kini dijadikan agenda strategis.
“Pertanian organik bukan sekadar tren, melainkan keharusan untuk melindungi kesehatan konsumen, memperbaiki struktur tanah, dan memutus ketergantungan pada pupuk kimia berbahaya,” ujar Bupati. Ia menantang setiap desa di Blora untuk menyediakan minimal satu hektar lahan bengkok sebagai zona uji coba organik. Dengan 295 desa/kelurahan, potensi lahan organik mencapai 295 hektar.
Visi jangka panjang Arief menargetkan Blora menjadi sentra pertanian organik di Jawa Tengah. Upaya ini didukung kolaborasi dengan PCNU serta penjajakan kerja sama dengan BUMN, termasuk Pertamina, untuk pendampingan teknis dan pembiayaan petani.
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menegaskan bahwa Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan petani NU yang selama ini terpinggirkan. “Forum ini bukan ajang konfrontasi, melainkan wadah kemandirian petani jamiyah NU,” ujarnya.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua lapisan penting dalam agenda pertanian organik Blora. Pertama, data produksi yang disodorkan pemerintah daerah tampak menggiurkan, namun belum ada transparansi mengenai metodologi perhitungan, terutama dalam mengkalkulasi produktivitas per hektare. Tanpa audit independen, angka-angka ini berisiko menjadi alat politik untuk menambah popularitas Bupati menjelang pemilihan berikutnya.
Kedua, janji penyediaan lahan organik satu hektar per desa terdengar realistis di atas kertas, namun realitasnya jauh lebih kompleks. Banyak desa di Blora masih bergulat dengan kepemilikan lahan yang tidak jelas, sengketa agraria, dan keterbatasan akses ke pasar. Tanpa mekanisme insentif yang jelas—misalnya subsidi pupuk organik, pelatihan teknis, atau jaminan harga jual—petani kecil kemungkinan besar akan kembali ke praktik konvensional yang lebih menguntungkan secara jangka pendek.
Kerjasama dengan BUMN seperti Pertamina menimbulkan pertanyaan tentang motif ekonomi di baliknya. Apakah Pertamina melihat peluang bisnis bio‑fuel atau sekadar memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan? Jika tidak ada kerangka kerja yang mengikat, kolaborasi ini dapat berakhir menjadi simbolik tanpa dampak substantif.
Terakhir, peran LPPNU dan PCNU sebagai motor penggerak organik harus diuji. Organisasi keagamaan memang memiliki jaringan sosial yang luas, namun mereka belum terbukti memiliki kapasitas teknis untuk mengelola skala produksi organik yang kompetitif. Diperlukan sinergi dengan lembaga riset pertanian, universitas, dan lembaga sertifikasi organik internasional agar klaim “percontohan organik” tidak sekadar slogan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa target produksi beras Blora pada 2025?
A: Sekitar 305.252 ton, naik 25,07% dari tahun 2024. - Q: Apa yang dimaksud dengan lahan bengkok satu hektar per desa?
A: Lahan khusus yang dialokasikan untuk percobaan pertanian organik, diharapkan menjadi contoh bagi petani setempat. - Q: Bagaimana peran BUMN seperti Pertamina dalam program organik Blora?
A: Pertamina dijajaki sebagai mitra pendamping teknis dan pembiayaan, meski detail kerjasama masih dalam tahap pembicaraan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Lille Sempat Bayangi PSG di Puncak Liga Prancis, Jarak Poin Makin Tipis

Kuliner Jawa Otentik di Hati Tokyo: Warteg Monggo Moro Jadi Destinasi Rindu Warga Klaten

Jingle Kolaborasi no na dan Shopee 11.11 Raih 46 Juta Perhatian Pengguna Medsos
