Remaja Indonesia Hanya 56% Paham Keuangan: OJK Gencarkan Edukasi Sekolah

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Remaja Indonesia Hanya 56% Paham Keuangan: OJK Gencarkan Edukasi Sekolah
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Indeks literasi keuangan remaja (15-17 th) hanya 56,04%, jauh di bawah inklusi 89,13%.
  • Dicky Kartikoyono dari OJK berjanji integrasi materi ke sekolah.
  • Target RPJMN 2029 (literasi 59,39% & inklusi 93%) sudah terlampaui, namun kualitas pemahaman masih menjadi tantangan.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK 2026) mengungkap bahwa remaja Indonesia berusia 15‑17 tahun mencatat indeks literasi keuangan hanya 56,04 persen. Angka ini kontras tajam dengan tingkat inklusi keuangan yang mencapai 89,13 persen, menandakan bahwa akses ke produk keuangan tidak otomatis berarti pemahaman yang memadai.

Menurut Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, kondisi ini menjadi prioritas utama. OJK berencana menggandeng kementerian terkait untuk menanamkan materi literasi keuangan sejak pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. “Materi akan disesuaikan dengan karakteristik masing‑masing kelompok usia,” ujarnya dalam konferensi pers.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pentingnya intervensi sebelum generasi muda menjadi pengguna aktif produk keuangan. Ia menambahkan bahwa pendekatan “one‑size‑fits‑all” tidak efektif; OJK akan mengadopsi life‑cycle approach untuk menyesuaikan program edukasi dengan tahapan kehidupan.

Secara nasional, indeks literasi keuangan naik menjadi 69,57 persen pada 2026, meningkat 2,93 poin dari tahun sebelumnya, sementara inklusi mencapai 93,61 persen. Kedua indikator ini telah melampaui target RPJMN 2025‑2029 (literasi 59,39% & inklusi 93%). Namun, OJK menekankan bahwa peningkatan akses harus diiringi dengan peningkatan pemahaman agar risiko over‑leveraging dan keputusan finansial yang buruk dapat diminimalisir.

Analisis Pakar

Data SNLIK 2026 menggarisbawahi sebuah paradoks: Indonesia berhasil membuka pintu layanan keuangan bagi hampir seluruh populasi, namun belum berhasil mengajarkan cara menggunakannya secara cerdas. Dari perspektif makroekonomi, rendahnya literasi di kalangan remaja dapat menahan potensi pertumbuhan konsumsi domestik yang berkelanjutan. Remaja yang belum memahami konsep bunga, risiko, atau diversifikasi cenderung menjadi konsumen impulsif, yang pada gilirannya meningkatkan volatilitas permintaan barang dan jasa.

Strategi OJK yang mengintegrasikan literasi ke dalam kurikulum sekolah adalah langkah tepat, namun implementasinya harus dipantau secara ketat. Kurikulum harus bersifat interaktif—misalnya melalui simulasi investasi, permainan keuangan digital, atau kerja sama dengan fintech yang menyediakan sandbox edukasi. Tanpa mekanisme evaluasi yang jelas, program ini berisiko menjadi sekadar formalitas yang tidak mengubah perilaku.

Lebih jauh, sektor perbankan dan fintech harus menyesuaikan produk mereka dengan tingkat literasi yang masih rendah. Produk dengan struktur biaya transparan, fitur edukatif, dan batasan kredit yang wajar akan membantu menurunkan tingkat gagal bayar di kalangan generasi muda. Kebijakan regulasi yang mendorong “financial‑first design” dapat menjadi katalisator bagi ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Terakhir, pencapaian target RPJMN memang patut diapresiasi, namun indikator kualitas—seperti tingkat pemahaman risiko, kemampuan perencanaan keuangan, dan penggunaan produk investasi—harus menjadi tolok ukur berikutnya. Pemerintah, OJK, dan sektor swasta perlu berkolaborasi dalam membangun ekosistem edukasi yang berkelanjutan, bukan sekadar kampanye satu kali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa indeks literasi keuangan remaja jauh lebih rendah dibandingkan inklusi keuangan?
    A: Akses ke layanan keuangan sudah meluas, tetapi pendidikan tentang cara menggunakannya belum merata, sehingga pemahaman masih rendah.
  • Q: Apa saja langkah konkret OJK untuk meningkatkan literasi keuangan di sekolah?
    A: OJK akan mengintegrasikan materi ke dalam kurikulum dasar, menengah, dan perguruan tinggi, menyesuaikan konten dengan usia, serta mengadopsi pendekatan siklus kehidupan.
  • Q: Bagaimana bisnis fintech dapat memanfaatkan data ini?
    A: Fintech dapat mengembangkan produk edukatif, menawarkan simulasi investasi, dan menyesuaikan fitur kredit agar sesuai dengan tingkat literasi pengguna muda.
Meow! Tanya Nesi!
😾