Garam & ACWA Power Gandeng Proyek Desalinasi Besar di Gresik: Transformasi Industri Garam Nasional

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Garam & ACWA Power Gandeng Proyek Desalinasi Besar di Gresik: Transformasi Industri Garam Nasional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Garam tandatangani Joint Development Agreement dengan ACWA Power Indonesia untuk proyek desalinasi dan produksi garam di Gresik.
  • Proyek BOO berkapasitas 62.500 mÂł/hari desalination dan 500.000 ton garam per tahun, dengan model pembiayaan limited/non‑recourse.
  • Kolaborasi menekankan transfer teknologi, pengembangan SDM, dan potensi eksplorasi mineral laut, membuka ekosistem industri baru.

Jakarta – PT Garam dan PT ACWA Power Indonesia resmi menandatangani Joint Development Agreement (JDA) pada Selasa (11/8/2026) di Danantara Indonesia. Penandatanganan yang dihadiri oleh Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, serta Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Republik Indonesia, Faisal Abdullah Amodi, menandai langkah strategis untuk mengintegrasikan teknologi desalinasi air laut dengan produksi garam industri.

Proyek yang direncanakan berlokasi di Gresik, Jawa Timur akan mengusung konsep Build‑Own‑Operate (BOO) melalui sebuah Project Company yang akan dibentuk di Indonesia. Fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dirancang menghasilkan 62.500 m³ air bersih per hari, sementara unit garam akan memproduksi sekitar 500.000 ton garam per tahun. Selain air dan garam, proyek ini juga membuka peluang pemanfaatan mineral laut lain, asalkan layak secara teknis dan ekonomis.

ACWA Power akan menyediakan keahlian dalam pemilihan teknologi, penyusunan skema pembiayaan, serta dukungan EPC, operasi, dan pemeliharaan (O&M). Transfer pengetahuan dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal menjadi bagian integral, dengan tujuan memperkuat kompetensi nasional dalam mengoperasikan fasilitas berskala industri. Sementara itu, PT Garam akan mengurus perizinan, akses lokasi, dan pengembangan pasar untuk produk akhir.

Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar meningkatkan kapasitas produksi, melainkan membangun ekosistem industri yang menggabungkan desalinasi, produksi garam, efisiensi energi, dan potensi mineral laut. “Kami menargetkan manfaat jangka panjang bagi Indonesia, termasuk transfer teknologi dan pengembangan SDM yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Analisis Pakar

Kolaborasi antara PT Garam dan ACWA Power menandai titik balik bagi industri garam Indonesia yang selama ini bergantung pada metode tradisional. Dengan mengadopsi teknologi reverse osmosis, proyek ini tidak hanya menghasilkan air bersih untuk kebutuhan industri, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan air laut sebagai sumber bahan baku garam. Pendekatan BOO dan pembiayaan non‑recourse menurunkan risiko bagi pemerintah dan meningkatkan daya tarik bagi investor institusional yang mengutamakan cash‑flow proyek.

Dari perspektif makroekonomi, proyek ini dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan industri, mengurangi ketergantungan pada impor garam dan air bersih. Potensi nilai tambah dari mineral laut—seperti magnesium atau lithium—jika teridentifikasi, dapat membuka lini produk baru yang menambah devisa. Namun, keberhasilan sangat bergantung pada regulasi lingkungan, tarif listrik, dan stabilitas kebijakan energi.

Transfer teknologi dan pelatihan SDM menjadi kunci. Tanpa penguasaan operasional yang memadai, fasilitas berteknologi tinggi berisiko menjadi beban biaya operasional. Oleh karena itu, perjanjian harus mencakup mekanisme pelatihan berkelanjutan dan jaminan pasokan suku cadang. Pemerintah perlu memastikan bahwa skema pembiayaan tidak menimbulkan beban utang tersembunyi bagi negara.

Secara strategis, proyek ini dapat menjadi model bagi sektor maritim lainnya, seperti pengolahan air laut untuk industri petrokimia atau produksi bahan bakar hijau. Jika berhasil, Gresik dapat bertransformasi menjadi hub industri berbasis laut, menarik investasi tambahan dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa kapasitas produksi garam dan air desalinasi yang direncanakan?
    A: Proyek akan menghasilkan sekitar 500.000 ton garam per tahun dan 62.500 m³ air bersih per hari.
  • Q: Apa model pembiayaan yang akan digunakan?
    A: Proyek akan menggunakan pembiayaan limited/non‑recourse, berbasis pada arus kas dan kelayakan proyek.
  • Q: Bagaimana proyek ini akan mempengaruhi industri garam Indonesia?
    A: Dengan teknologi modern, proyek diharapkan meningkatkan efisiensi, menurunkan biaya produksi, dan membuka peluang diversifikasi produk berbasis mineral laut.
Meow! Tanya Nesi!
😾