PLN & Rappo Makassar Ubah 10,5 Ton Sampah Plastik Jadi Furnitur Bernilai Tinggi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Ringkasan Singkat Komunitas Rappo bersama PLN berhasil mengolah 10,5 ton sampah plastik HDPE dan PET menjadi furnitur, plakat, dan aksesori.
- Dukungan mesin pencacah, oven, dan injeksi dari PLN Unit Induk Distribusi Sulselrabar mempercepat proses daur ulang sejak 2024.
- Inisiatif ini menciptakan 20‑25 lapangan kerja, terutama bagi perempuan, dan menargetkan penjualan ke sektor HORECA serta properti.
Ringkasan Singkat
- Komunitas Rappo bersama PLN berhasil mengolah 10,5 ton sampah plastik HDPE dan PET menjadi furnitur, plakat, dan aksesori.
- Dukungan mesin pencacah, oven, dan injeksi dari PLN Unit Induk Distribusi Sulselrabar mempercepat proses daur ulang sejak 2024.
- Inisiatif ini menciptakan 20‑25 lapangan kerja, terutama bagi perempuan, dan menargetkan penjualan ke sektor HORECA serta properti.
Di kawasan Makassar, komunitas pemberdayaan Rappo bersama warga Pesisir Untia mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai. Dimulai pada 2020, Rappo fokus pada daur ulang kantong plastik, namun sejak 2024 mereka memperluas ke jenis HDPE (High‑density polyethylene) dan PET (Polyethylene terephthalate). "Botol minuman, tutup botol, botol oli, tupperware, dan kotak makanan keras semuanya masuk dalam kategori HDPE," ujar Riswanda Fatriansah, General Affair Rappo, saat workshop di Pesisir Untia.
Kolaborasi strategis dengan PLN dimulai pada Desember 2024, ketika PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) menyalurkan tiga mesin penting: pencacah, oven, dan injeksi. Selain menyediakan peralatan, PLN juga memberikan pendampingan teknis bagi operator Rappo.
Rappo mengumpulkan bahan baku melalui jaringan bank sampah dan program donasi dari kantor pusat di Pengayoman, Panakkukang. Setelah disortir dan dibersihkan, plastik diproses menjadi butiran kecil, dipanaskan, dan dibentuk menjadi papan yang selanjutnya diolah oleh pengrajin menjadi furnitur, plakat, serta aksesori seperti gantungan kunci. Dalam satu bulan, Rappo mampu mengolah 50‑100 kg sampah, dan sejak 2020 hingga 2026 totalnya mencapai 10,5 ton.
Produk akhir ditujukan ke pasar HORECA (hotel, restoran, kafe) dan properti, membuka peluang penjualan yang stabil. Program Komunitas Berdaya Nusantara juga menyerap 20‑25 tenaga kerja, mayoritas perempuan rumah tangga, dengan pendapatan hingga Rp 2 juta per bulan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial.
Analisis Pakar
Inisiatif Rappo‑PLN merupakan contoh klasik ekonomi sirkular yang menggabungkan kebijakan publik dengan inovasi sosial. Dari perspektif makroekonomi, proyek ini menurunkan beban pencemaran lingkungan sekaligus menambah nilai tambah pada bahan yang sebelumnya hanya menjadi beban biaya pengelolaan. Dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai, daerah Makassar dapat mengurangi ketergantungan pada impor furnitur dan aksesori, memperkuat neraca perdagangan lokal.
Namun, skala produksi masih terbatas pada 300 kg per bulan. Untuk mencapai target 20 ton, diperlukan investasi tambahan pada lini produksi otomatisasi, serta penguatan rantai pasokan bahan baku. Pemerintah daerah dan sektor swasta harus mempertimbangkan insentif fiskal—misalnya pengurangan pajak atau subsidi energi—untuk mempercepat adopsi teknologi daur ulang yang lebih efisien.
Aspek tenaga kerja juga penting. Penyerapan 20‑25 pekerja dengan upah Rp 2 juta per bulan menunjukkan potensi inklusi sosial, terutama bagi perempuan. Jika model ini direplikasi di kota lain, dapat menciptakan jaringan kerja terintegrasi yang mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan pendapatan rumah tangga di wilayah marginal.
Terakhir, kolaborasi antara BUMN (PLN) dan komunitas lokal menegaskan peran tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang lebih strategis. Alih-alih sekadar donasi, PLN menyediakan aset produktif yang memperkuat ekosistem ekonomi hijau. Ini sejalan dengan Sustainable Development Goal 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Jika berhasil, model ini dapat menjadi blueprint nasional untuk mengatasi krisis plastik sekaligus mendorong pertumbuhan industri kreatif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa ton sampah plastik yang telah diolah Rappo hingga kini?
A: Rappo telah mengolah sekitar 10,5 ton sampah plastik HDPE dan PET sejak 2020. - Q: Apa peran PLN dalam proyek daur ulang ini?
A: PLN menyediakan mesin pencacah, oven, dan injeksi serta pendampingan teknis untuk meningkatkan kapasitas produksi Rappo. - Q: Siapa target pasar utama produk daur ulang Rappo?
A: Produk diarahkan ke sektor HORECA (hotel, restoran, kafe) serta pengembang properti yang membutuhkan furnitur dan aksesori ramah lingkungan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
