John Herdman Jadi Satu-satunya Pelatih Timnas Indonesia yang Selamat dari Pemecatan PSSI Pasca AFF 2026!

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

John Herdman Jadi Satu-satunya Pelatih Timnas Indonesia yang Selamat dari Pemecatan PSSI Pasca AFF 2026!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • John Herdman tetap dipertahankan oleh PSSI meski Timnas Indonesia tersingkir di fase grup Piala AFF 2026.
  • Sejarah menunjukkan enam kali kegagalan grup sebelumnya selalu berujung pada pemecatan pelatih.
  • Kepercayaan Ketua Umum PSSI pada kemampuan taktik Herdman menjadi faktor utama keputusan ini.

Sejarah PialaAFF memang penuh liku bagi Timnas Indonesia. Enam kali timnas terhenti di fase grup, dan biasanya pelatih yang memimpin tim tersebut langsung dipecat oleh PSSI. Namun, kali ini John Herdman menulis babak baru: kegagalan grup tidak berujung pada pemecatan, melainkan pada evaluasi mendalam.

Jejak pemecatan pelatih sebelumnya cukup panjang. Pada 2007, Peter White tak melanjutkan kontraknya setelah Indonesia gagal melaju ke semifinal. Lima tahun kemudian, Nil Maizar juga kehilangan jabatan usai kegagalan grup dalam era dualisme kompetisi. Alfred Riedl menjadi korban berikutnya pada AFF 2014, meski skuadnya terbatas oleh kebijakan klub. Kemudian, Bima Sakti dan Shin Tae Yong masing‑masing mengalami nasib serupa pada AFF 2018 dan 2024.

Berbeda dengan mereka, Herdman mendapat kepercayaan penuh dari Ketua Umum PSSI yang menilai proses polishing taktik dan mental pemain masih jauh dari selesai. Keputusan ini menandakan perubahan paradigma: bukan sekadar menilai hasil akhir, melainkan menilai proses pembangunan tim jangka panjang. Jika berhasil, Indonesia bisa menyiapkan skuad yang lebih solid untuk SEA Games 2025 dan kompetisi internasional lainnya.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat yang telah menyaksikan naik turunnya timnas selama dua dekade, saya melihat keputusan PSSI ini sebagai langkah strategis yang berani. Selama ini, budaya “reaksi cepat” terhadap kegagalan grup telah menimbulkan siklus instabilitas kepelatihan, menghambat kontinuitas taktik. Herdman, dengan latar belakangnya di Inggris dan Kanada, membawa filosofi permainan yang menekankan kontrol bola, pressing terkoordinasi, dan transisi cepat. Ini sangat cocok untuk generasi muda Indonesia yang kini lebih terbiasa dengan kecepatan dan dinamika modern.

Namun, tantangan terbesar tetap pada adaptasi pemain. Banyak pemain domestik masih terbiasa dengan pola permainan tradisional yang mengandalkan fisik dan serangan satu‑law‑one. Herdman harus mengubah mindset ini melalui sesi latihan intensif, video analysis, dan penanaman mentalitas “team first”. Jika ia berhasil, Indonesia tidak hanya akan lolos grup, tetapi juga menjadi tim yang menakutkan di fase knockout.

Selain itu, dukungan struktural dari PSSI sangat krusial. Tanpa fasilitas latihan yang memadai, kompetisi domestik yang kompetitif, serta jadwal internasional yang teratur, bahkan pelatih terbaik sekalipun akan terhambat. Saya berharap keputusan ini diikuti dengan investasi pada akademi muda, peningkatan infrastruktur, dan kebijakan transfer yang memudahkan pemain berpengalaman berkompetisi di luar negeri.

Kesimpulannya, memelihara Herdman bukan sekadar “memberi kesempatan kedua”, melainkan sebuah investasi jangka panjang. Jika eksekusi taktiknya berjalan lancar, Indonesia dapat menatap masa depan dengan optimisme, bukan lagi sekadar menghindari pemecatan pelatih setiap kali hasil tidak memuaskan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa John Herdman tidak dipecat setelah kegagalan di fase grup AFF 2026?
    A: PSSI menilai bahwa kegagalan tersebut lebih merupakan proses evaluasi taktik dan bukan alasan untuk memutuskan kontrak, sehingga mereka memberi kesempatan pada Herdman untuk memperbaiki tim.
  • Q: Berapa kali Indonesia pernah tersingkir di fase grup Piala AFF?
    A: Enam kali, termasuk pada edisi 2026.
  • Q: Siapa saja pelatih Indonesia yang pernah dipecat setelah kegagalan grup?
    A: Peter White (2007), Nil Maizar (2012), Alfred Riedl (2014), Bima Sakti (2018), dan Shin Tae Yong (2024).
Meow! Tanya Nesi!
😾