Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ekspor Makanan Olahan RI Tertinggal Jauh dari Thailand: Penyebab & Peluang Bisnis

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ekspor Makanan Olahan RI Tertinggal Jauh dari Thailand: Penyebab & Peluang Bisnis
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Indonesia menempati peringkat ke‑4 ASEAN dalam ekspor makanan olahan pada 2025 dengan nilai US$6,25 miliar (Rp111,38 triliun).
  • Thailand melaju jauh di depan dengan ekspor US$17,69 miliar (Rp315,20 triliun), diikuti Vietnam US$8,89 miliar dan Singapura US$6,5 miliar.
  • Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor keseluruhan 5,3‑6,9 % pada 2026, dengan sektor F&B menjadi salah satu pilar utama.

Ringkasan Singkat

  • Indonesia menempati peringkat ke‑4 ASEAN dalam ekspor makanan olahan pada 2025 dengan nilai US$6,25 miliar (Rp111,38 triliun).
  • Thailand melaju jauh di depan dengan ekspor US$17,69 miliar (Rp315,20 triliun), diikuti Vietnam US$8,89 miliar dan Singapura US$6,5 miliar.
  • Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor keseluruhan 5,3‑6,9 % pada 2026, dengan sektor F&B menjadi salah satu pilar utama.

Dalam Dyah Roro Esti sebagai Wakil Menteri Perdagangan mengungkapkan data terbaru, nilai ekspor makanan olahan Indonesia masih jauh tertinggal dari Thailand. Pada 2025, ekspor Indonesia tercatat US$6,25 miliar atau setara Rp111,38 triliun, menempatkan negara ini di peringkat keempat di antara 10 negara ASEAN.

Bandingkan dengan Thailand yang mencatat US$17,69 miliar (Rp315,20 triliun), selisihnya hampir tiga kali lipat. Vietnam berada di posisi ketiga dengan US$8,89 miliar, sementara Singapura menutup empat besar dengan US$6,5 miliar. "Kita peringkat keempat di antara negara‑negara ASEAN," kata Roro dalam Indonesia Food and Beverage Trade Promotion Forum di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (11/8).

Roro menekankan bahwa posisi ini mencerminkan daya saing produk F&B Indonesia di pasar regional. Ia menambahkan bahwa meski Indonesia masuk dalam lima besar eksportir makanan olahan ASEAN, masih ada ruang signifikan untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional melalui peningkatan kualitas dan pemenuhan standar asing.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$25,4 miliar, naik 8 % YoY. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,3‑6,9 % untuk 2026, dengan proyeksi total ekspor mencapai US$315 miliar (Rp5.613,61 triliun). Sektor makanan dan minuman diposisikan sebagai kontributor kunci dalam pencapaian target tersebut.

Kementerian Perdagangan mengoperasikan jaringan Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara, berfungsi sebagai jembatan antara produsen F&B Indonesia dan pembeli potensial di luar negeri. "Harapan kami, khususnya di Kementerian Perdagangan, dapat memfasilitasi seluruh pelaku usaha khususnya di sektor F&B untuk menembus pasar internasional dengan jaringan yang kami miliki," pungkas Roro.

Analisis Pakar

Data ini menggarisbawahi dua tantangan struktural yang harus dihadapi industri makanan olahan Indonesia. Pertama, rantai pasok masih terfragmentasi, sehingga biaya produksi tetap tinggi dan margin keuntungan tertekan. Kedua, standar kualitas internasional—terutama di pasar Eropa dan Amerika Utara—menuntut sertifikasi yang belum sepenuhnya dikuasai oleh pelaku UMKM. Kedua faktor ini menimbulkan kesenjangan kompetitif yang jelas dibandingkan Thailand, yang telah menginvestasikan secara signifikan dalam modernisasi fasilitas produksi dan pelatihan SDM.

Dari perspektif makroekonomi, peningkatan ekspor F&B dapat menjadi katalisator diversifikasi ekspor, mengurangi ketergantungan pada komoditas tradisional seperti batu bara dan kelapa sawit. Namun, realisasi potensi tersebut memerlukan kebijakan yang lebih terarah: insentif fiskal untuk adopsi teknologi pengolahan, dukungan pembiayaan bagi perusahaan menengah yang ingin memperoleh sertifikasi HACCP atau ISO, serta penguatan diplomasi perdagangan yang menargetkan pasar premium.

Strategi yang dapat dipertimbangkan meliputi pembentukan klaster industri di wilayah dengan akses logistik optimal—seperti Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Makassar—untuk menciptakan ekosistem yang memudahkan integrasi antara petani, pengolah, dan eksportir. Selain itu, kolaborasi dengan institusi riset untuk mengembangkan produk berbasis bahan baku lokal yang memiliki nilai tambah tinggi (misalnya, snack berbasis tempe, sambal organik, atau minuman fungsional) dapat membuka ceruk pasar baru.

Terakhir, pemerintah harus memperkuat peran trade promotion dengan memanfaatkan data intelijen pasar secara real‑time, sehingga produsen dapat menyesuaikan portofolio produk dengan tren konsumen global. Tanpa langkah-langkah tersebut, Indonesia akan terus berada di belakang Thailand, meski memiliki potensi sumber daya alam dan demografis yang jauh lebih besar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa ekspor makanan olahan Indonesia jauh di belakang Thailand?
  • A: Thailand memiliki infrastruktur produksi yang lebih maju, standar kualitas yang lebih tinggi, serta jaringan pemasaran internasional yang lebih kuat, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan pada rantai pasok, sertifikasi, dan promosi.
  • Q: Apa target pertumbuhan ekspor Indonesia pada 2026?
  • A: Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 5,3‑6,9 % dengan nilai total mencapai US$315 miliar (sekitar Rp5,6 triliun).
  • Q: Bagaimana pemerintah membantu pelaku usaha F&B menembus pasar internasional?
  • A: Melalui jaringan Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara, serta program fasilitasi, pembiayaan, dan pelatihan untuk memenuhi standar ekspor.
Meow! Tanya Nesi!
😸