Supermajor Migas Raup US$48 Miliar di Kuartal II 2026, Trump Desak Turunkan Harga

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Supermajor Migas Raup US$48 Miliar di Kuartal II 2026, Trump Desak Turunkan Harga
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Lima supermajor migas mencatat laba bersih US$48 miliar (≈ Rp854,4 triliun) pada Q2‑2026.
  • Total kas gabungan hampir US$90 miliar, naik US$17 miliar dalam tiga bulan terakhir.
  • Presiden Donald Trump menuntut penurunan harga bahan bakar, namun perusahaan lebih fokus memperkuat neraca dan menjaga operasi.

Jakarta, CNBC Indonesia – Lima raksasa minyak dunia – ExxonMobil, Chevron, BP, Shell, dan TotalEnergies – mencatat keuntungan bersih sekitar US$48 miliar (Rp854,4 triliun) pada kuartal II‑2026. Angka ini menandai salah satu puncak profitabilitas dalam sejarah industri, bahkan melampaui lonjakan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022.

Menurut Clark Williams‑Derry, analis keuangan energi di IEEFA, “para supermajor menikmati bonanza tunai yang belum pernah terjadi sebelumnya pada kuartal terakhir.” Namun, ia menegaskan bahwa sebagian besar dana tidak langsung dialokasikan untuk ekspansi produksi. Belanja modal, dividen, dan program pembelian kembali saham tetap pada level yang relatif stabil.

Sebagian besar kas tambahan – sekitar US$17 miliar (Rp302,6 triliun) dalam tiga bulan – dipakai untuk memperkuat neraca, menambah cadangan likuiditas, dan melunasi utang. “Cara sinis untuk menggambarkan buku pedoman keuangan industri minyak adalah: ‘Berdoalah untuk perang.’” kata Williams‑Derry, menyoroti ketergantungan pada lonjakan harga yang dipicu oleh konflik geopolitik seperti krisis di Ukraina dan ketegangan Iran. Serangan drone Houthi terhadap kilang minyak Aramco menambah ketidakpastian pasar.

CEO BP, Meg O'Neill, menegaskan fokus perusahaan pada keandalan aset produksi dan kilang, termasuk penyesuaian operasi penyulingan untuk memastikan pasokan bahan bakar jet dan diesel. Sementara itu, CEO Shell, Wael Sawan, menyebut volatilitas harga sebagai “normal baru”. Direktur investasi AJ Bell, Russ Mould, menambahkan bahwa dana dapat dialokasikan ke merger‑akuisisi, proyek baru, pembayaran utang, dividen, atau buy‑back, tergantung strategi masing‑masing perusahaan.

Keuntungan melambung ini memicu tekanan politik. Kelompok lingkungan menuntut pajak rejeki nomplok untuk mendanai infrastruktur rendah karbon, sedangkan American Petroleum Institute (API) menolak kebijakan serupa, mengklaim akan menghambat investasi energi jangka panjang.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat dua dinamika utama yang memengaruhi keputusan alokasi dana supermajor ini. Pertama, peningkatan kas yang signifikan memberi perusahaan fleksibilitas untuk menahan guncangan harga minyak yang ekstrem. Di era pasca‑pandemi, volatilitas harga menjadi norma, dan likuiditas tinggi menjadi asuransi strategis untuk menjaga kelangsungan operasi dan melindungi pemegang saham.

Kedua, tekanan politik yang muncul dari pihak Presiden Donald Trump dan kelompok lingkungan menandai pergeseran paradigma kebijakan energi. Jika pemerintah mengimplementasikan pajak rejeki nomplok, beban biaya modal bagi supermajor akan naik, memaksa mereka menilai kembali investasi jangka panjang, terutama dalam proyek‑proyek fosil yang berisiko tinggi. Sebaliknya, penolakan API menegaskan bahwa industri masih mengandalkan kebebasan regulasi untuk menjaga arus investasi.

Dari perspektif bisnis, keputusan untuk tidak meningkatkan belanja modal secara agresif mencerminkan sikap “wait‑and‑see”. Perusahaan lebih memilih menguatkan neraca sambil menunggu sinyal pasar yang lebih jelas mengenai kebijakan energi hijau dan potensi permintaan harga minyak di tengah transisi energi global. Ini adalah strategi defensif yang logis, mengingat ketidakpastian geopolitik dan regulasi yang terus berubah.

Akhirnya, bagi investor, sinyal utama adalah arus kas bebas yang melimpah. Namun, nilai tambah bagi pemegang saham tidak otomatis datang dari dividen atau buy‑back semata; kualitas investasi di sektor energi terbarukan dan efisiensi operasional akan menjadi penentu nilai jangka panjang. Perusahaan yang mampu mengalihkan sebagian kas ke proyek rendah karbon tanpa mengorbankan profitabilitas akan menjadi pemenang dalam kompetisi industri yang semakin terfragmentasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa total keuntungan bersih yang dicatat oleh lima supermajor migas pada kuartal II‑2026?
    A: Sekitar US$48 miliar (Rp854,4 triliun).
  • Q: Mengapa Presiden Donald Trump menuntut penurunan harga bahan bakar?
    A: Karena kenaikan harga bahan bakar meningkatkan inflasi dan beban hidup konsumen, sehingga ia meminta perusahaan migas menurunkan harga jual ke konsumen.
  • Q: Bagaimana perusahaan migas mengalokasikan kas tambahan yang mereka peroleh?
    A: Sebagian besar kas digunakan untuk memperkuat neraca, melunasi utang, serta mempertahankan dividen dan program buy‑back; belanja modal tetap stabil, sementara investasi strategis seperti merger‑akuisisi atau proyek energi baru dipertimbangkan secara selektif.
Meow! Tanya Nesi!
😸