Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Netanyahu Tolak Pakta Damai Trump: Dampak Politik & Bisnis di Tengah Pemilu

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Netanyahu Tolak Pakta Damai Trump: Dampak Politik & Bisnis di Tengah Pemilu
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Benjamin Netanyahu menolak rencana 15 poin Trump yang diusulkan oleh Donald Trump, menegaskan penarikan pasukan hanya setelah Hamas melucuti senjata.
  • Penolakan mendapat dukungan keras dari koalisi kanan Israel, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menjelang pemilu 27 Oktober.
  • Meski retorika keras, militer Israel mengurangi intensitas serangan Gaza, menandakan tekanan diplomatik dari AS dan dinamika politik domestik.

Perdana Menteri BenjaminNetanyahu kembali menegaskan penolakannya terhadap DonaldTrump dalam sambutan televisi yang ditujukan kepada kabinet sayap kanan pada Minggu lalu. Ia menolak draf perdamaian 15 poin yang mencakup penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, dan penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional.

"Israel tidak akan menarik pasukan sebelum Hamas melucuti semua senjata, baik berat maupun ringan," tegas Netanyahu di awal pertemuan dengan para menteri. Ia menambahkan bahwa Israel sedang melakukan dialog intensif dengan Washington, menyaring ide‑ide yang dapat diterima dan menolak yang dianggap mengancam keamanan nasional.

Koalisi kanan, dipimpin oleh Menteri Keuangan BezalelSmotrich, memberikan dukungan penuh. "Kami berperang untuk menghancurkan Hamas. Militer tidak akan mundur satu milimeter pun dari Gaza," ujarnya.

Penolakan ini muncul di tengah survei yang menunjukkan penurunan popularitas Netanyahu menjelang pemilu 27 Oktober. Ia terjepit antara tekanan sayap kanan, harapan militer, dan keinginan Trump untuk menutup konflik secepatnya.

Secara taktis, militer Israel melaporkan penurunan skala serangan sejak Senin, membatasi operasi pada ancaman langsung. Langkah ini dipicu oleh pertemuan antara Netanyahu dan Nikolay Mladenov, utusan Dewan Perdamaian Trump, yang menegaskan bahwa pembicaraan tentang peta jalan baru masih berlangsung.

Rencana 15 poin Trump, yang diumumkan bulan lalu, mencakup penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, serta penempatan pasukan internasional. Hamas menolak istilah "pelucutan senjata" dan hanya setuju menyerahkan persenjataan ke administrasi teknokrat Palestina di bawah pengawasan Dewan Perdamaian Trump, sambil menuntut penarikan pasukan Israel terlebih dahulu.

Sejak gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober 2025, lebih dari 1.250 warga sipil tewas, dan dua pertiga wilayah Gaza kini terkosong, memaksa sekitar 2 juta penduduk mengungsi ke tenda‑tenda di pesisir.

Analisis Pakar

Penolakan Netanyahu bukan sekadar soal keamanan militer; ia merupakan kalkulasi politik yang sangat terukur. Menjelang pemilu, koalisi kanan menuntut posisi keras untuk mengamankan basis pemilih konservatif, sementara tekanan internasional menuntut langkah de‑eskalasi. Dalam konteks ini, keputusan menolak rencana DonaldTrump dapat dipandang sebagai upaya mempertahankan kontrol naratif domestik, meski berisiko menurunkan kepercayaan investor asing yang mengawasi stabilitas geopolitik Timur Tengah.

Dari perspektif ekonomi makro, ketidakpastian yang berkelanjutan di Gaza memperpanjang risiko supply‑chain di sektor energi dan logistik. Harga minyak mentah global tetap sensitif terhadap fluktuasi ketegangan di wilayah ini; penurunan intensitas militer dapat menurunkan premi risiko, namun ketegangan politik internal Israel dapat menimbulkan volatilitas pasar saham regional, terutama pada indeks Tel Aviv yang dipengaruhi oleh sektor pertahanan dan teknologi.

Selain itu, kebijakan penarikan pasukan yang ditunda menunda potensi aliran bantuan internasional dan rekonstruksi Gaza. Investor infrastruktur dan perusahaan konstruksi yang menantikan proyek pasca‑konflik harus menyesuaikan ekspektasi mereka, mengingat kemungkinan penundaan dana multilateral hingga ada kesepakatan yang jelas.

Terakhir, dinamika ini menyoroti peran Amerika Serikat sebagai mediator. Jika Trump gagal menegosiasikan kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak, kredibilitas kebijakan luar negeri AS di kawasan akan tergerus, yang pada gilirannya dapat membuka ruang bagi kompetitor seperti Rusia atau China untuk memperluas pengaruh ekonomi mereka melalui investasi alternatif di wilayah tersebut.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Netanyahu menolak rencana damai Trump?
    A: Karena ia menuntut pelucutan senjata total Hamas sebelum penarikan pasukan, yang dianggap tidak realistis dalam rencana 15 poin Trump.
  • Q: Apa dampak penolakan ini terhadap pasar keuangan Israel?
    A: Ketidakpastian politik meningkatkan volatilitas indeks Tel Aviv, terutama saham sektor pertahanan dan teknologi.
  • Q: Bagaimana posisi Hamas dalam rencana damai Trump?
    A: Hamas menolak istilah "pelucutan senjata" dan hanya bersedia menyerahkan persenjataan ke administrasi teknokrat Palestina, sambil menuntut penarikan pasukan Israel terlebih dahulu.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸