Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump: Israel Bersikukuh Tanpa Penarikan Pasukan

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump: Israel Bersikukuh Tanpa Penarikan Pasukan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Premier Benjamin Netanyahu menolak seluruh 15 poin yang diajukan oleh Board of Peace yang diprakarsai oleh Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Gaza.
  • Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya sampai Hamas melucuti senjata secara total, termasuk senjata ringan dan jaringan terowongan.
  • Hamas mengklaim tetap berkomitmen pada rencana 15 poin dan menuntut Amerika Serikat serta mediator lain menekan Israel agar mematuhi kesepakatan.

Dalam rapat kabinet pada 9 Agustus, Premier Israel Benjamin Netanyahu menegaskan penolakan tegas terhadap dokumen 15 poin yang disusun oleh Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif multinasional yang dipelopori oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Netanyahu menambahkan bahwa militer Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan apa pun sampai Hamas melucuti senjata secara menyeluruh, termasuk senjata ringan, gudang persenjataan, dan jaringan terowongan yang selama ini menjadi tulang punggung operasi militer kelompok tersebut.

Menurut pernyataan yang disampaikan di depan kabinet, Israel sedang berkoordinasi dengan Amerika Serikat mengenai rencana tersebut, namun hingga kini belum ada respons resmi dari Gedung Putih atau kantor mantan presiden. "Mereka memiliki gagasan‑gagasan, sebagian dapat kami terima dan sebagian tidak," ujar Netanyahu, menekankan bahwa Israel akan tetap bersikap tegas dalam menanggapi setiap usulan yang dianggap tidak memenuhi standar keamanan nasional.

Netanyahu juga menegaskan komitmennya bahwa selama ia menjabat, tidak akan ada negara Palestina yang berdiri, sekaligus menolak untuk mematuhi peta jalan yang didukung oleh Amerika Serikat. Ia menambahkan, "Keinginan Israel adalah pelucutan senjata yang nyata, bukan pelucutan senjata yang semu."

Sementara itu, perwakilan politik Hamas, Bassem Naim, menyatakan bahwa kelompok tersebut tetap berkomitmen pada rencana 15 poin dan menuntut para mediator, termasuk Amerika Serikat, untuk menekan pemerintah Israel agar mematuhi kesepakatan. "Kami mengharapkan para mediator dan pihak penjamin dari AS untuk menekan Netanyahu dan pemerintahannya agar mematuhi peta jalan tersebut, serta tidak menghambat prosesnya demi alasan politik internal maupun pemilu," ujarnya kepada AFP.

Analisis Pakar

Penolakan Netanyahu terhadap rencana BoP mencerminkan dinamika politik internal Israel yang semakin dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan jangka panjang serta tekanan elektoral. Dari perspektif keamanan, Israel menilai bahwa pelucutan senjata total oleh Hamas masih jauh dari realitas, mengingat jaringan terowongan dan persenjataan tersembunyi yang telah beroperasi selama bertahun‑tahun. Tanpa verifikasi independen yang dapat menjamin kepatuhan Hamas, risiko kebocoran keamanan tetap tinggi, terutama bagi warga sipil di wilayah perbatasan selatan Israel.

Di sisi lain, inisiatif Board of Peace yang melibatkan lebih dari 40 negara menandakan adanya kelelahan global terhadap konflik yang berlarut‑larut di Gaza. Kesepakatan 15 poin yang diumumkan pada 30 Juli oleh mantan Presiden Donald Trump berusaha menggabungkan elemen‑elemen tradisional (gencatan senjata, penarikan pasukan) dengan langkah‑langkah struktural (pelucutan senjata, penutupan jaringan terowongan). Namun, tanpa dukungan politik yang kuat dari pihak-pihak utama—terutama Israel dan Hamas—rencana tersebut berisiko menjadi dokumen simbolis belaka.

Secara geopolitik, penolakan ini dapat memperpanjang ketegangan antara Washington dan Yerusalem. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi penjamin utama keamanan Israel, kini berada pada posisi yang rumit: mendukung inisiatif damai yang dipelopori mantan presidennya sambil menjaga hubungan strategis dengan Netanyahu yang masih memegang kendali militer. Jika Washington tidak dapat menengahi kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak, risiko eskalasi militer kembali meningkat, menambah beban kemanusiaan di Gaza yang sudah kritis.

Terlepas dari kebuntuan politik, para analis menekankan pentingnya mekanisme verifikasi internasional yang dapat memantau pelucutan senjata secara transparan. Tanpa mekanisme semacam itu, setiap langkah menuju gencatan senjata akan dipertanyakan keabsahannya, memperpanjang siklus kekerasan dan menghambat upaya rekonstruksi pasca‑konflik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Israel menolak rencana 15 poin Board of Peace?
    A: Israel menilai bahwa rencana tersebut tidak menjamin pelucutan senjata total oleh Hamas dan menganggap risiko keamanan masih terlalu tinggi untuk menarik pasukannya.
  • Q: Apa saja poin utama dalam rencana 15 poin yang diajukan oleh Board of Peace?
    A: Poin utama meliputi pelucutan senjata total Hamas, penutupan jaringan terowongan, penghentian produksi militer, dan gencatan senjata serta penarikan pasukan Israel secara bertahap.
  • Q: Bagaimana respons Hamas terhadap penolakan Israel?
    A: Hamas menyatakan tetap berkomitmen pada rencana tersebut dan menuntut Amerika Serikat serta mediator lain menekan Israel agar mematuhi kesepakatan.
Meow! Tanya Nesi!
😾