Mengapa Pengusaha Properti Indonesia Memilih Sydney: Undersupply, Permintaan Global, dan Peluang Investasi Besar
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Capital Value International Group (CVIG) mengalihkan investasi ke proyek townhouse di Sydney karena kekurangan pasokan hunian yang diproyeksikan mencapai 187.000 unit pada 2026.
- Permintaan properti di Sydney tidak hanya datang dari pembeli lokal, melainkan juga investor internasional, termasuk Indonesia, yang kini menempati posisi teratas setelah China, Hong Kong, dan Taiwan.
- Faktor demografis – migrasi tenaga kerja terampil, mahasiswa internasional, dan migrasi permanen – memperkuat fundamental pasar properti Australia, menjadikannya arena investasi yang stabil dan menguntungkan.
Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah pasar properti domestik yang masih berkembang, Capital Value International Group (CVIG) memilih untuk mengembangkan proyek perumahan di Sydney, Australia. CEO CVIG, Chandra Leonardi, menjelaskan bahwa kehadiran jangka panjang di Negeri Kanguru serta status Sydney sebagai kota global memberikan akses ke permintaan properti yang bersifat internasional, bukan sekadar lokal.
"Kalau kita bisa punya a piece of land di global city seperti Singapura, Tokyo, New York, whatever, itu kita punya demand bukan local only. Demand‑nya itu dunia," ujar Leonardi dalam pertemuan di Gunawarman, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Keputusan tersebut diambil ketika Sydney menghadapi krisis undersupply yang diperkirakan mencapai 187.000 rumah pada akhir 2026. Pemerintah Australia merespons dengan mengubah zona‑zona lama menjadi wilayah baru yang dapat menambah strata title property. "Pemerintah di sana mengubah banyak sekali wilayah‑wilayah lama menjadi wilayah‑wilayah baru supaya strata title property ini diperbanyak," kata Leonardi.
Proyek terbaru CVIG berlokasi di Roselands, seluas hampir 2.000 m², dan akan dibangun menjadi tujuh unit townhouse. Lokasinya strategis, hanya kurang dari 20 km (sekitar setengah jam) dari pusat kota Sydney, menjanjikan aksesibilitas tinggi bagi penghuni dan penyewa.
Populasi Australia terus tumbuh berkat program migrasi tenaga kerja terampil, mahasiswa internasional, dan migrasi permanen. Sydney dan Melbourne menjadi dua kota utama yang menyerap arus migrasi terbesar, sehingga permintaan hunian serta properti sewa diproyeksikan tetap tinggi dalam jangka panjang.
Menurut Australian Bureau of Statistics (ABS), nilai pasar properti residensial Australia telah mencapai sekitar AUD 12,8 triliun. Data CoreLogic mencatat median harga rumah di Sydney melampaui AUD 1,2 juta, sementara tingkat kekosongan (vacancy rate) hanya 1,3 % menurut SQM Research – menegaskan bahwa pasokan masih sangat terbatas.
Data terbaru dari Foreign Investment Review Board (FIRB) menunjukkan investor Indonesia memperoleh persetujuan investasi properti residensial senilai sekitar AUD 100 juta investasi besar, menempatkan Indonesia sebagai salah satu investor terbesar dari Asia setelah China, Hong Kong, dan Taiwan. Sementara itu, investasi asal China mengalami penurunan signifikan dari puncaknya sekitar AUD 31,9 miliar per tahun.
"Fundamental pasar Australia saat ini sangat kuat. Populasi terus bertambah, sementara pembangunan hunian belum mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan," tegas Leonardi. Hal ini sejalan dengan tren investasi tambang di kawasan Asia.
Analisis Pakar
Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat keputusan CVIG sebagai contoh klasik diversifikasi geografis yang cerdas. Australia, khususnya Sydney, menawarkan kombinasi tiga pilar utama: (1) pertumbuhan demografis yang berkelanjutan, (2) kebijakan pemerintah yang pro‑investasi, dan (3) struktur pasar properti yang transparan. Ketiga faktor ini menciptakan lingkungan yang relatif kebal terhadap volatilitas ekonomi global, berbeda dengan pasar domestik yang masih dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar Rupiah dan kebijakan fiskal yang tidak menentu.
Lebih jauh, penurunan investasi asal China membuka ruang bagi pemain Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk mengisi kekosongan tersebut. Investor Indonesia tidak hanya membawa modal, tetapi juga jaringan distribusi dan pemahaman tentang preferensi konsumen Asia‑Pasifik, yang dapat meningkatkan nilai tambah pada proyek‑proyek properti di Sydney. Ini berarti potensi upside yang signifikan bagi investor yang mampu menyesuaikan produk (misalnya, townhouse dengan desain yang mengakomodasi gaya hidup multikultural).
Namun, risiko tetap ada. Regulasi FIRB dapat berubah seiring tekanan politik domestik di Australia yang menuntut proteksi pasar perumahan bagi warga negara. Oleh karena itu, strategi exit yang jelas – baik melalui penjualan kembali ke investor institusional atau melalui REIT – harus dipersiapkan sejak awal. Diversifikasi portofolio dengan menambahkan aset‑aset pendukung seperti fasilitas layanan (co‑working space, fasilitas kebugaran) dapat meningkatkan cash flow dan mengurangi ketergantungan pada harga jual properti.
Kesimpulannya, investasi CVIG di Sydney bukan sekadar mencari “tanah di kota global”, melainkan memanfaatkan dinamika struktural yang mengarah pada surplus permintaan jangka panjang. Bagi pelaku bisnis Indonesia, ini menjadi sinyal bahwa pasar properti Australia kini lebih terbuka, dan mereka yang dapat menavigasi regulasi serta menyesuaikan produk dengan selera internasional akan memperoleh margin yang menarik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Sydney dianggap lebih menarik daripada pasar properti Indonesia?
- A: Sydney menawarkan undersupply yang signifikan, pertumbuhan populasi yang didorong oleh migrasi terampil, dan permintaan internasional yang kuat, sementara pasar Indonesia masih dipengaruhi oleh volatilitas nilai tukar dan regulasi yang berubah‑ubah.
- Q: Apa risiko utama bagi investor Indonesia yang menanamkan modal di properti Australia?
- A: Risiko utama meliputi perubahan kebijakan FIRB, fluktuasi nilai tukar AUD‑IDR, dan potensi penurunan permintaan jika kebijakan imigrasi Australia ketat.
- Q: Bagaimana cara memaksimalkan keuntungan dari investasi townhouse di Sydney?
- A: Fokus pada lokasi yang dekat dengan pusat kota dan transportasi publik, tambahkan fasilitas premium, serta rencanakan strategi exit melalui penjualan kembali atau REIT untuk mengamankan likuiditas.


