Freeport Indonesia Siapkan Investasi Rp 25 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah Baru – Target 750 Juta Pon Tembaga pada 2030
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Freeport Indonesia mengalokasikan US$1,4 miliar (≈Rp25 triliun) untuk mengembangkan tambang bawah tanah Kucing Liar di kawasan Grasberg.
- Proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2029, dengan ramp‑up produksi pada 2030 mencapai 130.000 ton bijih per hari.
- Investasi tambahan diproyeksikan mencapai US$4 miliar (≈Rp71,7 triliun) hingga 2033 untuk menutup biaya infrastruktur dan pengembangan lanjutan.
Jakarta – Freeport Indonesia (PTFI) kini tengah mempercepat pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar di kawasan mineral Grasberg, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Menurut Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI, perusahaan telah menyalurkan investasi sebesar US$1,4 miliar atau sekitar Rp25 triliun untuk fase pengembangan proyek ini.
"Investasi tersebut khusus untuk development, artinya kami sudah membuka akses tambang, membangun infrastruktur bawah tanah, dan menyiapkan fasilitas produksi," ujar Tony Wenas dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/8/2026). Ia menegaskan bahwa Kucing Liar akan mulai beroperasi pada 2029, dengan target ramp‑up produksi pada 2030 untuk mencapai kapasitas desain 130.000 metrik ton bijih per hari.
Jika proyek mencapai kapasitas penuh, Kucing Liar diperkirakan dapat menghasilkan rata‑rata 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas per tahun. Angka ini akan menjadi penopang utama bagi Freeport Indonesia dalam menjaga output berskala besar di Grasberg selama dekade berikutnya.
Sampai 30 Juni 2026, total investasi yang telah dikeluarkan mencapai US$1,4 miliar. Namun, perusahaan memperkirakan kebutuhan tambahan hingga US$4 miliar (≈Rp71,7 triliun) hingga tahun 2033 untuk menyelesaikan seluruh tahapan pengembangan, termasuk pembangunan fasilitas penunjang, sistem ventilasi, dan jaringan transportasi internal.
Analisis Pakar
Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam proyek Kucing Liar: pertama, aliran modal jangka panjang yang signifikan ke wilayah Papua Tengah. Investasi sebesar US$5,4 miliar (total hingga 2033) tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi tembaga dan emas, tetapi juga menambah basis fiskal daerah melalui pajak, royalti, dan kontribusi sosial‑ekonomi. Jika dikelola dengan transparansi, proyek ini dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat infrastruktur publik.
Kedua, risiko harga komoditas. Tembaga dan emas berada dalam siklus harga yang sangat sensitif terhadap kebijakan moneter global dan geopolitik. Dengan target produksi 750 juta pon tembaga per tahun, PTFI akan menjadi salah satu kontributor utama pasokan global. Fluktuasi harga tembaga di atas US$3,00 per pon dapat meningkatkan margin operasional secara signifikan, sementara penurunan tajam dapat menekan profitabilitas. Oleh karena itu, manajemen risiko harga—misalnya melalui kontrak forward atau opsi—harus menjadi bagian integral dari strategi keuangan perusahaan.
Selanjutnya, aspek keberlanjutan lingkungan. Tambang bawah tanah memang mengurangi dampak visual dibandingkan tambang terbuka, namun tetap menimbulkan tantangan terkait air tanah, emisi gas, dan penanganan limbah tailings. standar ESG yang lebih ketat dituntut oleh pemerintah Indonesia dan komunitas lokal. Kegagalan memenuhi standar tersebut dapat menimbulkan protes sosial, penundaan operasional, dan bahkan sanksi regulasi yang merugikan nilai perusahaan.
Secara makro, proyek ini memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen tembaga terbesar ke‑empat dunia. Dengan diversifikasi produksi antara tambang terbuka dan bawah tanah, negara dapat mengurangi volatilitas output dan meningkatkan ketahanan pasokan. Namun, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah, kepatuhan ESG, dan manajemen risiko komoditas yang proaktif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa total investasi yang diperlukan untuk proyek Kucing Liar?
A: Total investasi diproyeksikan mencapai US$5,4 miliar (sekitar Rp97 triliun), dengan US$1,4 miliar sudah dikeluarkan hingga Juni 2026 dan tambahan US$4 miliar diperlukan hingga 2033. - Q: Kapan tambang Kucing Liar diperkirakan mulai beroperasi?
A: Operasi awal dijadwalkan pada tahun 2029, dengan ramp‑up produksi penuh pada tahun 2030. - Q: Berapa kapasitas produksi tembaga dan emas yang diharapkan?
A: Pada kapasitas penuh, Kucing Liar diperkirakan menghasilkan sekitar 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas per tahun.


