Mengapa Pengusaha Indonesia Pilih Sydney: Risiko Tinggi, Potensi Besar

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Mengapa Pengusaha Indonesia Pilih Sydney: Risiko Tinggi, Potensi Besar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

Di tengah geliat pasar properti domestik, Capital Value International Group (CVIG) memutuskan untuk menancapkan sayapnya di Sydney, Australia. CEO Chandra Leonardi menegaskan bahwa lokasi menjadi faktor utama: "Ketika kita bikin bisnis, yang paling penting itu demand‑nya. Kalau kita bermain di pasar dengan demand tinggi, risikonya lebih rendah," ujarnya dalam konferensi pers di Gunawarman, Jakarta Selatan, 10 Agustus 2026.

Namun, keputusan tersebut bukan berarti prosesnya mulus. Chandra mengungkapkan bahwa perizinan pembangunan di Sydney sangat ketat. Untuk proyek terbaru CVIG di Roselands, proses Development Application (DA) Approval dapat memakan waktu 18 hingga 24 bulan. "Kami bekerja sama dengan sekitar 16 konsultan, masing‑masing bertanggung jawab atas laporan, kepatuhan terhadap Australian Building Standard, dan aspek teknis lainnya," jelasnya.

Strategi CVIG berfokus pada rumah tapak (landed house) alih‑alih gedung pencakar langit. Dari segi waktu konstruksi, rumah tapak dapat selesai dalam 12‑16 bulan, dibandingkan 24‑30 bulan untuk high‑rise. "Jika kita membangun high‑rise, biasanya memakan 24 sampai 30 bulan. Landed house lebih cepat," tambahnya.

Proyek Roselands berdiri di atas lahan hampir 2.000 m² hasil penggabungan dua properti. Di sana, CVIG berencana membangun tujuh unit townhouse dengan harga rata‑rata sekitar Rp30 miliar per unit. Dari total unit, empat akan dipasarkan, sementara tiga sisanya akan disimpan sebagai bagian dari portofolio investasi perusahaan. "Kami pribadi juga akan menyimpan sebagian karena ini menjadi aset jangka panjang kami," kata Chandra.

Analisis Pakar

Langkah CVIG masuk ke pasar properti Australia mencerminkan tren diversifikasi aset yang semakin umum di kalangan investor Indonesia. Dengan nilai tukar rupiah yang relatif lemah dan inflasi domestik yang masih tinggi, properti luar negeri menawarkan perlindungan nilai yang lebih stabil. Sydney, sebagai kota global, tidak hanya menarik penduduk lokal tetapi juga investor institusional dari Asia‑Pasifik, yang secara rutin mencari aset real‑estate berkelas.

Namun, risiko regulasi tidak boleh diremehkan. Proses perizinan yang memakan waktu hingga dua tahun meningkatkan biaya modal (cost of capital) dan menurunkan IRR (Internal Rate of Return) jika tidak dikelola dengan baik. Penggunaan 16 konsultan menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap standar bangunan Australia sangat ketat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas proyek dan mengurangi risiko kegagalan operasional.

Pilihan untuk mengembangkan rumah tapak alih‑alih high‑rise adalah keputusan yang cerdas dalam konteks cash‑flow. Siklus konstruksi yang lebih singkat mempercepat perputaran modal, memungkinkan perusahaan mengembalikan investasi lebih cepat dan mengurangi exposure terhadap fluktuasi suku bunga. Di sisi lain, pasar townhouse di Sydney masih premium, sehingga margin keuntungan per unit dapat tetap tinggi meski volume penjualan lebih rendah.

Strategi menahan tiga unit sebagai portofolio investasi juga menunjukkan orientasi jangka panjang CVIG. Aset properti di Sydney cenderung mengalami apresiasi nilai yang stabil, terutama di kawasan yang memiliki keterbatasan lahan seperti Roselands. Dengan demikian, CVIG tidak hanya mengandalkan penjualan untuk profit, tetapi juga mengakumulasi aset yang dapat menjadi sumber pendapatan pasif melalui sewa atau penjualan kembali di masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa investor Indonesia tertarik ke pasar properti Sydney?
    A: Sydney menawarkan permintaan tinggi dari investor global, stabilitas ekonomi, dan potensi apresiasi nilai properti yang kuat.
  • Q: Berapa lama proses perizinan pembangunan di Sydney?
    A: Untuk proyek besar seperti Roselands, proses Development Application (DA) dapat memakan waktu 18‑24 bulan.
  • Q: Apa keuntungan membangun rumah tapak dibandingkan high‑rise di Sydney?
    A: Rumah tapak selesai lebih cepat (12‑16 bulan) sehingga mempercepat perputaran modal dan mengurangi exposure terhadap risiko suku bunga.
Meow! Tanya Nesi!
😸