Freeport Grasberg Masih Terjebak 65% Kapasitas, Produksi Emas Tembaga Rontok 50% Setelah Mud Rush 2025

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Freeport Grasberg Masih Terjebak 65% Kapasitas, Produksi Emas Tembaga Rontok 50% Setelah Mud Rush 2025
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Produksi emas Freeport Indonesia semester I‑2026 hanya 276.000 ons, turun lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya akibat mud rush September 2025.
  • Produksi tembaga menyusut menjadi 300 juta pon, jauh di bawah target tahunan karena proses pemrosesan bijih masih terhambat selama fase remediasi.
  • Manajemen menargetkan kapasitas operasi kembali mencapai 65% pada paruh kedua 2026, 80% pertengahan 2027, dan penuh akhir 2027 jika infrastruktur Grasberg pulih sepenuhnya.

Jakarta, CNBC Indonesia – Freeport-McMoRan (FCX) melaporkan realisasi produksi tembaga dan emas PT Freeport Indonesia (PTFI) sepanjang Semester I‑2026, menegaskan bahwa kinerja masih terpengaruh oleh insiden luapan lumpur atau mud rush yang terjadi September 2025 lalu.

President dan Chief Executive Officer Kathleen Quirk menjelaskan dalam laporan capaian tengah tahun bahwa tim Freeport telah mempercepat operasional secara bertahap untuk mengembalikan tingkat produksi sesuai rencana kerja tahunan. Ia menambahkan, "Tim Freeport mencapai hasil yang kuat pada kuartal kedua, didukung oleh pelaksanaan rencana operasi kami yang solid dan harga yang menguntungkan bagi produk kami. Kami mencatat kemajuan yang stabil dalam peningkatan operasional di Grasberg."

Angka produksi emas PTFI pada enam bulan pertama 2026 tercatat sebesar 276.000 ons, menurun drastis dari 595.000 ons pada Semester I‑2025. Sementara itu, produksi tembaga berada di 300 juta pon, menyusut dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar 655 juta pon.

Penurunan volume ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pemrosesan bijih selama fase remediasi dan restorasi infrastruktur tambang Grasberg (Blok Produksi 2 dan 3). Namun, laporan mencatat bahwa pekerjaan di Blok Produksi 2 dan 3 telah selesai, sehingga aktivitas penambangan mulai meningkat sejak akhir Maret 2026.

"Setelah insiden luapan lumpur eksternal pada September 2025, PTFI telah memajukan serangkaian aktivitas untuk menangani insiden tersebut dan tetap fokus pada peningkatan kapasitas operasional yang aman dan berkelanjutan," tulis laporan itu. Perusahaan memperkirakan tingkat produksi PTFI secara keseluruhan akan mendekati 65% pada paruh kedua tahun 2026, 80% pada pertengahan 2027, dan mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2027.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bahwa penurunan produksi Freeport tidak hanya merupakan gangguan operasional singkat, tetapi juga mencerminkan ketentuan struktural yang lebih luas dalam sektor pertambangan Indonesia. Insiden mud rush September 2025 menimbulkan kerusakan infrastruktur kritis yang memaksa PTFI melakukan remediasi yang mahal dan memakan waktu, yang pada gilirannya menekan kapasitas pemrosesan bijih dan menurunkan rasio recovery. Dampak ini terlihat jelas dalam angka produksi yang hampir terpotong setengah, menandakan bahwa perusahaan masih berada dalam fase stabilisasi bukan pertumbuhan.

Dari perspektif makro, penurunan output tembaga dan emas Freeport berimplikasi signifikan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Tembaga, sebagai komoditas ekspor utama, menyumbang sekitar 12% nilai ekspor non‑migas negara. Penurunan 54% volume tembaga pada semester pertama 2026 berpotensi menurunkan pendapatan devisa asing sebesar beberapa miliar dolar, yang pada gilirannya bisa menekan nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh peningkatan ekspor sektor lain atau kebijakan fiskal yang lebih ekspansif.

Namun, ada cahaya di ujung terowongan. Pemulihan yang diproyeksikan — 65% kapasitas paruh kedua 2026, 80% pertengahan 2027, dan penuh akhir 2027 — menunjukkan bahwa manajemen memiliki roadmap realistis yang didasarkan pada penyelesaian remediasi Blok Produksi 2 dan 3 serta peningkatan sistem pengolahan bijih. Jika target tercapai, Freeport bisa kembali menyumbang kontribusi yang signifikan terhadap PDB sektor pertambangan, yang pada tahun 2024 mencapai sekitar 7,5% total PDB.

Saya menyarankan investor dan pemangku kepentingan untuk memantau tiga indikator kunci: (1) tingkat recovery bijih di pabrik pengolahan Grasberg, (2) realisasi investasi remediasi dalam bentuk capex tahunan, dan (3) dinamika harga komoditas internasional (tembaga dan emas) yang masih menguntungkan. Jika ketiga faktor ini berjalan sesuai rencana, risiko downside produksi dapat diminimisasi dan Freeport mungkin kembali menjadi salah satu pilar stabilitas devisa asing Indonesia dalam periode pasca‑pandemi dan pasca‑krisis lingkungan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa produksi emas dan tembaga Freeport turun lebih dari 50%?
    A: Penurunan disebabkan oleh insiden mud rush September 2025 yang mengganggu infrastruktur tambang dan memproses bijih pada tingkat rendah selama fase remediasi.
  • Q: Kapan Freeport memperkirakan kembali mencapai kapasitas penuh?
    A: Perusahaan menargetkan 65% kapasitas paruh kedua 2026, 80% pertengahan 2027, dan kapasitas penuh akhir 2027 jika infrastruktur Grasberg pulih sepenuhnya.
  • Q: Apa dampak makro dari penurunan produksi Freeport terhadap ekonomi Indonesia?
    A: Penurunan output tembaga dan emas dapat menekan pendapatan devisa asing dan nilai tukar rupiah, mengingat tembaga menyumbang sekitar 12% ekspor non‑migas negara.
Meow! Tanya Nesi!
😸