Stok Beras Aman, Zulhas Minta Bulog Operasi Pasar: Langkah Penurunan Harga yang Efektif?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Stok beras nasional mencapai 5,2 juta ton, dianggap cukup aman.
- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan minta Bulog lakukan operasi pasar untuk menurunkan harga beras yang sedang merangkak naik.
- Penggunaan dana APBD untuk subsidi pasar murah diminta kepada gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia.
Makassar, 4 Agustus 2026 – Menteri Koordinator Bidang Pangan, yang akrab disapa Zulhas, menegaskan bahwa persediaan beras nasional berada pada level aman, yakni sekitar 5,2 juta ton. Namun, ia mengakui bahwa harga beras di pasar domestik mulai merangkak naik, memicu kekhawatiran akan beban pada konsumen.
“Stok beras cukup, bahkan berlebih. Karena harga-harga lagi naik, saya minta Bulog segera melakukan operasi pasar,” kata Zulkifli Hasan dalam konferensi pers di Makassar. Ia menambahkan bahwa operasi pasar bertujuan menurunkan harga beras dan meringankan beban rumah tangga, terutama yang berada di lapisan ekonomi paling rentan.
Selain menekan harga melalui penjualan stok pemerintah, Zulhas mengimbau pemerintah daerah—gubernur, bupati, dan wali kota—untuk mengalokasikan sebagian anggaran APBD ke program pasar murah sembako. “Kasihan rakyat kita kalau harganya mahal,” ujarnya, menekankan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah dalam menjaga keterjangkauan pangan.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menurunkan harga beras, tetapi juga menstabilkan daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi global dan fluktuasi nilai tukar yang masih tinggi.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, operasi pasar yang diminta Zulhas merupakan kebijakan intervensi permintaan yang bersifat jangka pendek. Dengan menurunkan stok beras yang “terlalu banyak” ke pasar, pemerintah dapat menurunkan harga spot, namun efeknya akan terbatas bila tidak diiringi dengan perbaikan rantai pasok jangka panjang. Jika stok terus dipasarkan secara agresif, risiko terjadinya penurunan harga yang berlebihan dapat memicu penurunan produksi petani, mengingat margin keuntungan mereka yang tipis.
Selanjutnya, alokasi dana APBD untuk subsidi pasar murah harus dipertimbangkan dengan cermat. Subsidi yang tidak terarah dapat menimbulkan distorsi harga dan menurunkan efisiensi pasar. Pendekatan yang lebih tepat adalah menyalurkan bantuan langsung kepada rumah tangga berpendapatan rendah melalui program bantuan sosial yang terintegrasi, sehingga subsidi tidak “bocor” ke konsumen yang tidak membutuhkan.
Dari perspektif kebijakan pangan, koordinasi antara Bulog dan pemerintah daerah harus didukung oleh data real‑time tentang stok, permintaan, dan harga regional. Sistem informasi yang terintegrasi akan memungkinkan penyesuaian volume penjualan yang lebih akurat, menghindari over‑supply di satu wilayah yang dapat menurunkan harga secara drastis, sementara wilayah lain masih mengalami kelangkaan.
Terakhir, dalam konteks inflasi global, tekanan pada harga pangan tidak dapat diatasi hanya dengan operasi pasar domestik. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan agrikultur, seperti meningkatkan produktivitas melalui teknologi pertanian, memperluas akses kredit bagi petani, dan mengoptimalkan logistik distribusi. Tanpa langkah struktural ini, intervensi jangka pendek akan menjadi “obat sementara” yang harus terus diulang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu operasi pasar yang diminta Bulog?
A: Operasi pasar adalah penjualan stok beras pemerintah ke pasar terbuka untuk menurunkan harga spot dan menstabilkan pasokan. - Q: Berapa banyak stok beras yang dimiliki Indonesia saat ini?
A: Sekitar 5,2 juta ton, yang dianggap cukup aman untuk memenuhi kebutuhan nasional. - Q: Bagaimana subsidi pasar murah akan dibiayai?
A: Pemerintah daerah diminta mengalokasikan sebagian anggaran APBD untuk subsidi sembako, khususnya bagi rumah tangga berpendapatan rendah.


