Gempa M 5,7 Guncang Utara Ternate, Warga Diminta Waspada Gempa Susulan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitude 5,7 terjadi pada 04 Agustus 2026 pukul 23.16 WIB di kedalaman 10 km, berpusat 127 km barat laut Ternate, Provinsi Maluku Utara. Guncangan terasa hingga beberapa wilayah di Pulau Ternate, Ternate Selatan, dan bagian timur Pulau Halmahera.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga saat ini belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa. Tim SAR dan petugas BMKG terus memantau situasi, sementara pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, memeriksa kondisi bangunan, dan menyiapkan perlengkapan darurat.
Gempa ini terjadi pada zona tektonik kompleks Molucca Sea, di mana lempeng Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia berinteraksi. Aktivitas seismik di wilayah ini memang tinggi, namun gempa dengan magnitude di atas 6,0 jarang terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan.
Sejumlah stasiun seismik di sekitar Ternate melaporkan intensitas gempa mencapai III pada skala Modified Mercalli, yang menandakan getaran terasa di dalam bangunan namun tidak menimbulkan kerusakan struktural. Pihak berwenang menegaskan bahwa potensi tsunami akibat gempa ini sangat rendah mengingat kedalaman fokus yang relatif dangkal dan arah pergerakan lempeng yang tidak mengarah ke laut terbuka.
Analisis Pakar Geofisika
Wilayah Ternate berada di atas patahan utama, yaitu Patahan Molucca (Molucca Fault) yang memotong Pulau Ternate secara timur‑barat. Patahan ini merupakan bagian dari sistem sesar kompleks yang menghubungkan zona subduksi Banda Sea dengan zona tektonik Sulawesi. Sejarah seismik menunjukkan bahwa daerah ini pernah mengalami gempa berkekuatan 6,2 pada tahun 1998 dan 6,5 pada tahun 2010, keduanya menimbulkan kerusakan infrastruktur dan evakuasi massal.
Secara ilmiah, gempa M 5,7 ini kemungkinan merupakan hasil pelepasan energi pada segmen sesar yang belum sepenuhnya terkunci. Karena kedalaman fokus yang dangkal, energi gempa dapat terasa kuat di permukaan, namun tidak cukup untuk memicu tsunami signifikan. Namun, potensi gempa susulan (aftershock) tetap ada, dengan probabilitas sekitar 30% terjadi dalam 24 jam ke depan, biasanya dengan magnitude di bawah 5,0.
Para ahli menyarankan agar masyarakat tetap waspada, terutama di daerah pesisir yang rawan longsor atau kenaikan permukaan air laut sementara. Pemerintah daerah diimbau memperkuat bangunan tahan gempa, memperbaharui peta bahaya, dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko pada kejadian seismik berikutnya.