Israel Tolak Rencana Pelucutan Senjata Hamas yang Didorong AS: Ketegangan Memuncak di Gaza
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari Gaza sebelum Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya.
- Hamas mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Board of Peace, inisiatif yang diprakarsai oleh mantan Presiden Donald Trump Trump, namun menekankan syarat penempatan International Stabilization Force dan penghentian operasi militer Israel.
- Kedua belah pihak memperingatkan bahwa pelanggaran syarat dapat menggagalkan proses gencatan senjata yang telah disepakati pada Oktober lalu.
Juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, menyampaikan kepada Associated Press pada Minggu (2/7) bahwa Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan dari Gaza sebelum Hamas melucuti semua senjata secara fisik. "Jika kami menarik pasukan sebelum Hamas benar‑benar dilucuti, mereka akan dengan cepat memperluas kehadirannya di seluruh Gaza dan melancarkan serangan lain seperti yang terjadi pada 7 Oktober," ujarnya.
Menurut Spielman, pelucutan senjata tidak memiliki definisi alternatif; harus berupa penyerahan senjata secara nyata. Sementara itu, senior Hamas Ghazi Hamad mengonfirmasi bahwa kelompoknya telah mencapai kesepakatan dengan Board of Peace (BoP), badan yang dibentuk oleh mantan Presiden Donald Trump Trump untuk menengahi konflik di Jalur Gaza.
Hamad menegaskan kepada CNN bahwa keputusan Hamas untuk melucuti senjata bergantung pada dua syarat utama: penempatan International Stabilization Force di Gaza dan kepatuhan penuh Israel terhadap semua kewajiban dalam perjanjian gencatan senjata Oktober. "Kami tidak akan memulai langkah apa pun terkait persenjataan sebelum Israel melaksanakan komitmennya. Jika Israel tidak melaksanakannya, kami juga tidak akan melanjutkan proses ini," katanya pada Jumat (31/7).
Hamad menambahkan bahwa Israel harus menghentikan seluruh operasi militer, mengakhiri semua pembunuhan di Gaza, dan menarik pasukannya hingga ke Yellow Line sebagaimana diatur dalam perjanjian gencatan senjata Oktober sebelum Hamas bersedia melucuti senjata.
Analisis Pakar
Ketegangan yang kini memuncak mencerminkan kegagalan diplomasi tradisional dalam menengahi konflik Israel‑Palestina. Upaya Board of Peace yang dipimpin oleh mantan Presiden Donald Trump menandai pendekatan luar biasa, namun tanpa dukungan kuat dari pihak-pihak utama, inisiatif tersebut berisiko menjadi simbol kegagalan lebih lanjut. Penempatan International Stabilization Force di Gaza, meski secara teoritis dapat menurunkan tingkat kekerasan, menimbulkan pertanyaan tentang mandat, keabsahan, dan potensi resistensi dari kedua belah pihak.
Dari perspektif keamanan Israel, penarikan pasukan sebelum Hamas menyerahkan senjata dapat menciptakan celah strategis yang memungkinkan kelompok militan memperkuat jaringan mereka kembali. Namun, menahan pasukan di Gaza tanpa adanya jaminan keamanan yang memadai berpotensi memperpanjang konflik, meningkatkan beban kemanusiaan, dan menurunkan legitimasi internasional Israel. Kebijakan ini menyoroti dilema klasik antara keamanan nasional dan tekanan internasional untuk mengakhiri operasi militer.
Di sisi lain, Hamas menempatkan syarat‑syarat yang tampak keras namun realistis: penghentian total operasi militer Israel dan penarikan pasukan ke Yellow Line. Syarat ini tidak hanya menuntut kepatuhan Israel, tetapi juga menegaskan posisi tawar Hamas dalam negosiasi. Jika Israel menolak, Hamas dapat menggunakan kegagalan tersebut untuk memperkuat narasi perlawanan, meningkatkan dukungan domestik, dan menarik simpati internasional.
Secara keseluruhan, dinamika ini menegaskan bahwa solusi jangka panjang memerlukan lebih dari sekadar kesepakatan teknis. Diperlukan mekanisme pengawasan yang kredibel, jaminan keamanan bagi kedua belah pihak, serta komitmen politik yang konsisten dari Amerika Serikat dan sekutu‑sekutunya. Tanpa elemen‑elemen tersebut, setiap kesepakatan pelucutan senjata berisiko menjadi sementara dan rawan kegagalan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang dimaksud dengan International Stabilization Force dalam konteks Gaza?
A: Merujuk pada pasukan multinasional yang diusulkan untuk menegakkan keamanan dan mengawasi pelaksanaan gencatan senjata serta proses pelucutan senjata di Gaza. - Q: Siapa yang memprakarsai Board of Peace dan apa
BERITA TERKAIT (Dunia)

Momen Canggung Raja Charles di Antigua: Kehujanan dan Mencari Payung di Parade Kemerdekaan

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik
