Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M4,5 Guncang 188 km Barat Abepura, BMKG Pantau Potensi Dampak

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M4,5 Guncang 188 km Barat Abepura, BMKG Pantau Potensi Dampak
BAGIKAN:

BMKG mencatat gempa bumi pada 2 Agustus 2026 pukul 00:26 WIB dengan magnitudo 4,5 yang berpusat 188 km barat Abepura, Papua. Kedalaman gempa diperkirakan sekitar 10 km, menandakan pergerakan tektonik yang relatif dangkal.

Menurut laporan awal, gempa tidak menimbulkan kerusakan struktural signifikan dan tidak ada laporan korban jiwa. Masyarakat di sekitar wilayah Abepura melaporkan merasakan getaran ringan, terutama pada malam hari ketika aktivitas manusia berkurang.

BMKG menegaskan bahwa gempa dengan magnitudo di bawah 5,0 biasanya tidak menimbulkan tsunami. Namun, lembaga tersebut tetap memantau potensi gelombang laut abnormal selama 24 jam ke depan sebagai langkah antisipatif.

Wilayah Papua terletak di zona interaksi kompleks antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Aktivitas tektonik di daerah ini menghasilkan serangkaian sesar utama, termasuk sesar transformasi dan sesar subduksi yang berpotensi menghasilkan gempa berulang.

Sejarah seismik menunjukkan bahwa wilayah barat Abepura pernah mengalami gempa berkekuatan lebih tinggi, seperti gempa M6,2 pada tahun 2019 yang menimbulkan kerusakan terbatas, serta gempa M5,8 pada tahun 2009 yang memicu peringatan tsunami meskipun tidak berujung pada gelombang tinggi. Contoh lain yang relevan adalah gempa M4,9 di Barat Abepura.

Analisis Pakar Geofisika

Gempa M4,5 ini kemungkinan terkait dengan sesar transformasi yang melintang di zona patahan Papua Barat, yang menghubungkan sistem sesar utama di Pegunungan Bintang dengan zona subduksi di lepas pantai. Sesar transformasi ini bergerak secara horizontal, menghasilkan gempa dangkal dengan energi yang terbatas pada permukaan.

Data seismik historis mengindikasikan bahwa zona ini mengalami akumulasi stres tektonik secara periodik, yang dapat memicu gempa susulan (aftershock) dalam rentang waktu beberapa hari hingga minggu. Meskipun gempa M4,5 tidak cukup kuat untuk memicu tsunami, sesar subduksi di lepas pantai Papua tetap menjadi sumber potensial tsunami jika terjadi pergeseran vertikal yang signifikan.

Para ahli menyarankan pemantauan berkelanjutan terhadap aktivitas seismik di wilayah ini, terutama pada kedalaman 10–30 km, di mana akumulasi energi dapat memicu gempa dengan magnitudo lebih tinggi. Masyarakat di daerah pesisir disarankan untuk tetap waspada terhadap peringatan dini BMKG dan mengikuti prosedur evakuasi jika peringatan tsunami dikeluarkan.

Meow! Tanya Nesi!
😸