Gempa Magnitudo 5.2 Guncang ENE Masohi, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5.2 terjadi pada 31 Juli 2026 pukul 23:19:26 WIB, berpusat 141 km ENE (timur laut‑timur) kota Masohi, Provinsi Maluku. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kedalaman hiposenter 10 kilometer dan mengonfirmasi bahwa gempa tidak menimbulkan peringatan tsunami.
Menurut laporan awal dari Satgas Penanggulangan Bencana Daerah, getaran terasa di beberapa wilayah Maluku Tengah dan Maluku Utara, namun tidak ada laporan kerusakan struktural maupun korban jiwa. Tim SAR dan pemadam kebakaran setempat telah dikerahkan untuk memantau potensi dampak lanjutan, sementara pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Wilayah Masohi terletak di zona interseksi lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, yang dikenal sebagai Palung Sunda‑Maluku. Aktivitas tektonik di daerah ini dipengaruhi oleh sistem patahan kompleks, termasuk patahan Seram‑Buru dan zona subduksi di selatan. Sejarah gempa menunjukkan bahwa wilayah ini secara periodik mengalami gempa berkekuatan menengah hingga kuat, dengan kejadian signifikan pada tahun 1999 (M 6.5) dan 2018 (M 6.1) yang menimbulkan kerusakan terbatas.
Analisis Pakar Geofisika
Patahan utama yang berperan dalam gempa ini adalah patahan Seram‑Buru, sebuah zona sesar transform yang menghubungkan lempeng tektonik utama di wilayah Maluku. Patahan ini memiliki panjang sekitar 250 km dan menunjukkan pergerakan lateral dengan kecepatan rata‑rata 2–3 cm per tahun. Sejarah seismik mengindikasikan akumulasi stres yang cukup signifikan, sehingga gempa berkekuatan menengah seperti yang terjadi baru-baru ini dapat menjadi pelepasan parsial dari energi tektonik yang terakumulasi.
Meski magnitudo 5.2 belum cukup untuk memicu tsunami, kedalaman dangkal hiposenter meningkatkan BERITA TERKAIT