Sepp Blatter Gertak FIFA: Piala Dunia Bukan Barang Dagangan!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Ringkasan Singkat
- Sepp Blatter menegaskan Piala Dunia adalah warisan suci, bukan aset komersial.
- Gianni Infantino berencana menjual saham FIFA kepada investor, menargetkan dana Rp723 miliar.
- Deadline keputusan anggota FIFA ditetapkan 19 September 2026, memicu perdebatan sengit.
Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang dunia sepak bola, mantan presiden Sepp Blatter melontarkan kritik tajam terhadap rencana FIFA di bawah komando Gianni Infantino. Blatter menolak keras gagasan menjual saham FIFA yang mencakup kompetisi bergengsi, termasuk Piala Dunia. Menurutnya, trofi tersebut bukan sekadar barang komersial yang dapat diperdagangkan demi keuntungan pribadi.
"Piala Dunia bukanlah aset komersial yang hanya dimiliki oleh jajaran eksekutif. Itu adalah bagian dari warisan sepak bola dunia," tegas Blatter, dikutip Reuters. Ia menegaskan bahwa peran FIFA hanyalah sebagai penjaga trofi, bukan pemilik hak mutlak yang dapat menjualnya ke pihak swasta.
Blatter, yang memimpin FIFA selama 17 tahun (1998‑2015), menambahkan, "FIFA adalah penjaga Piala Dunia, bukan pemiliknya." Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan kepemilikan dan pengelolaan turnamen paling bergengsi di planet ini.
Sementara itu, Infantino dan timnya tengah menggodok rencana penjualan saham dengan janji pendanaan sebesar Rp723 miliar bila proposal disetujui. Setiap negara anggota FIFA diberikan batas waktu hingga 19 September 2026 untuk memberikan suara mereka.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat olahraga yang telah menyaksikan evolusi sepak bola selama tiga dekade, saya melihat dua sisi tajam dalam konflik ini. Di satu sisi, nilai historis Piala Dunia memang tak ternilai; trofi itu melambangkan perjuangan, identitas, dan mimpi jutaan pemain serta fans. Menjualnya ke tangan swasta berpotensi merusak aura suci yang selama ini melindungi kompetisi.
Namun, tak dapat dipungkiri bahwa FIFA menghadapi tantangan keuangan yang semakin kompleks. Pendapatan dari hak siar, sponsor, dan teknologi baru menuntut investasi besar. Jika penjualan saham dapat mengamankan dana Rp723 miliar, itu bisa menjadi suntikan vital untuk pengembangan infrastruktur, program grassroots, dan inovasi VAR yang masih kontroversial.
Strategi Infantino tampaknya mengadopsi model public‑private partnership yang berhasil di liga-liga top Eropa. Namun, perbedaan utama terletak pada simbolisme Piala Dunia yang jauh lebih sensitif dibandingkan hak siar klub. Oleh karena itu, transparansi dalam proses penjualan dan jaminan bahwa trofi tetap berada di bawah kendali FIFA sangat penting.
Jika keputusan anggota FIFA condong pada penjualan, saya memperkirakan akan muncul mekanisme pengawasan independen untuk melindungi integritas kompetisi. Sebaliknya, penolakan total dapat memaksa FIFA mencari sumber pendanaan alternatif, seperti peningkatan pajak sponsor atau kolaborasi dengan lembaga internasional. Kedua skenario menuntut kepemimpinan yang visioner dan berani.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Sepp Blatter menolak penjualan saham FIFA?
A: Karena ia melihat Piala Dunia sebagai warisan suci sepak bola yang tidak boleh diperdagangkan demi keuntungan komersial. - Q: Berapa besar dana yang dijanjikan jika penjualan saham disetujui?
A: Sekitar Rp723 miliar, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan kompetisi dan infrastruktur FIFA. - Q: Kapan batas akhir keputusan anggota FIFA?
A: 19 September 2026, setelah itu keputusan final akan diambil berdasarkan hasil voting.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Pramono Anung Jamin Integritas JIS: 15 Konser Besar Mengalun, Hak Penama Ditawarkan, Kandang Persija Tetap Prioritas

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska
