Prabowo Target Bangun 3 Juta Rumah Setahun: Belajar dari Kejayaan India

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Prabowo Target Bangun 3 Juta Rumah Setahun: Belajar dari Kejayaan India
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto mengumumkan studi intensif untuk menutup backlog perumahan nasional yang mencapai 9,9 juta unit.
  • India dijadikan contoh karena berhasil menyelesaikan 40 juta rumah dalam 12 tahun (≈3 juta rumah per tahun).
  • Acara penandatanganan 62.000 KPR subsidi di Batang menandai komitmen pemerintah dengan alokasi Rp880 miliar.

Presiden Prabowo Subianto mengakui bahwa pencapaian program perumahan saat ini memang patut diapresiasi, namun kebutuhan akan hunian masih jauh melampaui pasokan. Dalam acara akad massal 62.000 unit Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Subsidi dan penyaluran KUR Perumahan senilai Rp880 miliar di Kabupaten Batang, Kamis (30/7/2026), ia menegaskan pemerintah tengah meneliti model inovatif yang dapat mempercepat pembangunan rumah.

Prabowo menyoroti India sebagai benchmark strategis. Negara tersebut berhasil menyiapkan sekitar tiga juta unit rumah setiap tahunnya, total 40 juta unit dalam 12 tahun. “Saya tertarik pada pengalaman India. Kami sedang mempelajari teknik‑teknik mereka, baik dari sisi kebijakan, pembiayaan, hingga teknologi konstruksi,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kita harus berani mengadopsi praktik terbaik, mengambil risiko, dan berinovasi.” Prabowo menekankan pentingnya dukungan kebijakan yang terintegrasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit pada 2023. Dengan target ambisius ini, pemerintah diproyeksikan perlu menambah kapasitas pembangunan setidaknya tiga kali lipat dibandingkan rata‑rata tahunan saat ini. Pendekatan yang diusulkan mencakup skema pembiayaan mikro, kemitraan publik‑swasta, serta adopsi material prefabrikasi yang lebih murah dan cepat dipasang.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, upaya meniru skala pembangunan perumahan India menuntut sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi. Pemerintah harus memastikan aliran likuiditas yang cukup ke sektor konstruksi tanpa menimbulkan tekanan inflasi. Salah satu cara adalah memperluas skema KPR subsidi dengan suku bunga yang kompetitif, sekaligus mengoptimalkan dana KUR untuk developer kecil yang berpotensi meningkatkan output rumah terjangkau.

Namun, meniru angka produksi India bukan sekadar soal kuantitas. Kualitas bangunan, kepatuhan standar keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan harus menjadi pilar utama. Penggunaan material prefabrikasi dan teknologi digital (BIM, modular construction) dapat memangkas waktu siklus proyek hingga 30‑40 %, namun memerlukan investasi awal yang signifikan dan pelatihan tenaga kerja.

Risiko utama terletak pada koordinasi lintas‑lembaga. Tanpa regulasi yang jelas mengenai alokasi lahan, izin pembangunan, dan pengawasan mutu, proyek berskala besar dapat berujung pada “rumah kosong” atau “rumah tidak layak huni”. Pemerintah perlu memperkuat kerangka perizinan terpadu (One‑Stop Service) serta memperkenalkan insentif pajak bagi developer yang memenuhi standar keberlanjutan.

Terakhir, faktor permintaan harus dipertimbangkan. Dengan pertumbuhan pendapatan per kapita yang masih terhambat oleh inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, daya beli masyarakat belum sepenuhnya siap menyerap volume rumah baru. Oleh karena itu, skema subsidi harus disasar secara tepat pada segmen rumah miskin‑menengah, sambil mendorong program tabungan perumahan (seperti BRIS) untuk meningkatkan partisipasi pembeli potensial.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak rumah yang harus dibangun Indonesia tiap tahun untuk menutup backlog 9,9 juta unit?
    A: Dengan asumsi target 10 tahun, diperlukan sekitar 1 juta unit per tahun; target ambisius 3 juta unit per tahun seperti India akan menutup backlog dalam 3‑4 tahun.
  • Q: Apa saja tantangan utama dalam mengadopsi model pembangunan rumah India?
    A: Tantangan meliputi pembiayaan skala besar, regulasi lahan, kualitas konstruksi, serta kesiapan pasar domestik untuk menyerap volume rumah baru.
  • Q: Bagaimana KPR subsidi dan KUR dapat mempercepat penyediaan rumah terjangkau?
    A: Kedua skema menyediakan likuiditas bagi pembeli dan developer; dengan suku bunga rendah dan tenor panjang, mereka menurunkan beban biaya perumahan dan meningkatkan daya beli konsumen.
Meow! Tanya Nesi!
😸