Pemadaman Listrik di Kalsel & Kalteng: Penyebab, Solusi, dan Dampak Bisnis
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- 3 pembangkit besar di KalimantanSelatan dan Kalteng sedang dalam perbaikan simultan, memicu pemadaman bergilir.
- Unit-unit PLTU di Gunung Mas, TPI, dan Asam‑Asam diperkirakan kembali normal antara 5‑30 Agustus 2026.
- Gubernur Muhidin meminta publik beri ruang bagi PLN, sambil menyiapkan kontinjensi bisnis.
Gubernur Muhidin dan General Manager PLN Iwan Soelistijno mengungkapkan penyebab pemadaman listrik yang melanda wilayah KalimantanSelatan dan Kalteng dalam beberapa minggu terakhir.
Iwan menjelaskan bahwa tiga pembangkit besar di kedua provinsi tersebut sedang menjalani perbaikan bersamaan. Di PLTU SLK Gunung Mas, Kalteng, satu unit berkapasitas 100 MW beroperasi normal, sementara unit kedua diproyeksikan kembali aktif pada 5 Agustus 2026. Di PLTU Tanjung Power Indonesia (TPI), Tabalong, unit 2 berkapasitas 100 MW telah kembali beroperasi penuh sejak 28 Juli 2026, melampaui target 30 Juli 2026. Sementara itu, PLTU Asam‑Asam di Kalsel masih dalam proses pemulihan; unit 3 (54 MW) dan unit 2 keduanya masih dalam perbaikan.
Gubernur Muhidin menegaskan bahwa perbaikan pembangkit ini diharapkan menghentikan pemadaman bergilir mulai 5 Agustus 2026. Ia menambahkan, “Insya Allah mulai awal Agustus kita tidak ada pemadaman, tetapi kita masih siaga.” Kondisi sistem kelistrikan diperkirakan kembali normal sepenuhnya setelah pemulihan PLTU Asam‑Asam selesai pada akhir Agustus 2026. Gubernur juga meminta masyarakat memberi kesempatan kepada PLN untuk menyelesaikan perbaikan agar pemadaman tidak terulang.
Keluhan warga Banjarmasin dan Palangkaraya tentang pemadaman berulang pada Juli menyoroti dampak langsung pada aktivitas rumah tangga dan sektor produktif, termasuk UMKM yang mengandalkan listrik stabil untuk operasional harian.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, gangguan pasokan listrik di dua provinsi kunci ini menambah tekanan pada rasio kapasitas listrik terhadap permintaan yang sudah berada di level kritis. Ketergantungan pada pembangkit batu bara berkapasitas besar meningkatkan risiko sistemik ketika satu atau lebih unit turun untuk perawatan. Dari perspektif bisnis, perusahaan manufaktur dan layanan berbasis energi di Kalimantan harus menyiapkan strategi mitigasi, seperti kontrak pasokan listrik cadangan atau investasi pada diesel generator berkapasitas menengah.
Selain itu, pemulihan yang dijadwalkan pada Agustus 2026 membuka peluang bagi pemain energi terbarukan. Pemerintah provinsi dapat memanfaatkan periode transisi ini untuk mempercepat proyek solar rooftop atau mini‑hydro yang dapat mengurangi beban pada PLTU konvensional. Investor yang menilai risiko regulasi akan melihat kebijakan insentif sebagai faktor penentu dalam alokasi modal.
Terakhir, komunikasi publik yang transparan—seperti yang dilakukan melalui Instagram resmi Pemprov—merupakan aset penting. Kepercayaan konsumen terhadap PLN akan memengaruhi persepsi risiko investasi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, perusahaan harus memperkuat hubungan stakeholder melalui laporan kinerja energi yang rutin dan terukur.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan pemadaman listrik di Kalsel dan Kalteng diperkirakan berakhir?
A: Pemadaman bergilir diharapkan selesai pada 5 Agustus 2026, dengan sistem kembali normal penuh akhir Agustus 2026. - Q: Unit pembangkit mana yang masih dalam perbaikan?
A: PLTU Asam‑Asam (unit 2 dan 3) di Kalsel serta unit 2 PLTU SLK Gunung Mas di Kalteng masih dalam proses pemulihan. - Q: Apa dampak pemadaman ini terhadap bisnis lokal?
A: Pemadaman mengganggu operasional UMKM, manufaktur, dan layanan berbasis listrik, memaksa mereka mencari sumber energi cadangan atau menyesuaikan jadwal produksi.


